Home / Berita / Profil / Habibie, Penyandang Difabel Sukses Bergaji Dolar

Habibie, Penyandang Difabel Sukses Bergaji Dolar

Habibie Afsyah, penyandang difabel yang sukses menjadi pengusaha dan motivator. - Foto: tdabalikpapan.com
Habibie Afsyah, penyandang difabel yang sukses menjadi pengusaha dan motivator. – Foto: tdabalikpapan.com

dakwatuna.com – Jakarta.  Penyandang difabel seringkali masih dianggap tak bisa mandiri dan diperlakukan berbeda. Padahal jika diberikan kesempatan untuk bisa mengenal potensinya masing-masing, kaum difabel juga bisa sukses. Seperti Habibie Afsyah (26) yang kini sukses menjadi pengusaha dan motivator.

Habibie adalah seorang penyandang Muscular Dytrophy Tipe Becker. Kondisi kelainan genetik yang dialaminya sejak lahir ini membuat secara perlahan otot-ototnya melemah dan fisiknya menjadi tak berdaya. Meskipun demikian, keterbatasan fisik ini tak membuat Habibie patah semangat.

Sejak kecil, ia diajarkan oleh ibunya, Endang Setyati, untuk mandiri dan tak berbeda dari orang lain. Sang ibu ingin Habibie menyadari bahwa meskipun ia memiliki keterbatasan dan hanya bisa duduk di kursi roda, bukan berarti lantas ia tak bisa hidup mandiri dan menghasilkan sebuah karya.

“Iya sebenarnya penyakit ini dialaminya sejak lahir, tapi saya belum tahu. Saat usianya 8 tahun, barulah ada pencerahan. Saya browsing ke internet, cari tahu tentang penyakit ini. Dari situ saya tahu kalau penyakit Habibie ini mematikan pelan-pelan,” papar Endang , saat ditemui dalam diskusi interaktif yang diselenggarakan di Sequis Center, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Selasa (11/3/2014).

Dokter memvonis Habibie hanya bisa hidup sampai menginjak usianya yang ke-25. Namun berkat berbagai fisioterapi yang dilakukannya sejak kecil dan semangat yang tinggi, Habibie yang lahir pada tanggal 6 Januari 1988 ini bisa bertahan hidup sampai kini berusia 26 tahun.

“Saat saya berusia 5 tahun, saya lihat banyak teman-teman TK yang berlarian, saya sempat berpikir kok saya tidak bisa. Sempat sedih, tapi sampai di rumah ketemu mainan sudah senang lagi. Saya senang main komputer dan game karena saya nggak bisa jongkok juga,” tutur Habibie.

Tak melanjutkan kuliah, Habibie memutuskan untuk mulai serius mendalami hobinya bermain game dan komputer. Awalnya ia belajar desain grafis, namun karena keterbatasan pergerakan tangan, lagi-lagi Habibie mengalami kendala. Akhirnya di tahun 2007 ia memulai bisnis online di bidang advertising. Kini usaha Habibie pun semakin sukses.

“Saya bersyukur diberi umur lebih dari yang divonis dokter sebelumnya. Setidaknya dibalik keterbatasan ini saya masih bisa berkarya. Gaji saya pun sudah campuran, rupiah dan dolar,” ungkapnya sambil tersenyum.

Habibie berpesan kepada teman-teman difabelnya untuk meletakkan mimpi besar sebagai tujuan awal dan jadilah mandiri. Setelah itu, ia juga mengingatkan pentingnya menemukan passion dan hobi yang bisa didalami, seperti komputer baginya. Yang pasti, dukungan dari orang terdekat seperti keluarga dan teman-teman juga dirasakan penting bagi Habibie.

Untuk ke depannya, penulis buku ‘Kelemahanku adalah Kekuatanku’ ini berharap Indonesia bisa menjadi negara yang inklusif bagi penyandang tuna daksa, termasuk dalam urusan pendidikan, pekerjaan, fasilitas umum, dan transportasi. “Angkutan umum masih belum ramah difabel, kalau ke mana-mana harus naik taksi atau mobil kan biayanya mahal,” pungkasnya. (detik/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bekal Pilkada, Sukses Memilih Pemimpin dengan Akal Sehat