Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Si Wanita Bercadar Itu Aneh dan Lucu

Si Wanita Bercadar Itu Aneh dan Lucu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)

dakwatuna.comAku ingin bercerita tentang dua kejadian unik di acara perlombaan menghafal Al-Qur’an dan hadits tingkat ASEAN dan Pasifik, ajang yang hampir setiap tahun diselenggarakan oleh keluarga besar Sa’ud, Amir Sulthan Abdul ‘Aziz -rahimahullah-.

Pertama, seorang anak kecil yang berusia 13 tahun, peserta termuda cabang 30 juz asal Tajikistan, dia tampil cukup memukau di hadapan dewan hakim yang didatangkan langsung oleh panitia dari Saudi. Ketika ditanya 5 soal tahfizh dia menjawab beda dari peserta lain, ya, dia menambahkan keterangan surat Makkiyah dan madaniyah di setiap soal, juga menjelaskan pojok dan halaman keberadaan setiap ayat dalam soal, bagi yang terbiasa mengikuti lomba menghafal Al-Qur’an mungkin ini hal yang sudah biasa, tapi bagi yang baru pertama kali melihat maka akan berdecak kagum, terlihat banyak mata tertuju padanya. Uniknya, dewan hakim malah terlihat sedikit bete, akhirnya pada soal selanjutnya tanpa ada keterangan lebih itu. Suara anak kecil tadi memang indah seperti Thaha al-Junaidy, tapi ada waqaf dan ibtida yang juga harus diperhatikan. Overall is good, he is one of a genius child.

Untuk cabang 30 juz ini saya menjagokan Syekh Saihul Basyir, suaranya yang khas dan adem membuat para mustami’ (pendengar) tersihir. Lebih tepatnya lagi karena dia bernadzar kalau menang ingin puasa Daud (hari ini puasa, besok buka, selang-seling) sampai ujian nasional (UN), ya, karena dia memang masih duduk di bangku 3 SMA. Satu lagi nadzarnya ia ingin menyumbangkan sebagian hadiah (uang) ke saudara-saudara di Gaza, Palestina. Untuk yang terakhir ini sempat saya kritik (baca: saran), sebaiknya dialihkan saja ke korban banjir atau korban bencana alam lainnya yang terjadi di Indonesia. Ia pun tersenyum, menurut saya nadzarnya sangat bagus, mengenai sumbangan itu hak dia mau diberikan ke siapa saja. Semoga beliau berjaya di ajang ini, dukungan sportif.

Kedua, kejadian unik ketika break istirahat, tepatnya setelah makan siang bareng Basyir dan yang lainnya, setelah makan saya sengaja duduk santai sambil membaca koran Republika yang disediakan panitia, sedangkan Basyir dan yang lainnya asyik ngobrol dengan peserta dan panitia, tepatnya di dua barisan bangku di depan saya.

Ketika sedang khusyuk membaca koran, tiba-tiba ada seorang perempuan bercadar duduk dua bangku di samping saya, beberapa menit kemudian dia menegur saya, awalnya saya respon, mungkin ingin bertanya hal biasa (di mana kamar mandi atau yang lainnya), tapi lama kelamaan pertanyaannya malah banyak, membuat saya jadi kurang khusyuk membaca koran, intinya saya menangkap bahwa dia ingin bertanya di mana tempat menghafal untuk anak sekolah yang paling tepat, akhirnya saya jawab di pesantren tahfizh modern Darul Qur’an Mulia, Bogor. Tapi dia malah melebar bertanya ke banyak hal, menggoda saya untuk melayaninya, sejujurnya saya risih, mungkin karena belum terbiasa ngobrol dengan wanita, berduaan. Dalam hati saya berpikir, “ini kok cewek aneh banget yah, bercadar tapi berani bertanya banyak hal ke saya (orang yang belum dikenal), se-umur-umur baru kali ini menemukan wanita bercadar seperti itu, di Mesir saya sudah terbiasa melihat wanita bercadar, tapi mereka menjaga muru’ah dan ‘iffahnya sebagai wanita, ya, pendiam tepatnya.”.

Anehnya, banyak pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Ya, karena pas saya jawab, dia bilang sudah tahu. Lucu lihatnya, sebenarnya apa yang dia inginkan. Hal ini pun saya ceritakan ke Basyir dan lainnya, karena wanita bercadar itu mendatangi mereka, saya yang menyarankannya, ternyata dia berani datang dan duduk di kumpulan mereka.
Bagi saya, secara umum wanita bercadar itu baik, saya mendukung hal itu tanpa memaksa, tapi kalau melihat tingkah laku wanita itu rasanya gimana ya? Saya tidak mau menyalahkan wanita bercadar itu, semoga Allah menjaganya, dan semoga Allah selalu menjaga kami (kaum adam) dari fitnah wanita yang tidak baik. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 7,34 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • Riris Rizki

    Ya masalah seperti itulah yang sering menghantui saya…..dengan lebih mengenal islam….saya mulai sedikiy demi sedikit berusaha memahami dan mengimplementasikan….jujur saya tipe wanita yang cerewet abis bahkan pada orang yang baru bersua…sungguh kebiasaan cablak ini yang mengenalkanku pada banyak komunitas….Insyaallah dengan islam saya mulai menciptakan rem yang bisa berperan sebagai sekat untuk menjaga kehormatan sebagai muslimah…insya allah….karena islam agama yang preventif…saya menyakini dengan jelasnya jarak antara yg bukan mahrom akan meminimalisasi fitnah..

  • jonny hendarman

    maksud makalah diatas itu apa bingung, kok wanita bercadar lucu, terus ada kata kata tersihir, memang alquran itu kitab sihir? ini siapa yang buat makalah di atas, kok menganggap alquran sihir a’uzubillah minzalik

    • Andika Buket-kl

      Bukan alquran itu sihir…tpi kmu tidak habis membacanya…
      Maksud diatas…”bagaikan tersihir”

    • Maulana Wahyudi

      Ngerti [Kiasan] ?

  • Muhammad Raid Al Faruqi

    mungkin si fulanah baru belajar stad . .

  • diberi Nasehat lebih bagus kali ya untuk Wanita Bercadar tersebut, namun waktu tempat cara bagaimana dan siapa harus disesuaikan juga,

  • Godzai Curcas

    Apa yang aneh dan lucu dgn cerita wanita bercadar di atas????? kada nyambung akhi

Lihat Juga

Ibuku Wanita Terkuat