Home / Berita / Nasional / Munas Muhammadiyah Bahas Fiqih Kekuasaan dan Kepemimpinan

Munas Muhammadiyah Bahas Fiqih Kekuasaan dan Kepemimpinan

Logo Muhammadiyah.
Logo Muhammadiyah.

dakwatuna.com – Yogyakarta.  Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah akan menggelar musyawarah nasional (Munas) ke-28 di Palembang, Sumatera Selatan. Ada beberapa poin yang akan dibahas di kampus STIKES Muhammadiyah Palembang mulai 27 Februari hingga 1 Maret 2014 itu.

Salah satu seminar yang menarik adalah mengangkat tema ‘Fiqih Kekuasaan dan Kepemimpinan: Ulil Amri untuk Kemajuan Peradaban’.

“Selain musyawarah, kita juga menggelar dua seminar. Pertama bertemakan Muhammadiyah Abad II: Dialektika antara Tradisi dan Modernitas Menuju Peradaban Utama dan kedua bertema ‘Fiqih Kekuasaan dan Kepemimpinan: Ulil Amri untuk Kemajuan Peradaban,” kata Prof Dr Syamsul Anwar Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid di kantor PP Muhammadiyah Jl Cik Ditiro Yogyakarta, Selasa (18/2/2014).

Menurut dia, tema mengenai kepemimpinan selalu dibahas setiap munas di antaranya saat munas tahun 2003 di Padang mengenai kepemimpinan. Selanjutnya pada tahun 2010 di Malang mengenai tata kelola pemerintahan.

“Saat ini kita mencoba menggali soal fiqih kekuasaan,” katanya.

Selain seminar, lanjut Syamsul, dalam munas itu ada lima poin yang akan dibahas dalam musyawarah tertinggi majelis tarjih dan tajdid yang dihadiri utusan majelis tarjih dan tajdid wilayah seluruh Indonesia dan cendekiawan Muhammadiyah.

Kelima poin ini adalah tentang fiqih air, tuntunan menuju keluarga sakinah, tuntunan manasik haji, tuntutan ibadah Ramadan dan hari raya dan tuntunan ibadah kurban.

Menurutnya masalah air saat ini penting sekali untuk bahas. Fiqih air yang akan dibahas terkait bagaimana pandangan Islam mengenai air, meliputi pengelolaan, konservasi dan perilaku ramah air hingga ancaman krisis air.

“Saat ini sudah ada gejala antar daerah untuk berebut sumber air. Ini sudah rawan konflik,” kata Syamsul didampingi Prof Dr Yunahar Ilyas ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Sementara itu Yuhanar Ilyas menambahkan Muhammadiyah berkepentingan membahas tentang keluarga sakinah karena saat ini marak terjadi keretakan rumah tangga dalam masyarakat akibat perselingkuhan dan perceraian.

“Keluarga ini sangat penting karena menjadi unsur terkecil dan paling penting dalam masyarakat. Karena itulah, Muhammadiyah sangat berkepentingan mewujudkan keluarga sakinah. Sebab sebuah bangsa bisa rusak kalau keluarga sudah hancur lebih dulu,” katanya

Menurutnya hasil keputusan Munas ini akan mengikat bagi Muhammadiyah secara organisasi. Keputusan Munas ini paling tinggi untuk pedoman hidup keagamaan warga Muhammadiyah.

“Semua yang dibahas baik soal tuntutan manasik ibadah haji mulai niat hingga kepulangan, soal Ramadan, ibadah kurban dan lain-lain yang menjadi pedoman warga Muhammadiyah,” pungkasnya. (detik/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ruhut Sitompul

Sebut Kata-Kata ‘Binatang’ dalam Kasus Siyono, Ruhut Dilaporkan ke MKD