Home / Pemuda / Essay / Antara Politik dan WC

Antara Politik dan WC

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

dakwatuna.com – Jum’at mubarak.. Sungguh kita bisa mengambil ibrah dari setiap kejadian. Dengan catatan “Jika kita termasuk orang yang berpikir”. Bukan suatu kebetulan saya tidak BAB di rumah pagi tadi, sudah nongkrong agak lama tapi tidak keluar. Perjalanan ke kantor berjalan dengan mulus, diawali dengan rutinitas seperti biasanya sebelum melakukan tugas kantor. Secara berangsur-angsur saya sudah mulai merasakan tanda-tanda mau keluar, maaf, BAB. Hingga pada akhirnya saya menuju ke WC. Alhamdulillah perjalanan menuju WC juga aman tidak ada halangan. Di sana ada 3 Kamar mandi yang di dalamnya ada WC, dua pintu tertutup dan menyisakan satu pintu yang terbuka. Saat masuk ke Kamar mandi saya terkejut bukan main, karena ada kotoran yang belum dibersihkan secara sempurna oleh pengguna sebelumnya. Saya mencoba menyentor untuk membersihkannya, tetapi hasilnya asih sama. Agaknya ada sedikit gangguan dengan WC tersebut. Alhamdulillah tak berselang lama pintu kamar mandi satunya terbuka dan pengguna sudah keluar.

Seperti biasanya Kamar mandi yang ada WC nya adalah tempat inspirasi yang paling banyak selama ini. Selama saya menuntaskan hajat saya, saya masih kepikiran dengan kamar mandi yang kotor itu. Saya mempunyai persamaan antara WC dan Negeri ini. Eee tanya kenapa? Karena untuk memilih pemimpin negeri ini harus melewati sebuah makanan yang namanya “Politik”. Kata sebagian orang, “Politik itu kotor” jadi tak salah kan kalau saya juga menyamakan dengan WC? “Politik = WC”

Secara kemanusiaan bagi yang masih punya jiwa manusia, maka WC itu sangat diperlukan bagi kita. Coba saja jika tidak ada WC, pasti akan sangat mengerikan negeri kita ini.

Nah, karena kita mengetahui akan pentingnya WC bagi MANUSIA, maka selayaknya kita juga menjaga kebersihan agar nyaman dan enak untuk digunakan. Kalau WC itu kotor maka layaklah kita membersihkannya. kalau tidak kita mau siapa lagi? Oh iya ya ada pembantu,. Akan tetapi bukankah pembantu juga manusia??.. jadi atas nama kemanusiaan manusia juga wajib menjaga kebersihan WC kan?

Jika politik dinilai sebagai hal yang kotor layaknya WC, maka jika kita membiarkan kotor tanpa mau ikut membersihkan, lalu mau siapa lagi? Katanya ndak mau dipimpin oleh pemimpin yang zhalim,.. membantu membersihkan saja kok sulit. Setidaknya ndak usah bawel menghina orang yang mau bersih-bersih WC, eh salah, bersih-bersih negeri.

Secara simple saya akan menggambarkannya seperti ini. Ada 3 tipe manusia. Ingat!! yang saya sampaikan ini tentang manusia saja, bukan yang lain. Di peristiwa yang sama ketiga orang itu mempunyai reaksi berbeda-beda ketika mendapati WC yang masih terapung kotoran.

Orang pertama sangat jijik dengan WC tersebut dan berkata “Ih, WC nya kotor, saya ndakk mau masuk nanti saya kotor, karena saya mau ke masjid dan beribadah di sana!!”

Orang kedua sangat semangat sekali membersihkan, tapi sayangnya hanya dengan suara saja “Bersihkan WC tu yang bersih, sisi ini disikat, pakai pembersih WC biar kinclong dan diberikan pewangi agar bersih”. Tapi sayangnya tangannya masih rapi terlipat di saku celana.

Orang ketiga beraksi, mungkin walaupun sedikit terpaksa orang ketiga itu langsung mengambil sikat dan tangan lain sambil menyentorkan air dengan gayung. Dengan keterpaksaan orang ketiga itu membersihkan, tetapi di tengah-tengah ternyata dia menghayatinya dan dengan senang hati orang ketiga ini membersihkan sampai kinclong. Yah, mungkin tidak begitu bersih dan wangi sekali, tetapi setidaknya cukup menyelamatkan hajat manusianya dan menggunakannya dengan nyaman.. Kemudian setelah selesai membersihkan dengan senyum yang mengembang di wajahnya dia bersih-bersih diri membersihkan peluh dan kotoran yang menempel,

Setelah menyelesaikan hajatnya, maka dia segera keluar. Dan seperti banyak kata Orang “Tempat yang melegakan setelah kita keluar darinya adalah WC”. Dan satu kisah lanjutan yang mengejutkan. Ternyata secara diam-diam orang pertama dan kedua itu antri di depan pintu untuk menunaikan hajatnya yang tertunda. heuuuuu

Well, kita  memang berada di negara yang sama. Negara yang kata banyak orang banyak muslim yang menghuni di negeri tersebut. Kalaulah pemimpin yang memimpin bukan kriteria dari ajaran Islam, maka pantaskah kita hanya menonton, mengolok-olok orang yang tersungkur? Tak dipungkiri bahwasanya kita menggunakan uang yang ada gambar “Garuda”, Tak dipungkiri juga bahwasanya kita juga harus mempunyai KTP yang berlogo Garuda juga.

Kalau ndak mau membersihkan ya jangan ngajak-ngajak golput dan menghina pekerja itu. Bantulah dia,. Setidaknya dalam doamu yang khusyuk di masjid yang sering kau sambangi. Kita juga mendoakan juga kok kalau-kalau pada akhirnya politisi yang dihusung itu menghasilkan sesuatu yang menguntungkan buatmu. Dan tentunya kalau mau menggunakan WC semaumu juga akan kita perbolehkan. Asal ingat saja. Ketidaksukaanmu itu jangan kau tularkan kepada yang lain. Cukup kau dengan Tuhanmu saja.

JANGAN GOLPUT ya guys… Golput membuat kita hanya bisa menahan hajat BAB  .. ya solusinya bawa batu saja untuk kau genggam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Hana Hasanah
Blasteran Kebumen dan Klaten, dan akhirnya diputuskan untuk menghabiskan masa kecilnya di Klaten. Bercita-cita menjadi penulis dan pengen ke Jepang.
  • Salimah Klaten Selatan

    dengan tidak golput, maka setidaknya ada solusi ketika mati lampu. Bukannya mengutuk kegelapan, maupun menjadi penonton menunggu seseorang untuk menyalakan lampu.

    • abu syahdan

      Dengan menjadi golput berarti memberi kesempatan kelompok lain menang tanpa perang. Iya kalau kemenangannya menjadi maslahat buat umat tapi kalau kemenangannya menjadi mudharat. Apa bukan mustahil kita turut andil untuk berbuat tidak adil atas “ke-golput-an” kita.

  • Juned Juniyanti

    Kalau di parlemen yang ada orang-orang yang ndak ngerti agama,, bisa kita lihat UU yang di hasilkan sepeti apa?? bisa jadi UU yang ada akan memojokan islam, bersyukur kita ada temen yang masih mau berjuang di lahan yang kotor namun masih tetap menjaga diri dari najis. orang seperti itulah yang kita pilih,,, klw orang yang baik-baik yang mendominasi parlemen isnya’allah negeri ini juga ikut baik.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Berpolitik itu Jejak Sikap

Organization