Home / Berita / Nasional / Menag: Segera Akhiri Dikotomi Ilmu Agama dan Non-agama

Menag: Segera Akhiri Dikotomi Ilmu Agama dan Non-agama

Menteri Agama Suryadharma Ali saat mengunjungi STIA Teungku Dirundeng, Meulaboh, Aceh, Selasa (18/2) - Foto: diliputnews.com
Menteri Agama Suryadharma Ali saat mengunjungi STIA Teungku Dirundeng, Meulaboh, Aceh, Selasa (18/2) – Foto: diliputnews.com

dakwatuna.com – Meulaboh. Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan ada satu hal yang penting disadari oleh para pembina pendidikan Islam agar kualitas lembaganya terus membaik.

Hal itu adalah kesadaran bahwa pendidikan Islam itu harus mengakhiri pemikirannya bahwa ada dikotomi ilmu yang harus mereka ajarkan, yakni ilmu agama dan ilmu non agama.

”Saya harap dikotomi adanya ilmu agama dan non agama harus segera diakhiri dalam sistem pengajaran di pendidikan Islam. Kepada para anak didik dua ilmu itu wajib dikuasai tanpa kecuali. Ingat semua ilmu itu berasal dari Allah Swt. Bila semua ilmu nanti bisa dintegrasikan dengan baik maka kualitas manusia Indonesia semakin meningkat. Seiring itu kualitas sumber daya kaum Musim pun bertambah baik,” kata Suryadharma Ali, di Meulaboh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Selasa (18/2).

Berbicara di depan para tokoh masyarakat, ulama, dan pejabat di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng, Meulaboh, Menang menyatakan bila dilihat dari sejarah umur lembaga pendidikan Islam di Indonesia sudah mencapai ratusan tahun atau telah eksis di tengah umat semenjak negeri ini masih dalam penjajahan Belanda. Untuk itu, seiring dengan perubahan zaman dan terjadinya pembaruan teknologi dan keadaan sosial kemasyarakatan yang sangat cepat, maka metode pendidikan harus terus menerus disesuaikan dengan konteks zaman.

Melihat kenyataan itu, lanjut Menag, pihaknya pun sangat bersyukur seluruh lembaga pendidikan Islam, baik itu madrasah, pondok pesantren, sekolah tinggi agama Islam, hingga universitas Islam negeri yang telah ada begitu berminat meningkatkan kualitas akademiknya. Ini tampak jelas dengan banyaknya keinginan dari para pengelola lembaga tersebut, yakni sekolah tinggi agama dan IAIN, untuk meminta agar statusnya dinaikkan menjadi satu level lebih tinggi atau juga menjadi sebuah universitas negeri.

”Kini banyak STIA yang tengah meminta agar statusnya dinegerikan. Sebagian sudah mendapatkannya, dan sebagian lainnya masih menunggu proses. STIA Teungku Dirundeng di Meulaboh adalah salah satu contohnya yang aktif meminta agar statusnya dinaikkan menjadi STAIN,” katanya.

Selain itu, lanjut Suryadharma, ditargetkan dalam waktu dekat akan ada beberapa IAIN yang  juga akan  segera berubah statusnya menjadi universitas Islam Negeri (UIN). Ketiga IAIN yang akan berubah status itu adalah IAIN Sumatra Utara, Palembang, dan Semarang. ”Permohonan mereka sudah disetujui. Tinggal menunggu pengesahan, Mungkin dalam waktu dekat, yakni sebelum pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini berakhir.”

Suryadharma menegaskan sangat sayang sekali bila sampai kualitas lembaga pendidikan Islam tetap tidak bisa menjadi institusi yang unggul. Sebab, acuan dasarnya yakni Al-quran dah hadits sudah mengajarkan bahwa ajaran agama Islam itu selalu seusai dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Maka mau tidak mau perubahan zaman harus juga dapat diantisipasi dan dicari jawabnya melalui pengajaran di pendidikan Islam.

”Kalau sampai tidak bisa unggul maka generasi pendidik masa kinilah yang salah. Para pendahulunya sudah begitu baik mengimplementasikan sebuah pendidikan yang sesuai dengan arah dan kehendak zamannya. Dan yakinlah semua itu bisa kita lakukan dengan baik,” kata Suryadharma. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ini Kata Menag Lukman Soal Penetapan 1 Syawal