Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Peringatan Bagi Predator Rokok: “Ente Terbuli Dalam Candu!”

Peringatan Bagi Predator Rokok: “Ente Terbuli Dalam Candu!”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comMari kita mulai tulisan ini dengan menyentak kesadaran kita. Jujur dalam hati, lisan, dan laku. Memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini;

Siapa yang tidak tahu bahaya rokok? (anak SD saja tahu).

Namun, kenapa pengetahuan itu tak membuahkan kesadaran dan perubahan sikap?

Ada beberapa alasan untuk menjadi jawaban. Saya akan berusaha membeberkannya secara terbuka. Sebab, demi Allah, masalah ini bukan lagi masalah sepele. Butuh perhatian serius membincang tentangnya untuk mencari solusi. Demi kebaikan bersama. Rokok bukan hanya merugikan satu orang saja (baca; si pelaku), tapi juga makhluk lain, tidak hanya sesama manusia.

Kenapa? Terasa bagi kita semakin semrawutnya alam ini sebab asap rokok. Polusi udara bukanlah masalah sederhana. Ada begitu banyak masalah yang bisa muncul darinya. Dan yang hidup di bumi ini bukan hanya “spesies predator rokok.” Maka, tentulah akan ada tuntutan dari mereka yang dirugikan. Mungkin hanya syaithan yang tak menuntut.

Maka, mari berpikir secara sehat. Sejenak kesampingkan candu yang melilit.

Adakah kebaikan pada rokok?

Saya optimis, jawabannya adalah TIDAK! Mengapa? Logikanya begini, kalau ada sesuatu (aktivitas) yang baik, pastilah sesuatu (aktivitas) itu akan diajarkan kepada oranglain secara sadar dan sengaja. Tugas kita di dunia ini salah satunya adalah untuk berbagi nasihat kebaikan. Nah, bila aktivitas merokok itu memang baik, kenapa tidak dilakukan secara berjama’ah? Misalnya, sekeluarga merokok sama-sama. Persis seperti saat kita makan bersama?
Tentu, sang Ayah akan geram melihat anaknya yang masih belia berani menyentuh rokok. Untuk ini saya rasa ada dua kemungkinan. Pertama, si Ayah keberatan anaknya ikut-ikutan merokok sebab tahu dan sadar bahwa merokok itu berbahaya buat kesehatan. Atau, kemungkinan kedua, si Ayah keberatan hanya karena khawatir pengeluaran untuk rokok—yang konon harganya mahal—akan melambung. He..he..

Dia merokok tapi tidak apa-apa kok?

Satu kebiasaan yang buruk adalah mencari-cari pembenaran untuk membenarkan satu kenyataan yang salah. Ya, mencari pembenaran. Bukan mencari kebenaran. Keduanya sangat berbeda.

Ketika dikatakan bahwa merokok itu merusak kesehatan. Predator-predator rokok akan berdalih dengan alasan dangkal. Misalnya, “Bapak saya merokok, tapi usianya panjang kok, 75 tahun.” Nah…, izinkanlah saya bertanya, kenapa pola pikirnya tidak dibalik? Kalau memang dengan merokok dia bisa hidup 75 tahun tanpa penyakit, itu berarti tanpa merokok ada kemungkinan dia bisa hidup 100 tahun. Itu artinya dia tetap rugi 25 tahun, kan? He..he..

Rokok membuat otak jadi lemot!

Satu di antara beratus ribu alasan kenapa rokok itu berbahaya adalah sebab ia mampu membuat otak seseorang menjadi lemot, lamban, tumpul, dan dangkal. Ya, zat adiktif yang ada di dalamnya, selain membuat candu juga bisa memblokade transmisi antar sel saraf otak. Akibatnya, proses pikir seseorang jadi lamban. Selain lamban, kerap kesimpulan yang ditarik juga keliru.

Ada yang membantah, “Si anu merokok, tapi dia juga lebih cerdas dari yang tidak merokok?” Ya…, dia bakal lebih cerdas lagi kalau nggak merokok. Ya.., tapi kecerdasannya itu masih bisa dikelabui oleh penjual-penjual rokok. Ia cerdas dalam candu!

Pertanggungjawaban. Ini yang sulit!

Ya, ini yang sulit. Mungkin di hadapan manusia kita bisa berdalih, tapi di hadapan Allah? Mustahil! Tak ada yang luput dari pengawasan-Nya. Ketahuilah, bukan hanya tanggung jawab atas rusaknya jasad kita (amanah Allah) yang akan dipertanyakan. Tetapi, juga kedzhaliman terhadap orang lain.

Jelas, orang-orang yang tidak merokok akan dirugikan oleh para perokok.  Mereka didzhalimi secara sengaja. Sungguh, demi Allah, setiap rasa sesak yang mereka alami sebab asap rokok itu akan dipertanyakan oleh Allah! Di sinilah banyak orang tersesat. Berdosa tanpa sadar. Merugi dengan rela. Hanya karena candu tak berujung!

Ber-Tuhan pada rokok

Sungguh, telah ada begitu banyak peringatan. Bukankah seharusnya peringatan itu didengar dan ditindak-lanjuti? Jangan sampai hanya hawa nafsu yang diperturutkan. Jangan sampai hanya candu yang diperturutkan. Ada Allah yang jauh lebih layak mengisi benak kita setiap saat. Coba bayangkan, bagaimana rasanya kalau tidak merokok dalam satu hari? Bagaimana pula rasanya kalau tidak mengingat Allah dalam satu hari?

Mari berpikir jernih. Jangan sampai kecondongan pada rokok menjadi sebab meruginya diri kelak! Karena cinta pada rokok jauh lebih besar dari pada cinta pada Allah.

Na’udzu bilLaah min dzalik…

 

Ya Allah,

saksikanlah bahwa aku telah menyampaikan kebenaran—semampuku.

Ya Allah,

bila Engkau berkenan,

pastilah Engkau sanggup memusnahkan rokok hanya dalam hitungan detik,

hingga tidak ada lagi tersisa satu batang pun.

Ya Allah,

kepada-Mu kuserah urusan ini.

juga suara hati kami yang merindui perubahan.

Setidaknya, mulai dari hal kecil, seperti rokok!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Mahasiswa UIN Jakarta melakukan penggalangan Surat untuk Presiden di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (Rabu, 18/5/2016). (Bagja Nugraha/UIN Jakarta)

Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mahasiswa UIN Jakarta Galang Aksi ‘Surat Untuk Presiden’

Organization