Home / Berita / Nasional / Kapolri: Tak Ada Agama yang Ajarkan Kekerasan

Kapolri: Tak Ada Agama yang Ajarkan Kekerasan

Ilustrasi - Foto: kabar24.com
Ilustrasi – Foto: kabar24.com

dakwatuna.com – Jakarta. Terorisme merupakan aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Untuk mengatasinya, pemuka agama diharapkan ikut menyampaikan ajaran yang benar sebagai bagian dari upaya deradikalisasi.

Demikian disampaikan Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutarman, seusai bertemu dengan unsur pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat, di Jakarta, Selasa (25/2).

Hadir dalam acara itu, Ketua MPR Sidarto Danusubroto, didampingi tiga Wakil Ketua MPR, yaitu Melani Leimena Suharli, Hajriyanto Y Thohari, dan Lukman Hakim Saifuddin.

Kepala Polri antara lain didampingi Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Oegroseno, Kepala Badan Reserse Kriminal Komjen Suhardi Alius, Kepala Badan Pemelihara Keamanan Komjen Badrodin Haiti, Inspektur Pengawasan Umum Polri Komjen Anton Bachrul Alam, dan Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komjen Budi Gunawan.

”Tidak ada ajaran agama mana pun yang mengajarkan berjuang dengan kekerasan. Kami menyampaikan, apa yang dilakukan kelompok mereka bukan murni agama. Justru mereka menyalahkan agama untuk kepentingannya,” kata Sutarman.

Sutarman menyatakan, penegakan hukum merupakan garda terakhir dalam upaya menyelesaikan masalah apa pun, termasuk terorisme. Peran pemuka agama dalam upaya deradikalisasi juga amat diharapkan.

Polri, lanjut Sutarman, tidak menghendaki korban jatuh dalam penegakan hukum kejahatan terorisme. Penegakan hukum yang teratur akan dilakukan saat Polri berhadapan dengan pelaku aksi terorisme yang membawa senjata api hingga membahayakan petugas dan masyarakat serta pelaku itu tidak menghiraukan peringatan petugas.

Sidarto menambahkan, ”Masalah (terorisme) ini masalah semua elemen masyarakat. Kami mengharapkan, penanggulangan terorisme bisa dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum.”

Hal itu berarti, lanjut Sidarto, penegakan hukum terhadap pelaku terorisme diharapkan tidak menimbulkan korban. Para pelaku lebih baik dapat ditangkap. Pengadilan yang akan memutuskan apakah mereka bersalah atau tidak, teroris atau bukan.

”Itulah risiko yang dialami polisi. Korban di kalangan polisi juga banyak. Nanti kita bahas bersama,” kata Sidarto saat ditanya bagaimana jika saat mau ditangkap, pelaku membawa senjata api dan melawan petugas.

Badrodin Haiti menyatakan, dalam pertemuan itu, tidak ada masalah lain yang dibahas, seperti pemilu. Pembicaraan terkait dengan penanggulangan terorisme. Pencegahan aksi terorisme juga menjadi salah satu perhatian unsur pimpinan MPR karena terkait dengan upaya menegakkan nilai-nilai Pancasila. (kompas/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Wila Salam

    Untuk membuktikan ucapan Pak Sutarman itu tulus, pertama yg harus dilakukan adalah mengadili Densus 88 yg kerap membantai muslimin yg DI DUGA teroris tanpa proses hukum. Berani?? Atau Anda lah sutradara di balik peristiwa2 itu?? Wallohu ‘alam bishawab.

Lihat Juga

Ahok Jadi Tersangka, Ustadz Arifin Ilham: Ini Awal Musibah Bagi Penista Alquran