Home / Berita / Internasional / Afrika / Krisis Afrika Tengah, Telah Mencabik Rasa Kemanusiaan Kita

Krisis Afrika Tengah, Telah Mencabik Rasa Kemanusiaan Kita

Pengungsi korban konflik di AfrikaTengah (inet)
Pengungsi korban konflik di AfrikaTengah (inet)

dakwatuna.com Bangui.  Kekerasan terhadap Muslim Republik Afrika Tengah (CAR) telah mencabik-cabik rasa kemanusiaan kita. Amnesti Internasional, mengeluarkan peringatan bahwa saat ini sedang terjadi genosida terhadap umat Islam di Republik Afrika Tengah.

Pada hari yang sama, Human Right Watch mengatakan populasi minoritas Muslim di negara itu telah menjadi sasaran gelombang kekerasan tanpa henti yang terkoordinasi. “Memaksa komunitas tersebut meninggalkan negara itu,” kata Human Right Watch.

Antonio Guterres, kepala Badan Pengungsi PBB, mengatakan, dia telah melihat bencana kemanusiaan dengan proporsi tak terkatakan di Afrika Tengah. “Pembersihan masif etno-religius,” sebut dia. Guterres menyebutkan pembunuhan tanpa pandang bulu dan pembantaian telah terjadi, dengan kebiadaban dan kebrutalan yang mengejutkan.

“Sangat menyedihkan bahwa hampir setengah juta orang Afrika Tengah telantar, sejak Desember 2013 saja. Total (sejak konflik terjadi), ada 2,5 juta orang,” kata Guterres. Puluhan ribu orang, ujar dia, mengungsi dari kampungnya tetapi kemudian terjebak tanpa tujuan. Di Bangui saja, kata dia, ribuan orang berada di dalam ghetto dengan kondisi memprihatinkan.

Merespon krisis Afrika Tengah itu, Presiden ACT Ahyudin menyatakan, ACT mengedepankan sudut pandang kemanusiaan menyikapi krisis Afrika Tengah. Tak dipungkiri adanya dimensi agama sebagai dalih terjadinya kekerasan, tapi tak seharusnya hal itu memicu kekerasan lanjutan.

Saatnya Indonesia sebagai negara yang mengakui agama penduduknya, negara pluralis penjaga harmoni, menyuarakan penghentian kekerasan di Afrika Tengah. Bangsa besar, bangsa yang sanggup dengan tulus dan tegas menyikapi problem kemanusiaan.

“Kita mendambakan dan menyatakan aktif menjaga perdamaian dunia, sehingga tak boleh abai terhadap sikap menggampangkan hilangnya nyawa manusia,” papar Ahyudin.

Krisis Afrika Tengah yang memicu eksodus dan pengungsian besar-besaran. Indonesia pernah diusik krisis serupa, merasakan ketidaknyamanan berkonflik dan segera mengakhirinya. Segerakan, atas nama kemanusiaan, sikapi krisis Afrika Tengah dengan penuh kebijakan dan kecintaan pada perdamaian. ACT siap menunaikan dukungan kemanusiaan terhadap pengungsi yang bernasib malang terusir dari Tanah Air mereka.

“Para tokoh nasional, di tengah perhatiannya atas sukses 2014, sebaiknya ikut hirau pada krisis yang sudah menghilangkan banyak nyawa di Afrika. Ini bagian dari wujud kematangan leadership para pemimpin nasional, pemimpin politik, Ormas dan lembaga kemanusiaan di Indonesia. Bersama, bantu manusia-manusia malang Afrika Tengah ini,” ajak Ahyudin. (ACT/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Pauline Hanson dalam pidatonya yang bernada Islamofobia di Parlemen Australia, Rabu (14/9/2016). (abc.net.au)

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim

Organization