Home / Berita / Internasional / Asia / SBY: Musibah MAS Jadi Momentum Perdamaian Laut China Selatan

SBY: Musibah MAS Jadi Momentum Perdamaian Laut China Selatan

Susilo Bambang Yudhoyono (inet)
Susilo Bambang Yudhoyono (inet)

dakwatuna.com – Jakarta.  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap musibah hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH-370 di sekitar Laut China Selatan dapat menggugah semangat kerjasama jangka panjang di kawasan itu yang biasa dilanda konflik tak berkesudahan.

“Semoga momentum ini bisa digunakan untuk mengedepankan persamaan, perdamaian, dan kerjasama di kawasan China Selatan untuk misi kemanusiaan,” kata Presiden SBY seperti dilansir setkab.go.id, Senin 10 Maret 2014.

Dalam akun twitternya, SBY juga menyatakan siap bekerjasama untuk mencari pesawat nahas tersebut. “Saya terus mengikuti laporan Menlu tentang hilangnya tujuh WNI di pesawat MAS Boeing 777-200 ke Beijing. Indonesia siap kerjasama dalam misi pencarian,” tulis SBY via @SBYudhoyono.

Enam negara, yakni Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, China, dan Amerika Serikat, sepakat bekerjasama mengerahkan tim SAR untuk mencari pesawat Malaysia Airlines yang hilang di perairan antara Malaysia dan Vietnam.

Sebelumnya Malaysia sudah meminta bantuan kepada Indonesia, dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko langsung mengirimkan tim khusus. TNI Angkatan Laut memberangkatkan lima Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan satu pesawat intai maritim untuk membantu pencarian pesawat MAS.

Sementara China mengerahkan dua kapal perang Angkatan Laut China serta kapal patroli 3411 ke perairan Laut China Selatan guna mencari pesawat Malaysia Airlines itu.

Singapura juga ikut membantu dengan mengirimkan pesawat Hercules C130. Vietnam dan Filipina pun mengerahkan kapal untuk membantu pencarian pesawat Malaysia Airlines.

Konflik Laut China Selatan

Permasalahan di Laut China Selatan sampai sekarang belum ada titik temu. Negara-negara di Asia yang mengklaim kawasan sengketa di sana adalah Malaysia, Vietnam, Taiwan, Filipina, dan China.

China dan Taiwan merupakan dua negara yang mengklaim bagian terbesar dari perairan strategis itu. China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan yang diyakini memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat banyak.

Persisnya, China mengklaim sekitar 90 persen dari 3,5 juta kilometer persegi Laut China Selatan yang bersinggungan dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan. Tidak itu saja, China juga  berencana menetapkan Zona Indentifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) di Laut China Selatan. (inilah/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • damar91

    Itu sengketa antara Malaysia, Vietnam, Taiwan, Filipina, dan China.

    Lebay Pak, sok-sokan mau mengurusi perairan orang masalah sengketa. Tanah sendiri diurus dulu pak, pendidikan belum merata. Udah mau 10 taun jadi presiden, daerah pelosok masih begitu begitu saja. Sok ngurusi lautnya tetangga.

  • BramSonata

    Apa hubungannya musibah (hilangnya)pesawat MH370 (MA) dengan urusan sengketa beberapa negara di asia tenggara dan china?

Lihat Juga

Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan empat mata membahas proses transisi kepemimpinan, di Laguna Resort and Spa, Nusa Dua, Bali, Rabu (27/8) malam. (kompas.com)

Zaman SBY Lautan Tenang, Zaman Jokowi Lautan Penuh Badai

Organization