Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berbahagialah Wahai Hati yang Merindu

Berbahagialah Wahai Hati yang Merindu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: anita-chenit.blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: anita-chenit.blogspot.com)

dakwatuna.comPada sebuah malam, Amirul mukminin Umar ibnul Khattab seperti malam biasanya selalu menyusuri jalan kota madinah. Amirul mukminin sengaja melakukan hal seperti itu hanya untuk memastikan kondisi masyarakat masyarakatnya, apakah dalam kondisi sejahtera atau kondisi kekurangan. Itulah sebentuk tanggung jawab khalifah Umar ibnul Khattab kepada Allah dan semua mukmin.

Hingga melewati sebuah rumah, Amirul Mukminin sejenak berhenti didepan rumah tersebut karena mendengar percakapan dua orang perempuan. Percakapan antara seorang Ibu dan seorang anak perempuannya. “Campur saja susu itu dengan air,” ucap Ibu kepada anak perempuannya. “Tidak wahai Ibu, Amirul Mukminin melarang kita untuk melakukan kecurangan,” jawab anak perempuan itu. “Amirul Mukminin tidak akan mengetahui apa yang kita lakukan,” jawab sang Ibu. “Tidak wahai Ibu, meskipun Amirul Mukminin tidak mengetahui tetapi Tuhannya Amirul Mukminin pasti mengetahui,” sanggah anak perempuan itu. Tanpa sepengetahuan mereka Amirul Mukminin sedari awal mendengarkan dengan seksama percakapan mereka berdua sepanjang malam itu.

Setelah kejadian tersebut, Amirul Mukminin memanggil anaknya ‘Ashim bin Umar ibnul Khattab. Amirul Mukminin menanyakan kesediaan anaknya ‘Ashim bin Umar ibnul Khattab untuk menikahi anak perempuan yang didengar percakapannya semalam. Segera setelah itu Amirul Mukminin dan anaknya berkunjung ke rumah Ibu dan anak perempuan jujur itu. Amirul Mukminin langsung menanyakan Ibu dari anak perempuan tersebut, apakah anak perempuannya mau menikah dengan anaknya. Singkat cerita merekapun menikah, perempuan jujur penuh berkah dengan anak seorang Amirul Mukminin yang amanah. Kelak salah dari keturunan mereka lahir seorang khalifah yang terkenal pada masa Pemerintahannya tidak ada masyarakat yang merasakan kemiskinan. “Sang khalifah kelima” Umar bin Abdul Aziz.

Subhanallah, sesederhana itukah proses mereka?

***

Kring… kring… (Handphoneku berdering)

“Nia… gimana ini? Dia datang kerumahku dan meminta izin kepada Bapakku untuk meminangku?” khidmat kudengarkan suara temanku dari handphone yang kugenggam.

Temanku mau dipinang oleh temanku.

Sungguh laki laki shalih yang gentle. (semoga tidak berlebihan ya temanku yang dirahmati Allah)

Iya begitulah… Teman perempuanku mau dipinang teman laki-lakiku. Mereka berdua adalah temanku waktu kuliah dulu. Aku mengenal dengan baik keduanya. Keduanya in syaa Allah orang orang yang shalih. Selama kuliah aku menjadi saksi atas mereka. Mereka berdua sama sekali tidak pernah mempunyai hubungan khusus seperti anak anak muda lainnya yang sedang jatuh cinta, mereka berdua adalah teman, teman biasa seperti aku dan teman seangkatan lainnya. Masing masing menyibukkan diri dalam kebaikan. Bisa dikatakan, jikapun ada interaksi komunikasi itu hanya sebatas dalam urusan kuliah atau rapat organisasi dan itupun tidak pernah dalam kondisi berduaan atau tepatnya kita selalu “bergerombol” dengan “geng ikan”. J

Subhanallah. Itulah rahasia Allah. Aku bangga dengan kedua temanku ini. Waktu telah menjadi saksi atas takdir yang Allah tetapkan untuk mereka berdua. Masa kuliah 4 tahunan bersama, beberapa tahun selama masa pasca kuliah dengan aktivitas masing masing kerja di kota yang berbeda dan tidak pernah ada komunikasi sama sekali antara keduanya. Tidak ada yang bisa menghalangi “Jika Allah mengatakan jadi maka jadilah”, tanpa pacaran dan interaksi intens antara keduanya. Alhamdulillah kini mereka telah menikah dan dikaruniakan seorang mujahid kecil.

Subhanallah, sesederhana itukah proses mereka?

***

Satu cerita lagi mengenai salah satu sahabatku.

Dari kesepuluh “geng ikan” tinggal kita berlima yang masih suka bertemu. Pada saat kita semua sedang berada di Palembang, kita upayakan untuk bersilaturahim. Kurang lebih satu tahun yang lalu. Aku mengenang perbincangan antara kita berlima.

“Kalian pasti kenal orangnya,” ucap salah seorang sahabatku yang akan menikah beberapa bulan lagi pada waktu itu.

“Iyaaa… beliau satu jurusan tapi angkatan dibawah kita,” ucapnya sembari tersenyum.

Kita semua menyeringai tersenyum bahagia dan haru mendengar kabar tersebut dari salah satu sahabat kami ini. Bagaimana tidak. Kami berempat tau persis perjalanan beliau menanti pasangan hati. Beberapa kali “ikhtiar cinta” dijalani, tak jua berujung pada sebuah ikatan suci yang diharapkan. Mulai dari orang tua tidak merestui, alasan tidak satu suku, sampai sudah sempat pertemuan keluarga-pun masih tetap tidak menjanjikan keduanya bertemu dalam akad. Hal ini membuat kita senantiasa sedih dan berupaya mengambil hikmah dibalik kejadian demi kejadian yang telah berlalu.

“Subhanallah… ini adalah buah dari semua kesabaranmu selama ini, ukh. Barakallah…” ucap kami kepadanya. Alhamdulillah sekarang mereka telah dikaruniakan seorang mujahidah kecil. Semoga Allah memberkahi keluarga sahabat sahabatku ini.

***

Yang tampak hanyalah sebagian kecil. Bagai gunung es yang berada di tengah lautan. Yang terlihat hanya ujungnya saja. Indah… sejuk… padahal di dalamnya sungguh banyak hal yang luput dari pandangan. Gelap… dingin… tumpukan es yang bertindih tindih.

Banyak proses yang dilalui oleh karib kerabat, teman bahkan sahabat disekitar yang hanya bisa dilihat ujungnya saja. Lantas kita berkomentar, “Subhanallah… sesederhana itukah proses mereka, enak ya mereka, akhirnya mereka menikah?” J

Tapi pernahkah kita menanyakan kepada mereka mengenai kondisi jiwa mereka pada saat saat sebelum sampai pada ujung penantian, sampai pada proses terucapnya mitsaqan ghalidza… pernikahan yang penuh berkah. Bagaimana mereka melewati masa masa penantian dan ikhtiar itu. Bagaimana kondisi jiwa serta keimanan mereka. Atas semua kerinduan yang mereka rasakan. Atas semua luapan perasaan yang mereka pendam. Atas doa-doa yang mereka munajatkan pada Sang Maha Pemilik Cinta belum jua terijabah. Atas semua kesabaran dan ketabahan mereka selama ini… Semua luput dari pandangan kasat mata kita.

Aku yakin semua orang mengalami hal semacam ini. Tapi sungguh dalam hal ini aku hanya tertarik pada sikap orang orang yang beriman kepada Rabb-Nya. Jiwa yang menahan semua kerinduan agar tetap dalam keridhaan Allah, pribadi yang menjaga diri agar tetap menetapi syariat walaupun keinginan telah membuncah,  jiwa- jiwa yang senantiasa teguh dalam menetapi ketaatan, dan yakin sepenuhnnya pada semua ketetapan Allah.

Asalkan di hati ini selalu dipenuhi prasangka baik dan ridha atas semua ketetapan Allah, sungguh menjadi tidak terlalu penting lagi pertanyaan-pertanyaan “Kapan kamu menikah”. Menikah bukanlah ujung dan akhir segalanya. Menikah adalah awal pembuktian kesetiaan pada Allah.

Masa penantian ini sepenuhnya adalah ujian…

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikan maka Allah akan mengujinya.”

Bersungguh sungguhlah dalam menetapi ketaatan dan kesabaran. Berikhtiar hanya dengan yang diridhai Allah. Perintah Allah jelas, “Janganlah mendekati zina…” Mendekati saja dilarang apalagi melakukannya, na’udzubillahimindzalik. Inilah yang dimaksud ujian. Fitrah memanggil manggil untuk merasakan rasa dicintai dan mencintai seseorang yang diharapkan. Tapi demi ketaatan pada Sang Maha Pemilik Cinta, kita menahan diri (bersabar) untuk tetap dalam perilaku yang diridhai Allah. Menjaga diri agar tidak mendekati zina (pacaran). Menjaga hati agar tidak mencintai orang yang belum tentu menjadi pasangan kita nanti, menjaga diri dalam setiap pergaulan. InsyaAllah… sabar itu awalnya pahit tetapi manis pada akhirnya.

Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. (NN)

Sama halnya dengan penantian ini, waktu waktu yang dilewati terasa sakit, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras, kokoh dan mahal harganya.

Berbahagialah wahai hati yang merindu…

Berbahagailah karena engkau taat pada Allah.

Berbahagialah karena engkau menjaga diri karena Allah.

Yakinlah bahwa wanita yang baik hanya untuk laki laki yang baik.

Yakinlah bahwa wanita yang taat hanya untuk laki laki yang taat.

Yakinlah bahwa wanita yang menjaga diri hanya untuk laki laki yang juga menjaga diri.

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 6,88 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Hobi menulis dan diskusi. Pribadi yang bertekad mengunjungi berbagai tempat, bertemu banyak orang dan menuliskan semua pengalaman tersebut sebagai hikmah kehidupan dan bermanfaat untuk banyak orang beriman.

Lihat Juga

Ramadhan Bahagia