Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Beginilah Seorang Jundi Seharusnya Bekerja

Beginilah Seorang Jundi Seharusnya Bekerja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comHal yang paling nyesek di hati itu, adalah ketika kita sudah merasa berpeluh dalam lelah untuk memberikan sedikti peran yang mampu dilakukan, kemudian datang salah satu ikhwah yang lain kemudian ia bercerita sudah begini dan begitu, sudah melakukan ini dan itu. Sedang kesemuanya itu belum sempat diri ini melakukannya. Semacam mupeng dan iri atas peran saudara yang sudah begitu banyak demi mewujudkan kemenangan di pemilu 2014. Tersadar, ternyata saya belum apa-apa.

Tapi biarkanlah, tetap istiqamah untuk bisa bekerja di wilayah kerja kita masing-masing tetaplah menjadi hal yang menenteramkan. Semua ada pos dan perannya. Itu yang perlu dimaksimalkan. Andai mereka, orang-orang yang begitu tidak sepakatnya melihat peran kami, Andai mereka tahu isi hati kami. Tentang kebahagiaan yang membuncah ketika mendapatkan peran, meski cuma sedikit. Mungkin mereka akan mulai berpikir ulang untuk mencintai dan bergabung bersama kami.

Karena memang beginilah seharusnya seorang jundi, bersiap untuk semua panggilan yang datang. Ada sedikit cerita, di suatu forum seorang ikhwah merasa tidak diundang, kemudian dia beranjak pamit saat acara dimulai. Akan tetapi sang Qiyadah tidak mengizinkannya pergi. Dia diminta tetap tinggal untuk ikut forum. Sang jundi sudah berusaha mengutarakan hajatnya, tapi tetap saja, izin tak didapat. Walhasil, kecewakah sang jundi? Tentu tidak. Ia siap tetap tinggal sampai forum selesai dan bahkan dia dapat amanah yang cukup besar, kemudian totalitas menjalankannya.

Di satu cerita yang lain, ada suatu acara yang membutuhkan bantuan satu tim. kemudian dihubungilah tim tersebut.

“Akhi, saya butuh bantuan untuk ngisi acara atraksi”

“Antum hubungi saja Pak Fulan, kami siap atas instruksi apapun dari beliau, kami di bawah komando beliau”

Padahal saya tahu tim ini lagi banyak banget gawean nya, dan belakangan saya ketahui bapak yang dimaksud tersebut adalah Qiyadah dari tim tersebut.

Maka beginilah, Jundi seharusnya merintis kerja, dalam bingkai harmoni dan cinta. Sebentar lagi hari akan berganti, semakin dekat menuju hari yang dinanti. 9 April 2014. Akan tetapi, sesungguhnya kemenangan dan pemenangnya sudahlah ada, ditetapkan jauh hari sebelum semua sistem demokrasi ini ada. Tapi bagi kami para jundi ini, tetaplah berkewajiban ambil peran untuk menjemputnya. Apapun partai yang anda pilih, tulus dan ikhlaslah dalam memperjuangkannya. Jangan hanya berdiam diri pada pilihan yang sudah tertanam di hati, ajak sebanyak-banyaknya orang untuk memilih partai yang anda anggap paling baik. Jangan menghalangi orang untuk memperjuangkan pilihannya. Tetap bekerja di wilayah kerjanya masing-masing. Kalau memang tidak sepakat di satu sisi, pastilah ada sisi lain yang bisa dikerjakan bersama. Ayok berbenah untuk negeri!

Pada saat hari yang dinanti itu benar-benar akan datang, maka kita semua akan semakin melewati hari-hari yang besar nan hebat. Kerja-Kerja dituntut untuk lebih padat dari hari biasanya sebelum masa ini benar-benar  tiba. Maka di partai manapun anda menjadi kader, atau sekedar simpatisan atau bahkan relawan sekalipun, tetaplah istiqamah memberikan pelayanan, jangan hanya menjelang pemilu, mainnya enggak cantik itu.

Akan tetapi bagi kami para jundi ini, tidak akan keberatan melewatinya, karena sesungguhnya sebelum inipun kami sudah terbiasa begini, dan bahkan saat hari yang dinanti itu benar-benar tiba, kemudian partai kami menang ataupun kalah, kerja ini tetap akan dilakoni. Dan bahkan setelah hari yang besar itu dilewati jauh hari setelahnya, saya kira kerja ini juga belum akan berhenti. Menang ataupun kalah, melayani tetaplah tugas utama kami.

Kami masih akan tetap rutin pekanan, kami masih akan tetap bekerja meski dalam senyap, kami masih akan berusaha lagi, dan lagi, dan laginya lagi. Karena harapan itu masih akan tetap ada. Di sini, di hati kami. Ada sakinah yang menggelora. Masa-masa sulit sudah terlalu sering kami lewati, hingga kami benar-benar lupa, yang mana rasa sakit dan yang mana bahagia. Ini semua bercampur aduk menjadi rasa yang tak akan pernah bisa terjemahkan oleh orang yang belum pernah mengalaminya. Rasa bangga bisa bergabung dalam barisan dakwah dan memperjuangkan islam di perhelatan akbar pemilu 2014. Semoga menjadi jalan jihad yang berbalas surga.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Perkuat Tentaranya di Perbatasan, Turki Permudah FSA Bersihkan Utara Suriah dari ISIS