Home / Berita / Opini / Cara Memaknai Pemilu: Membangun Harapan, di Belantara “Janji” yang Berserakan

Cara Memaknai Pemilu: Membangun Harapan, di Belantara “Janji” yang Berserakan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Antara - dengan modifikasi)
Ilustrasi. (Foto: Antara – dengan modifikasi)

dakwatuna.comSebentar lagi kita akan menghadapi momentum amat penting, baik dalam konteks berbangsa dan bernegara, ataupun dalam konteks kita “Kaum Muslimin” sebagai bagian dari entitas bangsa ini. Momentum itulah adalah PEMILU.

Dalam berbangsa dan bernegara, pemilu sejatinya adalah saatnya melakukan konsolidasi, koordinasi dan evaluasi serta penataan ulang pada keseluruhan dinamika kehidupan, ia adalah proses “rekrutmen”, regenerasi pemimpin dan kepemimpinan “BARU” atau saatnya melakukan pertanggungjawaban bagi pemimpin atau rezim sebelumnya tentang pembuktian kerja dan kinerja di ujung masa kepemimpinannya, Pemilu juga adalah bagian dari gambaran tentang: persepsi, respons, sikap, partisipasi dan tanggung jawab seseorang terhadap bangsa dan negaranya. tetapi di sisi lain, pemilu menyimpan cerita lain, penuh warna-warni, terkadang disertai ironi dan anomali, sering ada diskusi berujung “transaksi” yang “menguras” tidak sedikit “sumber daya”, tentu menyita perhatian, tenaga, pikiran, emosi dan perasaan tak jarang berakhir “PILU”. Apapun itu, pemilu adalah “realitas” kebangsaan dan bernegara yang harus berlangsung, tentu kita berharap keberadaannya dari waktu ke waktu semakin berkualitas, untuk menjamin bermunculannya “pemimpin dan kepemimpinan” yang mampu membawa bangsa ini ke level yang setara dengan tantangan di setiap zamannya. Insya Allah

Pemilu, dalam konteks Islam dan Kaum Muslimin, sedikit mengalami “kontraksi dan ketegangan”, baik dalam tataran pemikiran dan konsep, ataupun pada sikap dan partisipasi (sampai sekarang masih ada yang mempersoalkan legalitas syar’i tentang: Demokrasi, pemilu, dll: untuk hal ini akan dijelaskan tersendiri dalam kesempatan lain), harus diakui bahwa keterlibatan kaum muslimin memiliki sejarah panjang mulai dari proses sampai lahirnya bangsa ini, sehingga format dan pola negara tercinta ini adalah hasil interaksi dan kompromi dengan mengakomodasi nilai nilai dan kepentingan dari seluruh elemen bangsa. sebagai bagian dari kesadaran sejarah, realitas dan fakta-fakta kehidupan bahkan jauh sebelum bangsa ini merdeka, di mana nilai nilai Islam telah menjadi identitas yang melekat pada diri bangsa dan negara ini, maka sejatinya Kaum Muslimin “tidak boleh memiliki jarak, kontraksi dan ketegangan” dengan negeri ini, kita adalah bagian tak terpisahkan dari negeri ini, bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan kita kaum Muslimin adalah “pemilik” negeri ini, maka apa yang menjadi agenda bangsa dan negeri ini, adalah juga menjadi bagian dari agenda kita kaum muslimin, akhirnya sampai di sini cukuplah ditegaskan bahwa kita lahir dan besar di sini, di negeri yang tercinta “Indonesiaku” tempat di mana Allah SWT menakdirkan kita menjalani seluruh proses kehidupan.

Dengan kesadaran dan keyakinan bahwa kita kaum Muslimin adalah bagian dari Bangsa dan Negeri ini, maka PEMILU bagi kita memiliki nilai yang amat penting dan strategis, antara:

  • Sebagai salah satu bentuk keterlibatan, partisipasi dan kontribusi “minimal” kita terhadap harapan untuk kondisi bangsa dan negara yang lebih baik. Setiap muslim dituntut untuk selalu terlibat dan melibatkan diri menjadi bagian dari proses perubahan dan perbaikan umat, kapan, di mana dan dalam kondisi dan situasi apapun, selalu dan selamanya peduli, memberi, berbagi, menjadi “inspirasi” bagi tumbuh, besar dan berbuahnya benih benih kebaikan tanpa mengenal lelah melintasi dan menerobos ruang dan waktu.
    Sesungguhnya ada orang yang menjadi kunci pembuka bagi kebaikan dan kunci penutup bagi keburukan. Namun ada juga yang menjadi kunci pembuka bagi keburukan dan kunci penutup bagi kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada di tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada di tangannya.” (HR. Ibnu Majah. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 3986)
  • Sementara: sikap apatis, masa bodoh, tidak peduli bahkan marah dan kecewa, menganggap semuanya sudah “rusak”, tiada lagi harapan perbaikan, kemudian menarik diri dari “orbit” kehidupan, khususnya dalam bidang politik, hukum dan kenegaraan, adalah sikap yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya, karena bagi seorang muslim “berupaya” untuk terlibat dan melibatkan diri pada proses perubahan dan perbaikan, di samping berharap agar “area” kebaikan semakin luas, dan “ruang” keburukan semakin sempit, tetapi juga agar kita punya “alasan” di hadapan Allah SWT. Bahwa kita telah “berbuat”, sekecil apapun itu (Qs. Al-A’raf: 164,165), dan selanjutnya biarlah Allah SWT. Rasul dan Kaum Muslimin yang melihat dan menilainya (Qs. At-Taubah/09: 105)
  • Dalam konteks Dakwah, pemilu sesungguhnya bisa dijadikan renungan dan evaluasi oleh “lembaga-lembaga: Dakwah, pendidikan, ormas dan parpol-parpol Islam & dan berbasis kaum muslimin, tentang: kualitas dan Kapasitas Kaum Muslim pada semua level kehidupannya, sejauh mana efektifitas dari keseluruhan proses dakwah dan pembinaan yang dilakukan selama ini, memberikan pemahaman dan pencerahan tentang seperti apa mestinya setiap muslim membangun visi, misi hidupnya, memperjelas persepsi, sikap dan orientasi hidupnya, membangun kesadaran mengenai hak dan kewajibannya, baik pada tataran pribadi, keluarga, masyarakat dan bahkan berbangsa dan bernegara. Dan yang paling penting adalah: melihat, merasakan dan mengevaluasi sikap, semangat serta Ghirah terhadap pembelaan dan keberpihakan setiap muslim pada Aqidah dan keimanannya di tengah-tengah gempuran pihak-pihak lain, yang terus berupaya meredupkannya. Apakah kita masih peduli???

Akhirnya mari melihat negeri ini sebagai “kertas putih” yang ada beberapa noda hitamnya, mungkin cukup banyak, tetapi yakinkan dalam diri, isya Allah “harapan” itu masih ada, di tengah di tengah belantara “janji” yang berserakan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Pemaknaan Pluralis Ketuhanan Maha Esa Dalam Pancasila