Home / Berita / Internasional / Eropa / Muslim Ukraina Tak Terpengaruh Kemelut Politik

Muslim Ukraina Tak Terpengaruh Kemelut Politik

Muslim Ukrania dalam sebuah shalat berjamaah - Foto: republika.co.id
Muslim Ukrania dalam sebuah shalat berjamaah – Foto: republika.co.id

dakwatuna.com – Kiev.  Bagi umat Islam Ukraina, yang jumlahnya mencapai 500 ribu orang, situasi politik gonjang ganjing tak terlalu berpengaruh, kata Imam Besar di negara bekas Uni Soviet itu.

Namun menurut para pengamat, sikap berbalik Rusia dalam politik bisa menghempaskan umat Islam di Ukraina. Krisis politik Ukraina, yang tercermin dalam dua kubu saling bertentangan antara yang pro-Eropa, utama etnis Ukraina, dan yang pro-Rusia (etnis Rusia) bakal mengancam terpecahnya persatuan Ukraina.

Pengkubuan semacam ini tak dikehendaki negara ini, Eropa, tetangganya Rusia bahkan Amerika Serikat, menurut pendapat Penasihat Keamanan Nasional AS Susan Rice awal pekan ini.

Pengkubuan seperti ini bisa menjadi semacam tindakan bunuh diri bagi minoritas Muslim Tatar Crimea, ujar Hakan Kirimli, penasihat masalah-masalah internasional Gerakan Nasional Tatar Crimea. Banyak umat Islam, kata Kirimli, yang diusir Uni Soviet pada 1944 karena dituduh berkolaborasi dengan tentara pendudukan Nazi Jerman. “Mereka ingin menetap di Ukraina dan tidak berani pergi ke Rusia,” kata Kirimli.

Namun Imam Besar Ukraina berhati-hati mengomentari demo Ukraina yang diperkirakan bakal berdampak terhadap komunitas Islam Ukraina.

“Kejadian belakangan ini tidak berdampak terhadap Muslim Ukraina dibanding terhadap komponen masyarakat Ukraina lainnya, “ kata Imam Besar Ahmed Tamim kepada Al Arabiya News Channel. “Pemerintah dan jabatan-jabatan politik di Ukraina tidak terpecah-pecah karena agama,” tambahnya.

Tamim mengatakan, komunitas Muslim yang mayoritas adalah anggota kelompok etnis Tatar yang tinggal di wilayah Crimea, bakal mendukung siapa pun pemimpin baru yang dipilih nanti, tak peduli agamanya apa.

“Kita akan mendukung siapa pun yang bekerja demi kemaslahatan dan kemakmuran Ukraina serta rakyatnya,” tambah Tamim.

Marc Scheneir, rabbi asal New York yang lama bekerja dengan Komisi Yahudi Ukraina yang berjuang menentang anti-Semitisme dan Islamfobia di negara ini, mengatakan bahwa “terlalu dini menyimpulkan” apakah kemelut Ukraina akan berdampak negatif bagi Muslim setempat.

“Kita perlu waspada dan memantau situasi, sehingga Umat Islam –khususnya di Crimea – tidak menjadi sasaran mereka yang terlalu xenophobia dan yang menempuh cara negatif lainnya,” tambah Scheneir. (inilah/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Gubernur Mekah: Iran Harus Hentikan Kedengkian dengan Arab dan Umat Islam