Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Pemenang Itu Butuh Proses

Menjadi Pemenang Itu Butuh Proses

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSore masih saja ramai karena memang sore adalah waktu di saat banyak orang menyelesaikan banyak pekerjaannya. Begitu juga untuk para pelajar yang biasanya menggunakan waktu setelah belajar untuk pelajaran tambahan atau kegiatan ektrakurikuler yang mendukung kegiatan belajar. Tak berselang beberapa waktu saya menaiki sebuah angkutan umum yang memang pada pukul begitu anak sekolah juga sering naik, sehingga jadilah saya berdampingan dengan para anak sekolah. Beranekaragam memang prilaku dan tingkah laku mereka, tetap saja banyak pelajaran yang bisa kuambil.

Seperti sore kali ini, mereka dua “anak bujang” (pemuda) memakai seragam sekolah menengah, tepatnya mereka adalah berasah dari sekolah aliyah. Aku telah lebih dahulu naik di angkot tersebut, sehingga ketika baru naik angkot, mereka memang sedang asyik berbicara berdua. Ada wajah lelah memang di wajah mereka, tapi volume suaranya sangat jelas terdengar di telingaku. Percakapan singkat yang juga bisa kita jadikan telaah untuk diri kita masing-masing. Mereka pada awalnya berbicara mengenai nilai, tugas dan lain-lain, tapi ada satu hal yang sangat menarik untukku.

Mereka bertanya jawab dengan intonasi minang karena saya sedang berapa di daerah minang. Kira-kira dari yang kutafsirkan seperti ini:

Satu orang bertanya pada temannya, “Baa hafalan?(Bagaimana hafalan?)

Lalu dijawablah sama temannya, “Paniang den.” (Pusing saya.)

“Baa tu?(Kenapa?)

“Banyak bana yang harus disetor, tafsir ado pulo.” (Banyak sekali yang harus disetor, tafsir ada pula.)

Aku langsung tertarik, mereka tengah mengejar target tugas hafalan ayat serta hadist yang harus mereka setor kepada gurunya.

“Aden baru bara ayat disetor” (Saya baru beberapa ayat disetor).”

Dalam hati saya tertawa sendiri. Jadi pelajar memang menyenangkan, tapi bagi mereka kuyakin sangat membebani. Namun, semua beban itu kuyakin suatu saat mereka akan merasakan manfaatnya. Lalu senyumku kembali terkembang kerena spontan saja, satu temanya berkomentar ringan, Aden baru tigo ayat yang hafal..haha.”(Saya baru tiga ayat yang hafal.)

Tiga ayat yang ku tahu, rata-rata orang lain sudah pada hafal karena memang sudah sangat sering dibaca, dan dugaankupun benar, temannya yang satu langsung berkomentar,Kalau itu, lah hafal juo mah.”(Kalau itu, sudah hafal juga.) Lalu berderailah tawanya.

Sembari berbincang, satu anak sekolah tadi langsung mengulang hafalan ayat yang telah ia hafal, kemudian, ia bertanya lagi pada temannya, Ayat yang ka anam baleh itu bunyi nyo kan?” (Ayat yang ke 16 seperti itu bunyinya kan?)

“Yup!”

Secera cepat ia menjawab betul. Seketika ada respon senang di hatiku. Luar biasa. Mereka ternyata mampu. Kadang kala kita mungkin hafal, namun ketika ditanya ayat yang tak berurutan akan kesulitan. Tapi mereka tidak. Itupun yang kutahu bukanlah surat yang berada di juz 30.

Penafsiran singkat memang dari bisa kuambil di sore kali ini, bisa memberi kontribusi positif untuk diriku sendiri. Ada mimpi kemenangan besar kelak di tangan banyak pemuda dan pemudi, tinggal bagaimana kita mengolahnya dengan baik.

Nah… sahabat, hikmah yang bisa kita ambil dari sedikit prolog dan percakapan yang terdengar bagiku selintas tersebut di antaranya adalah menjadi pemenang itu butuh proses. Di sini, bisa kita lihat, tak gampang untuk bisa menghafal ayat demi ayat, apalagi dengan tuntutan belajar yang lain, atau tuntutan tugas yang lain, tentu sangat terasa membebani. Namun yakinlah bahwa ketika kita telah mampu menghafalnya dan menjaga hafalannya, maka ada kepuasan tersendiri dalam diri kita, terlepas dari hubungan kita dengan yang menciptakan kita.

Tetaplah menjadi pemenang itu bisa mengalahkan kemalasan, kebosanan, kelelahan itu sangat sulit dan butuh proses. Untuk menjadi pemenang kebaikan juga malah lebih sangat sulit karena berbuat baik banyak sekali halangan. Tetapi ketika kita telah berbuat baik, akan terasa bahwa pemenang itu sangat menyenangkan. Pemenang yang mampu mengalahkan nafsu diri, mengalahkan kekerdilan diri.

Kita saja misalnya, adalah pemenang dari ribuah petarung untuk bisa berhasil terlahir ke dunia. Tetap saja, menjadi pemenang itu butuh proses. Proses yang kadangkala kita kurang sabar untuk melewatinya. Cobalah kembali sahabat, kita runut, betapa banyak beban tugas, dan pengharapan yang diinginkan lahir dari diri kita oleh guru atau orangtua dahulu? kita sering memang merasa terbeban pada saat itu, tetapi sekarang kita merasakan bagaimana hasilnya. Bukankah baik?

Jika jawaban sahabat “ya”, maka sudah kupastikan, jawabanku juga “ya”, karena ketika melihat anak sekolah tadi pun, aku ingin sekali kembali seperti mereka. Tapi tetap saja, itu tak akan mungkin karena prosesnya sudah berjalan. Sehingga mari sahabat, kita wujudkan segala mimpi dan keinginan kita dengan realisasi nyata. Hal inilah yang akan kembali mewujudkan kita menjadi pemenang. Pemenang di dunia yang fana ini dan pemenang di akhirat kelak. Karena sekali lagi menjadi pemenang itu butuh proses.

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nia Assyifa
Pegawai Negeri Sipil. "Menjadi karanglah meski tak mudah, sebab ia akan menahan sinar matahari yang garan, ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah, melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa yang dingin yang mencoba membekukan, ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus, ia akan tegak berdiri, belajar untuk terus berjalan..nmenapaki arti hidup sesungguhnya"

Lihat Juga

Kemenangan (inet) - jawaban.com

Tentang Sebuah Kemenangan