Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Refleksi Hati di Jalan Dakwah

Refleksi Hati di Jalan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.comPada siang hari, di bawah pohon yang rindang dengan angin semilir sepoi-sepoi, kita bersama menanti hasil akhirnya. Ada yang takut, riang, cemas, bahagia sampai yang tidak peduli sama sekali pun ada. Di sanalah semuanya bermula. Kita telah memilih kawan. Kita telah tentukan bagaimana jalan kita ke depan. Banyak dari kita yang menuntut apa yang akan kita terima dari dia, tapi tidak kawan, dia tidak akan memberikan apa-apa untuk kita. Dia tidak akan memberikan keuntungan materi atau apapun yang kita harapkan. Tapi seharusnya dialah yang harus kita perjuangkan. Kitalah yang harus memberikan apa yang kita punya. Bila perlu semuanya. Kita harus berkorban demi dia.

Kawan, jika hingga detik ini kalian masih tetap menuntut keuntungan darinya, sadarlah kawan, luruskan niat kalian kembali, tanyakan pada hati kalian. Dia suci dan bersih. Dia bersih dari kepentingan pribadi dan segala bentuk kepentingan duniawi kalian, dia bersih dari hawa nafsu.

Kawan, mari kita renungkan sejenak. Siapa kita? Apa yang telah kita lakukan? Apa yang patut kita banggakan? Harta? Tahta? Renungkan kawan. Renungkan! Kawan jika itu yang kalian pikirkan, cepat buang jauh-jauh ambisi itu.

Atau jika ada di antara kita yang kecewa padanya, karena berbagai macam alasan. Itu wajar kawan, sangat wajar. Di saat kita telah bersamanya, telah berjuang bersamanya, kadang kala ada suatu kejadian yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita impikan. Kadang kita telah berusaha semaksimal mungkin dengan segenap tenaga, pikiran, dan kecakapan yang diselingi dengan cucuran keringat semangat kita, tapi pada ujung jalan perjuangan kita gagal. Jangan jadikan itu sebagai alasan kita untuk menyalahkannya dan lalu pergi menjauh darinya. Jangan kawan, jangan! Kita harus bersabar menghadapi berbagai halangan, rintangan dan ancaman, banyaknya perbedaan pendapat membuat perjuangan kita menjadi suatu hiasan tersendiri bersamanya. Jangan menyerah kawan, jangan pernah ucapkan kata-kata itu. Karena kenyataannya, disaat kita merasa kecewa padanya, sesungguhnya jauh dalam lubuk hati kita berkata bahwa kita mulai mencintainya, dan ingin berjuang bersamanya.

Kawan, sekarang kita tengah dilanda musibah besar. Musibah yang tak hanya menyentuh satu sisi, tapi telah menjalar disetiap pori-pori sisi kehidupan kita. Agama kita Islam telah dipermainkan kawan. kita sekarang tak lain terlihat seperti wayang yang tengah dimainkan. Kita di setting oleh mereka-meraka yang ingin menghancurkan kita. kita dibuat ragu dengan ideologi kita sendiri. kita diadu domba dengan saudara kita sendiri. Buka mata kita kawan, buka hati kita untuk peka melihat masalah ini. Bukannya malah sibuk untuk mencapai kepentingan pribadi kita. Ini saatnya kita bersatu saling berpegangan tangan saling berpelukan dalam indahnya jalinan ukhuwah untuk berjuang menghadapi berbagai macam diplomat yang kacau balau didepan kita yang sedang kita saksikan, bahkan banyak antara kita yang tak sadar. Ini saatnya dimana kita yang harus menjadi kendali, kita yang harus memegang posisi sebagai pemain wayang, bukan sebagai wayang.

Untuk itu kawan, mari kita perjuangkan dia yang telah menunggu kita untuk berjuang bersama menuju kemenangan abadi yang kita damba-dambakan. Mari kita korbankan semuanya untuknya. cintai dia dengan segenap hati kita. Persembahkan semua pemikiran cerdas, keberanian, dan ketajaman analisis kita. Siapkan diri kita untuk masa depan Islam. Jadilah petarung sejati bersama dia untuk memusnahkan kebatilan dan fitnah-fitnah keji dimuka bumi ini dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam. Jangan takut kawan. Pandanglah masalah dihadapanmu, nikmati masalah itu, genggam lah ia, lalu katakan bahwa ia tak lebih kecil dari apa yang kita punya, Sang Pencipta Alam Semesta Allah SWT.

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Lihat Juga

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati