Home / Berita / Nasional / Sang Presiden di Mata Sang Guru

Sang Presiden di Mata Sang Guru

Anis Matta bersama sang guru, Abdul Djalil Thahir - Foto: PKS Sulsel
Anis Matta bersama sang guru, Abdul Djalil Thahir – Foto: PKS Sulsel

dakwatna.com – Sore itu, hujan masih turun malu-malu ketika tim media PKS Sulsel tiba di kediaman ustad Abdul Djalil Thahir, sosok berwajah teduh dengan senyum bersahabat menyambut kami di depan pintu. Sosok itulah yang diakui oleh Anis Matta telah membentuk karakternya sejak remaja, dan dari didikan sosok itu pulalah lahir orang-orang besar, dua diantaranya adalah Anis Matta dan Shamsi Ali, Imam Besar Amerika Serikat. Ditemani teh hangat, obrolan tentang sosok Anis Matta di mata Sang Guru mengalir dengan deras.
Santri Paling Kecil di Darul Arqam

“Dia bertubuh kecil tapi pemberani.” Abdul Djalil Thahir

Pada awal tahun 1980, seorang anak kecil datang bersama pamannya ke pesantren Darul Arqam untuk mendaftarkan diri sebagai santri baru, bocah itu bertubuh kecil dan kurus, dia adalah santri paling kecil di antara ratusan santri Darul Arqam, namun sorot matanya tajam melambangkan ketegasan dan kecerdasan. Santri kecil itu bernama Anis Matta. Pamannya yang bernama H. Mahmud menyekolahkan Anis Matta di pesantren yang didirikan oleh Ustad Abdul Djabbar.

Anis Matta, bocah berusia 11 tahun itu datang sebagai botol kosong yang siap diisi apa saja di pesantren. Maka didikan para pembina di pesantren membuat karakternya terbentuk dengan baik.

Dengan tubuh yang kecil, awalnya banyak santri yang tidak memperhitungkan Anis Matta, namun dengan berjalannya waktu, anak itu memperlihatkan kemampuannya, kecerdasannya dan kepiawaiannya dalam berkata-kata membuatnya diakui oleh semua santri Darul Arqam, tak terkecuali Sang Guru, Abdul Djalil Thahir.

Sosok Cerdas dan Disiplin

“Di Pesantren ini, kalian harus siap “dipalu”, “digergaji”, kalian memang tidak merasakan manfaatnya saat ini, tapi kalian akan merasakan manfaatnya saat keluar nanti.” Abdul Djalil Thahir

Nasehat itulah yang sering diulang oleh Abdul Djalil di depan semua santri Darul Arqam, Abdul Djalil saat itu adalah guru bahasa Arab di pesantren tersebut. Dia adalah guru yang sangat disiplin, tidak pernah terlambat masuk mengajar.

Darul Arqam mengajarkan para santrinya untuk hidup disiplin, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali semua ada aturannya. Abdul Djalil mengakui bahwa Anis Matta adalah sosok yang sangat patuh pada peraturan pesantren.

“Saya sangat tegas jika mengajar, santri yang terlambat boleh mengikuti pelajaran tapi dengan syarat berdiri sampai pelajaran usai. Anis Matta tidak pernah terlambat mengikuti pelajaran, dia anak yang rajin.” Ungkap lelaki kelahiran 1945 ini.

Di Pesantren, Anis Matta adalah sosok yang ramah, dia tidak punya musuh dan tidak pernah bertengkar. Dia disukai banyak orang karena kecerdasan dan kebaikannya.

Nasi Kecap yang Membuatnya jadi Orang Besar

Seperti halnya pesantren pada umumnya, menu makanan pesantren ala kadarnya. Menurut Abdul Djalil, di pesantren Darul Arqam santri tetap makan 3 kali dalam sehari.

“Santri makan 3 kali dalam sehari, dan aturan tetap berlaku, jika ada santri yang terlambat pada jam makan, maka dia tidak mendapatkan jatah makanan, dia makan pada jadwal makan selanjutnya.” Tegas Abdul Djalil.

Anis Matta pernah menceritakan bahwa menu sarapan pagi di pesantren Darul Arqam saat itu sangat unik, hanya sepiring nasi kecap, menu itu pertama kali dirasakan Anis Matta di pesantren itu. Namun guru-gurunya sering menasihati bahwa nasi kecap itulah yang nantinya akan membuatnya jadi orang besar.

Abdul Djalil menambahkan bahwa dia melatih para santri untuk menjadi orang mandiri dan kuat. Saat itu Darul Arqam masih hutan, jauh dari akses kendaraan umum, harus berjalan beberapa kilo untuk sampai di jalan raya. Fasilitas juga sangat minim, Untuk mandi, para santri harus berusaha sendiri menimba air di sumur yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari pesantren. Sumur itu dikelilingi oleh kubangan kerbau yang menyebabkan airnya bau. Namun para guru menghibur Anis dan kawan-kawannya, bahwa air yang bau itulah nanti membuat mereka jadi orang-orang kuat.

Yah, nasi kecap dan air yang bau itulah yang membuat Anis menjadi orang besar dan berkarakter. Apa yang dinasihatkan para gurunya ternyata benar adanya.

Anis Matta Sosok yang Kritis

“Kalau kamu tidak bisa melawan dan mengalahkan saya, berarti kamu bukan murid saya.” Abdul Djalil Thahir

Salah satu karakter Anis Matta yang disukai oleh Abdul Djalil adalah sikap kritis yang dimiliki anak umur belasan tahun itu. Anis berani menyampaikan kritikannya jika merasa tidak sesuai dengan pendapatnya. Menurut Abdul Djalil itu adalah karakter pemimpin. Ayah dari delapan anak ini menceritakan sikap kritis Anis Matta yang tidak bisa dia lupakan.

“Saat itu Anis Matta kelas 6 (Tiga Aliyah), kebijakan di pesantren, santri Aliyah dimasukkan ke jurusan IPA, Anis dan teman-temannya tidak setuju, karena harusnya mereka di jurusan syariah dan tarbiyah, tapi karena saat itu saya lagi di luar kota mengikuti pendidikan selama 3 bulan maka dia belum sempat protes.” Kenang Abdul Djalil.

Menurutnya, Anis tidak bisa menahan gejolak ketidaksetujuannya, maka dia mendatangi rumah Abdul Djalil dan bertemu dengan istri Sang Guru, Khaeriah Abdul Jabbar.

“Bu, tolong berikan alamatnya ustadz, kami mau kirim surat, kami tidak mau seperti ini.” Protes Anis di depan istri Abdul Djalil.

“Tidak bisa, kamu tidak boleh mengganggu suami saya yang sedang ikut pendidikan, kalau mau protes nanti saja ketika dia sudah pulang.” Tegas Khaeriyah menolak permintaan Anis, maka Anis pun menahan keinginannya hingga Sang Guru kembali ke pesantren.

Saat kembali dari pendidikan, Abdul Djalil melihat gejolak dan sikap kritis di mata Anis, maka dia menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan kebijakan pesantren.

“Kenapa kalian tidak mau belajar IPA? Padahal dalam Al-quran itu isinya tentang alam dan cara mengatur alam.” Abdul Djalil menjelaskan panjang lebar di depan ratusan santri, Anis mendengarkan dengan seksama.

Setelah itu tidak ada penentangan, Suami dari Khaeriyah Abdul Djabbar itu sangat paham bahwa Anis memang kritis jika tidak ada hal yang sesuai dengan pemikirannya, namun setelah mendapat penjelasan dan masuk akal maka dia akan menjadi orang yang sangat patuh.

Sosok Cinta Membaca dan Menulis

Siapa yang tidak mengenal Anis Matta dengan buku Serial Cinta nya. Ternyata Putra kelahiran Bone itu telah memulai karir menulisnya saat dia masih di Pesantren Darul Arqam, tulisan sastra berupa puisi pernah dimuat di koran lokal, dan tulisannya juga sering menghiasi buletin Pesantren, buletin itu bernama iqro.

Anis Juga adalah sosok yang selalu mempergunakan waktunya dengan baik, tidak ada waktu yang dibiarkan terbuang percuma, dia selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca.

“Makanya kalau dia berbicara, dia bisa menyambungkan peristiwa-peristiwa, itu semua didapat dari membaca.” Ungkap lelaki pendiri Pesantren Darul Aman itu.

Menjadi Sekretaris Sejak Aliyah

“Jika ingin menjadi ketua yang sukses, jadilah sekretaris yang sukses” Abdul Djalil Thahir.

Sebelum menjadi presiden Partai Keadilan Sejahtera, Anis Matta adalah Sekretaris Jenderal sejak Partai Keadilan terbentuk pada tahun 1998, dia adalah sekretaris yang tak tergantikan. Pengalaman menjadi sekretaris ternyata sudah dijalani oleh bintang Darul Arqam sejak kelas 5 (2 Aliyah). Saat itu Anis menjadi sekretaris OSIS yang diketuai oleh Thalabuddin Welete.

Abdul Djalil yang juga pembina OSIS sengaja menempatkan Anis sebagai sekretaris karena dia melihat ada karakter kepemimpinan dalam dirinya.

“Sekretaris yang sukses bisa menjadi ketua yang sukses, sedang ketua yang sukses belum tentu menjadi sekretaris yang sukses.” Nasehat Abdul Djalil kepada Anis Matta saat itu.

Anis menjalankan tugasnya sebagai sekretaris OSIS selama satu tahun, Abdul Djalil menganggap bahwa dia sukses menjadi sekretaris saat itu.

Dia Bintang di Pesantren dan Di Luar Pesantren

“Jika Anis menjadi presiden RI, maka Shamsi Ali jadi menteri luar negeri” Abdul Djalil Thahir

Anis Matta menyelesaikan pendidikan di Darul Arqam pada tahun 1986 dengan menjadi lulusan terbaik. Dia menjadi bintang di Darul Arqam, tidak ada yang bisa menggeser Anis dari posisi pertama. Abdul Djalil menuturkan bahwa salah satu santri yang sama cerdasnya dengan Anis Matta adalah Shamsi Ali, santri dari Kajang Bulukumba yang saat ini menjadi Imam Besar di Amerika Serikat. Shamsi Ali adalah Junior Anis Matta.

“Anis angkatan 1986 sedang Shamsi Ali angkatan 1987. Mereka sama-sama cerdas.” Ungkap salah satu pendiri Yayasan Pembina Dakwah Islamiyah itu.

Lelaki yang juga perintis Pesantren Darul Istiqamah itu menyatakan bahwa Jika Anis Matta menjadi Presiden RI maka Shamsi Ali layak menjadi menteri luar negeri.

“Mereka adalah sosok yang cerdas, sahabat akrab, jiwa leadership ada pada diri mereka.” Lanjut sosok yang juga menjadi calon DPD RI nomor urut 4 ini.

Bintang Darul Arqam itu tidak pernah redup, setelah dia melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta, bintang itu makin bersinar, dia kembali menjadi sosok yang dikagumi kecerdasannya bahkan dia ditawari untuk melanjutkan S2 di Saudi Arabiyah dengan beasiswa full. Namun Anis menolak tawaran itu dan lebih memilih menggeluti keasyikannya dalam tarbiyah di bumi pertiwi.

Keputusan Anis itu sempat merisaukan Sang Guru, namun dia yakin bahwa Anis saat itu  adalah sosok dewasa yang bisa menimbang baik dan buruknya sebuah keputusan.

“Nak, kenapa kamu menolak beasiswa S2 itu? ini adalah kesempatanmu untuk kuliah di sana” Abdul Djalil menanyakan alasan Anis menolak tawaran beasiswa itu.

“Saya lebih memilih untuk mentarbiyah di sini ustadz.” Anis menjelaskan alasannya, dia lebih memilih gerakan tarbiyah yang menjadi cikal bakal berdirinya Partai Keadilan yang saat ini berganti nama menjadi PKS.

“Lihatlah, itu adalah keputusan yang tepat, dia memang cerdas dan penuh pertimbangan. Gerakan tarbiyah yang dia pilih menjadikannya dikenal seperti sekarang.” Kata Abdul Djalil sembari tersenyum mengisahkan Anis Matta.

Anak Sang Guru yang Setia Mendampingi Anis Matta

Abdul Djalil sangat mencintai Anis Matta dan Anis pun sangat mencintai dan menghormati Sang Guru, setelah keluar dari Darul Arqam bahkan saat Anis Matta sudah punya nama, dia tidak pernah lupa terhadap gurunya, Anis selalu menjaga silaturahim dengan Abdul Djalil. Bahkan Anis meminta anak ke empat dari gurunya itu menjadi sekretaris pribadinya. Dan Abdul Djalil “mewakafkan” anaknya, Ahmad Sahal untuk mendampingi Anis Matta.

Ahmad Sahal sendiri adalah seorang penghafal qur’an sejak usianya masih belasan tahun, dia menghafal al-quran di Pakistan saat mengikuti ayahnya yang sedang kuliah di Universitas Internasional Islamabad. Sahal adalah orang asing pertama yang menghafal Al-quran 30 juz di Islamabad.

Dari Ahmad Sahal inilah Sang Guru mengupdate info tentang keseharian Anis Matta, dia selalu mengikuti perkembangannya setiap hari.

“Anis juga yang mencarikan jodoh buat adiknya (Ahmad Sahal, red)” Ungkap Abdul Djalil, Anis mempertemukan Sahal dengan putri gurunya di Jakarta

Pesan Sang Guru Buat Sang Calon Presiden

Abdul Djalil tidak meragukan kemampuan murid terbaiknya itu, menurutnya Anis memang layak menjadi 01 negeri ini. Maka ada satu pesan penting Sang Guru buat Sang Calon Presiden.

“Niat untuk menjadi 01 RI harus dipermantap, karena kamu memenuhi persyaratan untuk itu.” Pesan Abdul Djalil menutup ceritanya. (pks sulsel/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Anis Matta Minta tenaga Ahli Fraksi PKS Kuasai Lima Bahasa Asing