Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Yang Lelah Lagi Kepayahan

Yang Lelah Lagi Kepayahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (nationalgeographic.com)
Ilustrasi. (nationalgeographic.com)

dakwatuna.com

Terbungkang mulut yang semula menganga
Mengicau seisi belantara hutan yang menjadi tanda
Diri tak lagi punya harga

Kau coba semai rerumputan yang tak kau tanam
Adalah padi menguning tak kau syukuri
Jemari telunjuk mengesakan Tuhan setiap sembahyang
Tetapi hati entah ke mana berlari

Engkau bukanlah ilalang apalagi binatang jalang
Tapi orang terpandang
Di setiap lobi kampus dan jalanan orang mengenalmu
Sebagai orang terpandang nan dermawan
Kerja-kerja tanpa pamrih kau lakukan, siang dan malam
Adakah ikhlas di hati kau tanamkan?
Sedang orang mengenalmu sebagai terpandang nan dermawan
Murah senyum dan rajin mengaji
Pandai berdakwah dan menjaga diri

Hati,
Ke mana engkau akan berlari?
Saat tangan dan kaki mulai dimintai bersaksi
Ilahi Rabbi tak mungkin engkau dustai

Setiap matahari sepenggal naik engkau sudah pergi, setiap hari
Mendatangi sekian tempat dan wajah yang mengharapkan manfaat darimu
Kemudian saat jalanan sudah mulai sepi, engkau kembali
Menyusuri telaga kecil di sepanjang Selokan Mataram, Yogyakarta
Mengurai cerita tanpa henti
Engkau orang terpuji

Benarkah?
Benarkah engkau bekerja untuk ilahi rabbi?
Benarkah?
Benarkah engkau menebar kebermanfaatan yang selaksa embun dibagi hari
Putih dan suci

Ah,
Aku mulai tak peduli
Aku hanya ingin bersenda gurau denganmu lagi
Layaknya angsa di tepian danau yang berebut air untuk minum dan mandi
Bermanja seraya bertukar cerita
Saling memberi nasihat dan pengingat
Sahabatku,
Jangan sampai kau berlelah-lelah lagi kepayahan
Pergi petang pulang sore, mendatangi sekian banyak acara yang kau bilang agenda dakwah dan amanah jamaah
Tetapi diri tak kau peduli akan ke mana kembali
Tetapi hati tak kepada Illahi menggantungkan tujuan dan mimpi

Sahabatku,
Mari periksa hati, adakah iman dan keikhlasan
Sedang saat tangan dan kaki mulai dimintai bersaksi
Ilahi Rabbi tak mungkin engkau dustai


Puisi ini didedikasikan untuk sahabat di jalan dakwah yang tak hentinya bergerak memperbaiki diri, demi tumbuh dan berkembangnya Islam di Universitas Gadjah Mada, terutama kepada mereka yang menyengaja menunda kelulusannya. Semoga Allah lapangkan segala urusan

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers