Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Membentuk Fikrah dan Visi Gerakan Islam

Membentuk Fikrah dan Visi Gerakan Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Asli: Abjadiyat at-Tashawwur al-Haraki lil ‘Amal al-Islami
Judul Terjemahan: Membentuk Fikrah dan Visi Gerakan Islam
Penulis : Fathi Yakan
Penerjemah: Ade Khalifah, Lc
Penerbit: Robbani Press – Jakarta
Tebal   : xii + 215 Halaman
ISBN   : 979-9078-90-3

Cover buku "Membentuk Fikrah dan Visi Gerakan Islam".
Cover buku “Membentuk Fikrah dan Visi Gerakan Islam”.

dakwatuna.com Perjuangan menegakkan Islam haruslah ditempuh dengan cara yang terorganisir rapi (tanzhim), dengan perencanaan yang matang, keterpaduan perjuangan di segala aspek (takamul) dan keseimbangan perjuangan dalam masing-masing aspek yang diperjuangkan (tawazun). Karena memperjuangkan Islam merupakan perintah langit, sehingga sangat mustahil jika dilakukan secara serampangan.

Aspek tanzhim dalam perjuangan Islam ini, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dalam proses hijrah. Di mana beliau mengorganisir dengan baik para sahabat yang ditugaskan dalam peristiwa tersebut. Mulai dari Abu Bakar ash-Shidiq yang menemani perjalanan, Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya, pemilihan Gua Tsur untuk bersembunyi –di mana gua tersebut terletak berlawanan arah dengan perjalanan menuju Madinah-, penugasan Abdullah bin Abu Bakar sebagai informan, Asma’ binti Abu Bakar sebagai penyuplai makanan, juga Abi bin Fahirah yang bertugas menyamarkan jejak dengan menggembala kambing di setiap sore hari. Tak ketinggalan, dengan dibayarnya Abdullah bin Uraiqith al-Laitsi sebagai penunjuk jalan menuju Madinah.

Tanzhim ini sangat penting, karena musuh yang dihadapi oleh kaum muslimin adalah organisasi internasional yang terstruktur rapi. Baik itu gerakan Salibisme Internasional, Zionisme Internasional maupun Komunisme Internasional.

Selanjutnya, gerakan Islam harus bersikap takamul, keterpaduan. Yakni meliputi banyak aspek, bukan bersifat juz’iyah (parsial). Karena tabiat Islam yang memang menyeluruh dan mengatur segala aspek. Sehingga, gerakan Islam tidak boleh hanya fokus pada salah satu aspek dan melupakan aspek yang lain.

Sebagai gambaran dalam hal ini, apa yang dirumuskan oleh Hasan al-Banna sangatlah relevan. Bahwa Ikhwanul Muslimin yang didirikannya, merupakan Dakwah Salafiyah yang mengajak kepada kemurnian Islam, Thariqat Sunniyah yang menyerukan pentingnya melaksanakan sunnah yang suci dalam segala aspek, Hakikat Sufiyah yang mengajak anggotanya untuk selalu menyucikan diri dengan aneka amal ibadah, Lembaga Politik yang menuntut perbaikan sistem pemerintahan dan hukum agar sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah, Perkumpulan Olah Raga yang menekankan pentingnya kesehatan anggotanya dengan aneka macam kegiatan dan pelatihan fisik, Ikatan Ilmiah dan Kebudayaan yang mewajibkan kepada anggotanya untuk mengutamakan dan menghargai ilmu pengetahuan, Usaha Ekonomi yang menekankan anggotanya agar pandai mengatur dan mengupayakan harta yang halal untuk kemaslahatan umat, dan Gagasan Kemasyarakatan yang mempunyai program agar anggotanya semakin bersemangat dalam menghadirkan kemanfaatan sebesar-besarnya untuk sesama.

Setelah aspek tanzhim dan takamul dipenuhi, gerakan Islam haruslah memiliki visi tawazun. Yakni seimbang dalam memperjuangkan masing-masing aspek takamul, hingga mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan yang ditargetkan.

Tawazun ini disusun sesuai dengan yang termaktub dalam al-Qur’an, dan sesuai dengan prioritasnya. Yakni Aqidah dan Tarbiyah, Fiqih Aqidah dan Syariat, Ibadah, Kekuatan dan Politik. Tawazun ini juga terkait dengan tanggungjawab para aktivis pergerakan Islam yang terdiri dari tiga aspek; tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, keluarga dan dakwah. Di mana masing-masing aspek ini harus dilakukan dengan baik agar tercipta cita-cita Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Jika gerakan Islam impian sudah memenuhi tiga aspek tersebut, selanjutnya gerakan Islam harus bisa mewujudkan kesatuan amal islami –bersatunya umat Islam dalam satu gerakan dan tidak terkotak-kotak apalagi banyak gerakan Islam-, memprogramkan tarbiyah jihadiyah dalam amal islami –sebagai puncak tertinggi dalam amal, dan untuk mempertahankan diri dari gempuran musuh di segala aspek kehidupan-, memahami dan mewujudkan pentingnya tarbiyah amniyah –sebagai syarat utama bagi berlangsungnya amal islami dan pertahanan diri terhadap intimidasi musuh Islam-, juga kewajiban memahami dan mewujudkan adanya internasionalisasi gerakan amal islami.

Terakhir, yang harus diingat dan diupayakan oleh masing-masing kader pergerakan Islam, adalah aspek ibadah sebagai sarana mengambil kekuatan dari Allah yang Mahakuat. Baik itu melalui qiyamullail, shalat berjamaah di masjid terutama subuh dan Isya’, mengakrabkan diri dengan al-Qur’an dan berupaya mengamalkannya, selalu merasa diawasi oleh Allah, menikmati karunia makan dan minum sebagai sarana untuk menguatkan diri dalam beribadah, berupaya mengamalkan Islam dalam setiap aspek kehidupan, dan selalu melakukan introspeksi diri terhadap setiap amal yang sudah, sedang dan akan dikerjakan.

Insya Allah, dengan ini semua, kejayaan Islam akan segera terwujud, bi idznillah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,88 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini