Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Simpan Dulu Kepedihanmu, Ceritakanlah Nanti Setelah Kamu Sukses

Simpan Dulu Kepedihanmu, Ceritakanlah Nanti Setelah Kamu Sukses

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (salamstock.com)
Ilustrasi. (salamstock.com)

dakwatuna.com – Bismillah…

“Seorang yang kurang amalan-amalannya maka Allah akan menimpanya dengan kegelisahan dan kesedihan.” (HR. Ahmad)

Bingung, hilang mood untuk menulis gara-gara teman nan setia menamani menulis sudah tidak bersahabat dan Alhamdulillah akhir dapat pengganti yang baru. Mungkin selama ini kebiasaan menulis selalu merasa enak tenan di laptop, seakan-akan menulis di laptop ide lancar jaya seperti tol Cipularang yang menghubungkan kota Jakarta dengan kota Bandung. Mungkin kenapa menulis laptop lebih enakkan dibanding menulis di kertas karena laptop tua itu memiliki sejarah panjang dalam merampung pendidikan dan meraih gelar strata satu hingga title Magister. I don’t know why interesting if writing on laptop.

Pada akhirnya harus kembali menulis di kertas-kertas bekas selama 2 bulan lamanya. Takutnya jika laptop alasan tidak menulis bisa membunuh habbit yang sudah terbangun selama ini. Padahal hobi menulis adalah excellent, sebab tidak semua orang bisa merangkai kata menjadi taujih yang menggugah jiwa bagi pembaca. Bersyukurlah mereka yang mempunyai hobi menulis, selain sebagai ibadah tentu ada nilai lain yang terlihat wooww oleh mereka yang tidak bisa menyatukan kalimat.

Heeemmm…. Lain  tema kok lain pula menjadi introductionnya!! Semoga pembaca tidak bingung apalagi bergoyang oplosan huakss-huakss maklum sekarang lagi tren bagi mereka yang kebingungan langsung oplosan. Baiklah kita langsung membahas atau mengulas atau mengulik-ulik secara unik dan memikat tentang tema di atas. Bahwa sesungguhnya kita manusia selalu mendapat giliran kepedihan dalam kehidupan seperti belahan dunia mendapat giliran sinar matahari dan gelapnya malam. Kepedihan juga dipengaruhi oleh berbagai sebab atau suasana. Terkadang kepedihan itu membuat manusia itu terombang-ambing seperti bui di laut yang begitu gampang terbawa arus. Bahkan terombang-ambing hingga ke akar-akarnya seperti pohon tidak bisa bertahan dengan pergantian cuaca. Terkadang kepedihan malah membuat manusia semakin strong ibarat semut bertahan dengan predator yang siap menerkam kapanpun.

Namun yang menjadi permasalahan ketika dilanda kepedihan yaitu bagaimana cara menata, mengelola dengan cantik atau mengemasi kepedihan tersebut dengan indah sehingga tidak ada siapapun atau satu pun manusia mengetahui kalau kita sedang dilanda kepedihan, diterjang duka, digembor kesedihan karena kita memiliki prinsip bahwa ketika mendapat ujian dari manusia maupun Allah cukup Allah yang mengetahui duka itu. Sangat jarang manusia bisa menahan kepedihan tersebut, yang banyak adalah manusia yang selalu mempublish kepedihan pada manusia, baik melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung. Di zaman teknologi banyak media, tool dan jaringan memfasilitas manusia untuk menunjukkan duka pada dunia.

“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah).” (HR. Bukhari)

“Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya).” (HR. Al-Baihaiqi).

“Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuni-Nya.” (HR. Ahmad)

“Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang memperoleh hidayah.” (HR. Al-Baihaqi).

“Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Bukhari)

Padahal tidak menguntungkan pihak yang sedang kepedihan, sedang kesedihan, sedang berduka malah sebaliknya hanya sebatas ejekan, doa tak ada ruhnya atau sebatas like this your status bahkan yang didapat hanya tawa. Karena seperti itu realitas terjadi, coba kita renungi ayat berikut ini Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (Yusuf: 86)

Ketika kepedihan merasuki jiwa sebaiknya menyimpan rapat-rapat sehingga angin pun tidak bisa menembus ruangan tempat kita menyimpan suasana duka itu. Bahkan debu-debu beterbangan pun tidak bisa hinggap di ruangan itu. Apalagi manusia tentu tidak mengetahui. Ketika kepedihan menyentuh seluruh raga cukup disimpan dengan kunci keikhlasan atau cukup diceritakan pada Allah tempat segala urusan dikembalikan.

Jangan jadikan kepedihan sebagai bom waktu dan bekukan kepedihan dengan banyak mengingatkan kenikmatan Allah dengan banyak melaksanakan sunah-Nya. Dan ceritakan kepedihan itu setelah menjadi orang sukses di atas landasan syar’i sebagai motivasi mereka yang ingin sukses tetapi selalu dirundung kesedihan.  Setelah sukses ceritalah segala lika-liku kesedihan pernah ditemui, pernah di alami dan biarlah kesedihan atau kepedihan membawa kita pada maqam tertinggi di hadapan Allah maupun manusia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 5,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Masyarakat Ekonomi Asean 2015 - (foto: tubasmedia.com)

Menyukseskan Misi Dakwah di AEC 2015