Home / Pemuda / Essay / Untuk yang Masih Malu

Untuk yang Masih Malu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Mempunyai rasa malu itu bagus sekali. Malu juga merupakan bagian keimanan seseorang. Namun hal yang tidak boleh hinggap dan menetap di kita adalah malu-maluin, begitu pesan seorang kawan terhadap saya.

Saya sering mendapat pesan di inbox, Bang Joy, saya juga banyak punya puisi, tapi masih malu untuk share, masih gak pe-de, dan bla-bla segudang alasan. Terus karya-karyamu siapa yang menikmati? tanyaku serius. Yaa.. saya sendiri, karena saya catat di buku harian. Wah.. sayang dong, timpalku.

Dari sekian alasan tentang enggannya berbagi puisi di sosial media adalah merasa karyanya masih jelek. Om dan tante kalau hanya dirimu yang bilang jelek itu bukan penilaian yang adil. Apa yang mas bro dan mba sis lakukan adalah kekhawatiran yang berlebihan dan bisa jadi yang tadinya punya rasa malu, kini sudah berubah wujud jadi malu-maluin, seperti kata kawan saya.

Semoga ini jadi vitamin bagi yang masih malu. Seorang penulis puisi, adalah seorang yang merdeka dari “apa saja”. Tak usah kita terjebak dalam bahasa “teori”. mengapa? Tugas seorang penulis adalah menulis, untuk menentukan kriteria, dan tukang kritiknya, kita berikan kepada para “akademisi” yang mempunyai otoritas dan kemampuan untuk menentukan “rumpun”. Itu tugas kritisi sastra. Tugas kita menulis. Begitu pesan Pinto Janir Raja Penyair dalam sebuah diskusi.

Bagaimana perasaan kawan setelah ini, masih malu? Sudah tidak Bang Joy, hari ini juga saya akan share puisi kekawan-kawan, sebuah dialog kecil yang saya harap itu terjadi dan bukan lamunan saya saja… hehehe.

Apakah saya sudah yang terbaik hingga sudah punya pe-de tingkat penyair? Hahaha.. dengan terbuka saya jawab, belummmmmm. Untuk berbagi tak perlu menunggu menjadi yang terbaik. Namun dengan berbagi jalan menjadi yang terbaik bukan hal yang tidak bisa ditempuh. Mudahkan? tidak usah dipersulit, ayo segera share karyamu, segera berbagi suara hatimu, segera share puisi-puisimu, sepakat kawan?

Cintalah yang memungkinkan kita mengubah dunia menjadi sepenggal firdaus, begitu kata Anis Matta calon presiden dari PKS.

Semoga dengan cinta pula kita mau berbagi karya-karya terbaik kita.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Tri Joyo Adi
Memberi tanpa kehilangan, dengan berbagi makin membuat bertambah...

Lihat Juga

Ilustrasi. (buzzerg.com)

Wahai Para Penulis, Berterima Kasihlah Kepada Muhammadiyah!

Organization