Home / Berita / Opini / Menanti Janji Jokowi: Akankah Ditepati?

Menanti Janji Jokowi: Akankah Ditepati?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pasangan Jokowi-Ahok yang diusung oleh PDIP dan Partai Gerindra saat Pilgub DKI Jakarta. (Antara/Yudhi Mahatma)
Pasangan Jokowi-Ahok yang diusung oleh PDIP dan Partai Gerindra saat Pilgub DKI Jakarta. (Antara/Yudhi Mahatma)

dakwatuna.com – Beberapa hari yang lalu di suatu pagi, lewat salah satu radio swasta saya mendengar berita begini: “Jokowi tidak mau ambil pusing terhadap sebuah video yang berisi tentang janji-janji kampanyenya sewaktu akan mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta tempo hari. Video yang berdurasi kurang lebih 7 menit itu kini telah banyak beredar di social media dan di YouTube, namun menurut Jokowi dia sama sekali tidak berminat untuk menontonnya dan tidak mau berkomentar apapun terkait dengan hal itu…”

Mengenai video ini awalnya saya juga tidak “berminat” sama sekali untuk menontonnya, walaupun saya sudah tahu sebelumnya dari teman-teman yang men-sharing-nya via FB. Namun setelah mendengar berita ini, mau tak mau saya jadi penasaran juga. Ada apa dengan video ini, apa dan bagaimanakah isinya…? Akhirnya dengan berbekal Mbah Google saya pun mencari dan berhasil menemukannya. Saya klik beberapa link (juga YouTube) yang terkait dengan video tersebut. Saya simak baik-baik apa isinya dan tak lupa juga saya membaca beberapa tulisan yang membahas tentang fenomena video ini.

Akhirnya sampailah saya pada kesimpulan mengapa video ini menjadi “trending topic” akhir-akhir ini. Mengapa video ini ramai memenuhi halaman YouTube dan socmed. Tak lain dan tak bukan jawabannya adalah karena tokoh utama dalam video ini adalah Jokowi. Orang nomor satu di Ibukota Jakarta. Yang mana semua juga sudah sangat mafhum bahwa apapun yang terkait dengan mantan Walikota Solo ini, pasti akan booming alias menjadi pembicaraan dan sumber berita yang laris manis bak kacang goreng.

Namun di sini saya tidak tertarik untuk mengupas lebih jauh tentang isi video tersebut. Karena saya pikir pasti sudah banyak orang yang melihatnya (saya saja yang terlambat, hehehe…).Saya justru lebih tergelitik untuk mengupas tentang sikap Gubernur DKI Jakarta ini. Mengapa justru Jokowi tidak mau menonton video ini dan tidak mau berkomentar apapun tentang hal ini? Ini pertanyaan menarik buat saya. Mengapa Jokowi terkesan “cuek” dengan isi video tersebut, ada apakah dengan Jokowi…?

Dalam Islam (mungkin dalam agama apapun), janji itu adalah hutang. Dan orang yang berhutang mempunyai kewajiban untuk melunasinya. Paling tidak dia mempunyai itikad baik untuk melunasi hutang tersebut, walaupun barangkali tidak bisa tepat waktu sebagaimana yang dijanjikannya. Apalagi bila janji itu diucapkan dan disampaikan di depan orang/khalayak ramai. Maka harus ada usaha yang lebih maksimal lagi dari dia untuk memenuhi hutang atau janji yang sudah diucapkannya itu.

Dalam video yang berisi tentang janji Jokowi tersebut ada sebuah pernyataan yang diucapkan Jokowi di depan para pendukungnya. Berikut ini sekelumit isi pernyataan Jokowi: “Katanya saya tidak ingin menyelesaikan lima tahun. Diisukan gitu, untuk apa? Itu biar masyarakat ragu. Oleh sebab itu, dalam gerakan ini saya sampaikan, Jokowi dan Basuki komit untuk memperbaiki DKI dalam lima tahun.” Pernyataan inipun kontan mendapat sambutan hangat dari para pendukungnya ketika itu.

Dari pernyataan di atas ada yang perlu digarisbawahi, yaitu bahwa Jokowi (dan Basuki/Ahok) berjanji akan memperbaiki DKI Jakarta dalam waktu 5 tahun. Artinya pada saat kampanye mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI, Jokowi telah mewakafkan dirinya untuk memimpin Ibukota dalam kurun waktu 5 tahun, jika dia terpilih nantinya. Dan memang pada kenyataannya, Jokowi berhasil memenangkan Pilgub DKI Jakarta dengan mengalahkan calon incumbent, Fauzi Bowo.

Pertanyaannya lagi, adakah yang salah dengan isi pernyataan Jokowi tersebut? Tentu saja tidak…! Karena itu adalah hal yang sangat wajar diucapkan oleh seorang Jokowi atau siapa pun juga yang berniat mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin di suatu daerah/wilayah, pada saat dia berkampanye dalam rangka menarik hati para pendukungnya. Dan itu tidak menyalahi aturan sama sekali. Justru “janji manis” itu merupakan salah satu modal dasar dari para calon pemimpin ataupun wakil rakyat, sebagai daya pikat terhadap pemilih (konstituen) mereka.

Yang salah adalah ketika janji-janji kampanye itu tidak bisa dipenuhi, dan tidak ada niat atau itikad baik untuk memenuhinya. Saat ini, berdasarkan beberapa survey yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey di Indonesia, nama Jokowi menempati urutan teratas untuk calon presiden (capres) RI. Mengalahkan banyak nama yang sudah populer sebelumnya. Dan hal inilah yang (mungkin) membuat Jokowi “terlena”, sehingga dia lupa akan janji-janjinya ketika kampanye dulu. Atau mungkin dia ingat, cuma menganggap itu telah lewat dan berharap tidak akan ada orang yang mengingatnya. Bahwa dia pernah berjanji akan menuntaskan masalah-masalah Jakarta selama 5 tahun dalam masa kepemimpinannya.

Walaupun dalam kampanyenya itu, Jokowi tidak pernah menyatakan atau berjanji sedikitpun bahwa dia tidak akan meninggalkan Jakarta sebelum habis masa jabatannya. Namun semua ini adalah pernyataan tersirat yang bisa ditangkap oleh siapa pun juga. Jokowi telah menyepakati suatu perjanjian antara dia dengan penduduk Jakarta yang memilihnya, bahwa dia setuju untuk menjadi Gubernur DKI sampai 5 tahun ke depan dan bisa dipilih kembali pada periode berikutnya, jika rakyat menghendakinya.

Dari hasil-hasil survey yang melambungkan namanya, tampaknya Jokowi makin terbuai. Jokowi makin merasa berada di atas angin. Perlahan tapi pasti dia mulai “lupa” kepada janji yang pernah diucapkannya dulu, di mana janji itu mampu membius sebagian besar masyarakat Jakarta untuk kemudian memilihnya sebagai Gubernur. Jokowi melambung ke langit ketujuh…?  Tentu saja… siapa yang tidak merasa besar hatinya (dan kepalanya), ketika namanya disebut-sebut sebagai calon kuat orang nomor satu di Republik ini? Siapa yang tidak mempunyai ambisi untuk menjadi “Raja” di Republik ini? Pasti semua orang sangat berambisi untuk merebutnya, tak terkecuali Jokowi…!

Lagi-lagi adakah yang salah dengan keinginan/mimpi/harapan/ambisi seorang Jokowi? Sekali lagi jawabannya adalah tidak… Yang salah adalah ketika Jokowi mengenyampingkan moral dan etikanya sebagai seorang pemimpin. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pakar politik bahwa memang tidak ada peraturan yang dilanggar oleh Jokowi (jika dia nyapres), akan tetapi secara moral dia tidak komitmen dan tidak bertanggung jawab terhadap janji yang telah diucapkannya pada saat kampanye dulu. Yaitu berjanji akan memimpin Jakarta selama 5 tahun.

Sebagai seorang negarawan sejati, seyogianya Jokowi “tahu diri”. Masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta baru berjalan seumur jagung. Masih banyak tugas yang belum dikerjakannya. Masih banyak PR yang harus diselesaikannya. Masalah banjir yang sudah 2 kali terjadi di tahun-tahun pertama masa jabatannya, belum lagi kemacetan yang sampai hari ini masih terus menjadi masalah krusial bagi masyarakat Ibukota, yang belum ada jalan keluarnya. Kemudian proyek pengadaan truk sampah dan  Busway (bus Transjakarta) yang disinyalir bermasalah, MRT, dan lain-lain yang kesemuanya itu sepatutnya menjadi fokus dan perhatian dari Jokowi (juga Ahok sebagai Wagub) pada saat ini.

Dan layaknya sebagai seorang negarawan sejati, ketika janji-janjinya ditagih, seharusnya sikap yang ditunjukkan bukanlah menghindar dan  “cuek bebek”. Menganggap angin lalu lantas diam seribu bahasa. Walaupun “tagihan” itu disampaikan dan dikemas dalam bentuk sebuah video, yang menurut saya adalah sebuah ide yang cukup kreatif dan elegan. Sebagai salah satu sarana untuk mengingatkan Jokowi akan janjinya. Harusnya Jokowi berterima kasih kepada para kreator video tersebut, terlepas dari apapun maksud dan tujuannya. Karena sudah diingatkan.

Seperti kata pepatah, bahwa tak ada gading yang tak retak. Tak manusia yang tak pernah lupa. Demikian juga halnya dengan Jokowi. Bisa jadi Jokowi memang benar-benar lupa, toh dia juga manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan alpa. Sebagai manusia biasa adalah suatu kewajaran jika Jokowi sempat melupakan janjinya dulu, karena begitu banyaknya persoalan yang harus dipikirkannya. Dan sebagai manusia biasa pula, adalah wajar jika kemudian ada yang mengingatkannya. Bukankah teman yang baik adalah yang selalu mengingatkan kita di kala lupa?

Jadi  jangan marah, Jokowi… dan jangan dianggap sepele peringatan teman itu. Tak perlu merasa gusar dan takut dengan peringatan-peringatan itu. Jangan pula menghindar dan tak mau tahu. Karena bisa jadi peringatan-peringatan itulah yang akan menguatkan Bapak. Karena bisa jadi justru para pengkritik Bapak itulah sesungguhnya orang yang benar-benar peduli terhadap Bapak. Bukan orang-orang yang cuma bisanya menyanjung  dengan pujian-pujian semu, yang justru akan semakin meninabobokan Bapak . Termasuk salah satunya tulisan saya ini. Anggap saja ini adalah sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian kita kepada Bapak. Ingatlah… bahwa Bapak bukan saja berjanji di hadapan manusia,  namun juga sudah berjanji di hadapan Allah SWT. Dan setiap janji akan dimintai pertanggungjawabannya untuk ditepati.

Wallahu a’lam…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.
  • Jhon Domino

    Subhanallah.. saya bukan orang baik, tapi tidak pernah menyebarkan hal-hal yang tidak baik dan tidak mendidik.

    • Qartendri Gurning

      tidak mendidik ?, lalu kalau mendewakan jokowi baru mendidik ?

  • Jhon Domino

    Dengan Mengucap Bismillahirrohmaaannirrohim dengan menyebut nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya allah ampuni hamba mu ini, jauhkan lah sifat iri dan dengki dalam hati kami. Saya do’akan ibu-ibu yang mendengar dan menyebarkan berita yang tidak baik, agar suaminya banyak jodoh agar dibukakan pintu hatinya. Amiiin..

    • Qartendri Gurning

      dapet berapa nasi bungkus buat reply ?

Lihat Juga

Karena Sakura Selalu Menepati Janjinya