Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Sistem Kaderisasi dalam Sirah Nabawiyah

Sistem Kaderisasi dalam Sirah Nabawiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Asli: Manhaj Tarbawi
Judul Terjemahan: Sistem Kaderisasi dalam Sirah Nabawiyah
Penulis: Syeikh Muhammad Munir al-Ghadban
Penerjemah: Khalis
Penerbit: Robbani Press – Jakarta
Tebal: xiii + 437 Halaman ; 23,5 cm
ISBN: 979-9078-80-6

Cover buku "Sistem Kaderisasi dalam Sirah Nabawiyah".
Cover buku “Sistem Kaderisasi dalam Sirah Nabawiyah”.

dakwatuna.com Pertarungan antara kebaikan dan keburukan akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Karena memang seperti itulah tabiat kehidupan yang sudah Allah ciptakan. Sehingga, sebagai seorang muslim, kita harus menyadari betul akan hal ini. Dan, bersungguh-sungguh agar terus menerus berada dalam kebaikan, hingga ajal menjemput kita.

Perjuangan memenangkan kebaikan Islam ini, merupakan pekerjaan yang tak kan pernah usai. Bahkan, ia lebih panjang dari usia masing-masing kita. Maka, estafet dalam hal ini, sangatlah penting. Jika tidak, kebaikan akan kalah. Meskipun pada akhirnya, karena sunnatullah, kebaikan akan kembali memenangkan laga. Meskipun, tanpa kita di dalamnya.

Perjuangan memenangkan kebaikan ini juga berlangsung dalam berbagai medan. Karena memang, Islam adalah agama yang menyeluruh. Mulai dari medan aqidah, syariah, politik, hingga dalam keseharian kita. Mulai dari aspek terkecil, diri dan keluarga, hingga aspek yang lebih besar; menjadi guru bagi alam semesta.

Di tahap inilah, perlu dipahami betul tentang makna jihad dan aplikasinya sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah dan generasi terbaik yang sezaman dengan beliau. Karena salah paham terhadap makna dan pelaksanaan jihad, bisa berakibat fatal. Mulai dari menganggap diri paling benar, mengkafirkan sesama muslim hanya karena beda ‘baju’ organisasi, hingga dengan mudahnya menumpahkan darah dengan dalih jihad qital. Tentu, kita tak menghendaki hal ini terjadi. Apalagi, kita hidup di Indonesia yang aman ini. Di mana perjuangan, tak melulu berbentuk mengangkat senjata sebagaimana saudara kita di belahan bumi lainnya.

Jihad yang merupakan amal tertinggi dalam Islam ini, disyariatkan secara bertahap. Karena kebertahapan ini memang bagian dari ajaran Islam, bukan serta merta apalagi revolusi berdarah. Bahkan, dalam proses perang sekalipun, pimpinan dan pasukan kaum muslimin sudah terlebih dahulu mengajak agar musuh-musuh Islam masuk ke dalam agama damai ini, dengan cara yang santun. Pun, dalam proses perang itu sendiri, Islam melarang membunuh orang tua jompo, anak-anak, ibu hamil, dan merusak tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang tidak terlibat dalam perang.

Jihad ini, awalnya dilarang oleh Allah ketika kaum muslimin berada di Mekkah. Banyak riwayat yang menerangkan peristiwa ini, di antaranya ketika ada sahabat yang mengajukan agar kaum Muslimin melawan siksaan kaum kafir Mekkah, namun Rasulullah menolaknya karena belum adanya perintah untuk berjihad.

Perintah untuk jihad ini baru diturunkan ketika kaum muslimin berhijrah ke Madinah. Namun, tidak serta merta. Dimulai dari perang kecil melawan suku-suku di Madinah yang menyerang kaum muslimin, kemudian hanya memerangi kaum kafir yang memerangi kaum muslimin, hingga memerangi seluruh kaum kafir, di manapun mereka berada, secara keseluruhan.

Perintah jihad ini, tidak terhenti ketika Rasulullah wafat. Tapi menjadi kewajiban abadi yang akan terus ada hingga kemenangan Islam kembali terwujud di muka bumi ini. Sehingga, masing-masing ormas Islam, harakah atau organisasi apapun yang mengaku memperjuangkan Islam, harus senantiasa mengingatkan dan mentarbiyah anggotanya tentang materi ini. Tidak sekedar itu, mereka harus pula melakukan serangkaian latihan fisik untuk menuju kesempurnaan jihad di segala aspeknya ini.

Mudahnya, materi tentang jihad ini banyak kita dapati dalam wahyu-wahyu langit, khususnya di dalam surah-surah tentang jihad, seperti Al-Anfal, At-Taubah, Al-Fath, dan surah lainnya.

Penting diingat, dalam rangkaian perang yang dipimpin Thalut atau Perang Badar, kita mencatat satu hal, bahwa golongan besar, bisa dikalahkan oleh golongan yang jumlahnya lebih kecil, jika pertolongan Allah menyertai mereka. Lebih lanjut, dalam Perang Badar ini, Al-Quran mencatat bahwa ribuan malaikat, diturunkan oleh Allah untuk membantu kaum muslimin Madinah yang memerangi kafirin pimpinan Abu Sofyan.

Yang membedakan kedua golongan ini adalah motif. Jika kaum kafir berperang lantaran gengsi, sombong dan pamer harta, maka kaum muslimin hanya berperang lantaran Allah, sehingga Allah  memenangkan mereka.

Buku yang ditulis oleh Syeikh Munir Ghadban ini, sangat relevan untuk kita kaji ulang. Meskipun, ditulis pada masa puluhan tahun Islam. Dirangkai dengan analisa yang tajam, disertai dengan banyak dalil shahih dari tafsir Sayyid Quthb, Imam ath-Thabari, Imam al-Qurthubi dan juga tafsir Ibnu Katsir, membuat buku ini semakin berbobot. Ditambah lagi dengan banyaknya keterangan hadits-hadits shahih, semakin menambah bobot dan kualitas buku ini. Yang tak kalah serunya, pengalaman beliau dalam dakwah, menjadikan sajian dalam buku ini serasa hidup. Sehingga kita seperti mendengar langsung taujih beliau, dan bersemangat dalam setiap lembarnya. Jihad, adalah sumber semangat dalam setiap amal Islami yang kita lakukan. Pun, jika kita hanya mampu berjihad dengan menafkahi keluarga dan merawat kedua orang tua kita.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Sistem Ekonomi Neraka yang Berlandaskan Hawa Nafsu