Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surat Cinta untuk Para Haters

Surat Cinta untuk Para Haters

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.com Selamat pagi,

Sahabatku yang sedang memperbaiki Indonesia dengan jalan yang berbeda. Kutulis surat ini sebagai salah satu pertanda cintaku kepadamu. Cinta yang mendalam atas nama kerja dan keharmonian.

Sahabatku,

Belakangan saya mulai risih dan gerah dengan tingkah polahmu. Meskipun kami punya slogan AYTKM (Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani), tetapi rasa–rasanya sikapmu mulai mengganggu pikiranku. Aku semaki tidak memahami bagaimana  sebenarnya yang kau mau dariku, dan apa yang seharusnya saya lakukan untukmu. Aku tidak mau membiarkanmu berlama–lama dalam penyakit yang pasti sangat mengganggu tidur malammu.

Sahabatku, kau ini bagaimana?

Kau minta aku berjuang, tapi kau melemahkan peran–peran yang aku lakukan. Kau suruh aku bekerja, tapi saat aku bekerja kau tuduh aku riya’ dan cari muka. Kemudian aku memilih bekerja dalam senyap saja, sebagaimana yang kau ajarkan agar aku ikhlas beramal. Tapi saat aku tak pernah nampak bekerja, dan tak kelihatan di media, kau bilang aku lemah tanpa daya. Apa aku diam saja?

Sahabatku, aku harus bagaimana?

Kau ajari aku bagaimana harus memegang prinsip, aku terapkan tapi kau tuduh aku kaku. Kau suruh aku toleran, aku terapkan tapi kau bilang aku ini plin plan. Kau ajari aku agar aku inklusif, tapi kau tak mau aku ajak masuk ke dalam jama’ahku. Kau ajarkan pula bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin, tapi sewaktu aku jadi partai terbuka kau bilang aku nyari raupan suara. Aku jadi salah tingkah. Jadi apapun masih tetap salah.

Sahabatku, kau ini bagaimana?

Aku ikuti perkataanmu untuk taati pemerintah, kemudian akupun menjadi koalisi. Aku duduk di parlemen dan kementerian untuk membela rakyat sebagaimana amanah darimu. Tapi saat aku mati–matian menolak kenaikan BBM, kau bilang aku tak tahu malu. Koalisi kok menentang pemerintah, itu katamu. Adalagi temanmu yang bilang kalau aku hanya mau enaknya saja karena menteriku tidak mengundurkan diri saja. Ada saja yang ingin kau lemahkan dari semua kerja–kerjaku.

Sahabatku, aku harus bagaimana?

Kau buat perundangan dan segala tata hukum kenegaraan, dan kau ajarkan kami harus menaatinya, tapi kau menerapkannya sesukamu. Kau tebang pilih begitu. Bahkan saat kita sepakat bahwa ini negara demokrasi, tapi kau membatasi suaraku tiap hari, kau malahan tertutup dalam mengurus negaraku ini. Apakah kau lupa kau pernah ajarkanku untuk cinta damai? Setiap hari kau ajak aku bertikai. Ah, kau ini memang susah dipahami.

Sahabatku, kau ini bagaimana?

Kita sangat sepakat untuk menegakkan syariat di negeri ini, memperjuangkannya agar semua perundang–undangan dan tatahukum diambil menggunakan ajaran agama kita. Akan tetapi saat aku berjuang kesana, engkau malahan menggembosinya. Kau bilang karena negara ini demokrasi dan produk barat, kemudian dirimu enggan berjuang disana. Saat aku memperjuangkannya untuk masuk ke parlemen, merubahnya perlahan, tapi kau tak membantuku untuk sampai kesana. Lantas aku harus minta tolong kepada siapa? Kau larang aku masuk politik, tapi aku tak bisa berdiam diri ada orang jahat memimpin negeri ini. Kau minta aku meninggalkan demokrasi karena ini thaghut, tapi kau sendiri masih saja berbangga dengan atribut. Lantas kita harus bagaimana? Berteriak–teriak di pinggir jalan? Sibuk dengan agenda pekanan dan kajian? Sibuk menghujat dan terhenti di pemikiran? Aku bisa demikian, tapi bukan untuk waktu yang lama. Aku harus turun ke medan perang.

Sahabatku, aku harus bagaimana?

Masih kuingat pesanmu agar jangan nyari uang di parlemen untuk kekayaan pribadi, Maka akupun harus kaya dengan uangku sendiri. Akan tetapi saat aku kaya, kau malahan tuduh aku korupsi. Kaupun berpesan agar aku jujur dan sabar, akupun mendengar dan menjalankannya. Kau suruh agar aku jangan melawan hukum, tapi masih saja kau tebang pilih menerapkannya. Kau semakin membuatku bingung saja.

Sahabatku, jujurlah kepadau, balas suratku… Apa sebenarnya maumu?

 

Ditulis dengan penuh cinta

Ttd

Sahabatmu

 

NB: Surat ini terinspirasi dari puisi karya Mustofa Bisri (Gus Mus): “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana”

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 8,45 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.
  • Essa

    Inspiratif !!!!!

  • Para haters telah tertutup mata pikirannya … partai apalagi yang lebih baik dari pks … partai yang paling lebih bersih dari partai2 lainnya. akibat dari media nasional selalu menjelekkan pks.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan