Home / Berita / Internasional / Asia / Perang di Afghanistan Telah Berlangsung Selama 100 tahun

Perang di Afghanistan Telah Berlangsung Selama 100 tahun

Perang Afganistan - Ilustrasi (Foto: mirislam.com)
Perang Afganistan – Ilustrasi (Foto: mirislam.com)

dakwatuna.com –  Tidak berlebihan kalau bangsa Afghanistan dijuluki sebagai salah satu bangsa di dunia yang paling menderita akibat perang atau peperangan. Penderitaan terjadi karena banyak orang yang tidak tahu apa-apa, tapi nyawa hilang ditelan perang.

Penderitaan berkepanjangan, sebab setelah peperangan dengan bangsa lain berakhir, muncul perang baru yaitu perang saudara. Selain penderitaan, Perang Afghanistan tercatat sebagai satu-satunya perang di dunia yang melibat begitu banyak tentara asing.

Untuk perang saudara, periode 2001 sampai 2014, tercatat 36 negara yang mengirimkan tentaranya untuk mencegah berlanjutnya perang saudara. Sedangkan tentara asing yang tewas sudah hampir mencapai 10 ribu orang. Kenyataannya, perang saudara tidak bisa dihentikan.

Kalau mau disederhanakan, total waktu yang digunakan bangsa Afghanistan untuk berperang sudah lebih dari seratus tahun atau satu abad. Tapi karena ada jedanya maka, total waktu perang, dibulatkan nenjadi hanya sekitar 100 tahun. Dengan rincian, sekitar 70 tahun selama abad pertengahan (tahun 1800-an hingga 1900-an awal) dan sisanya selama 30 tahun di abad modern yang dimulai 1919.

Perang terhadap bangsa asing, Inggris khususnya terjadi abad pertengahan. Perang kedua negara memiliki sekuens. Ada masa jedanya, lalu kembali berperang. Sampai 1919 atau dalam kurun waktu hampir seratus tahun, meletus tiga kali peperangan antara Afghanistan dan Inggris.

Bagaimana kerusakan dan bentuk penderitaan perang Afghanistan-Inggris, tak ada rekamannya seperti di abad modern. Yang pasti perang kedua negara, memiliki keunikan dan perbedaan format dengan perang di abad modern. Perang dengan Inggris, tak bisa dihindari. Karena Inggris sendiri yang melakukan invasi ke Afghanistan dalam rangka perluasan koloninya.

Tapi perang di abad moden, berbeda. Ada kekuatan internal Afghanistan yang sengaja mengundang kekuatan asing untuk masuk. Kekuatan internal itu biasanya politisi, mereka yang haus kekuasaan tetapi berpura-pura menjual gagasan, dalam rangka membela kedaulatan bangsa, membela keadilan dan kebenaran.

Di abad modern, Afghanistan tidak lagi menjadi sasaran Inggris. Tapi pada 1979, kedudukan Inggris (hendak) digantikan Uni Soviet (kini Rusia). Soviet tidak sepenuhnya berhasil di Afghanistan. Namun invasi Soviet menjadi awal dari perang saudara Afghanistan yang berkepanjangan dan sampai 2014 masih berkobar.

(Ketika Soviet menginvasi Afghanistan, tiga provinsinya, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kyrgyztan berada dalam satu daratan dengan Afghanistan. Kini ketiga provinsi sudah menjadi negara merdeka, berbarengan dengan bubarnya Uni Soviet).

Desember 1979 saat Uni Soviet masih menjadi salah satu kekuatan komunis di dunia, menginvasi Afghanistan. Soviet berhasil dengan terlebih dahulu menciptakan pemimpin bonekanya di Kabul. Adanya boneka dalam pemerintahan Afghanistan, membuat iring-iringan pasukan Soviet saat masuk kota Kabul, tak ada perlawanan sama sekali dari pasukan pemerintah.

Tapi invasi Soviet dengan segera mendapat perlawanan rakyat yang tidak punya kekuatan persenjataan, khususnya dari kelompok Mujahidin. Invasi ini juga segera memancing ketidaksukaan Amerika Serikat (AS) yang ketika itu sedang bermusuhan dengan Soviet dalam Perang Dingin.

AS yang sudah menelan kekalahan di Vietnam (Selatan) di 1975 segera mendekati Mujahidin dengan bantuan dana dan persenjataan. AS yang dipimpin Jimmy Carter khawatir, kalau Afghanistan menjadi “Vietnam Kedua”. Yaitu seluruh wilayah Vietnam menjadi komunis.

Tapi di saat yang sama, kekuatan Islam lannya, ikut memerangi Soviet. Di antaranya Taliban. Setelah sepuluh tahun, 1989, Mujahidin berhasil mengusir Soviet dari Afghanistan. Hanya saja keberhasilan ini, tidak membuat persatuan antara sesama bangsa Afghanistan mengental. Yang terjadi justru perang saudara, karena Mujahidin dan Taliban sama-sama ingin menjadi penguasa.

Pada 1996, Taliban yang didukung Pakistan, tetangga Afghanistan, akhirnya berhasil mengalahkan pemerintahan Mujahidin yang berpusat di Kabul. Namun baru dua tahun kemudian Taliban benar-benar menjadi penguasa di seluruh wilayah Afghanistan.

Komunistas dunia, khususnya negara-negara Barat berubah menjadi musuh pemerintahan Taliban. Sebab Islam Taliban tidak bersepaham dengan dunia Barat. Kekuasaan Taliban hanya berlangsung lima tahun (1996 – 2001). Taliban dijatuhkan oleh AS bersamaan dengan perburuannya terhadap Osama bin Laden yang dituduh Washington sebagai otak penyerangan menara WTC 11 September 2001.

Sejak itu yang berkuasa di Afghanistan, pemerintahan boneka dibawa kontrol AS. Sebaliknya di luar Kabul, ibukota Afghanistan, bermunculan kelompok Islam yang melawan kehadiran AS dan sekutu Baratnya. Semua kelompok perlawanan itu menggunakan bendera Taliban. Sampai detik ini tak ada yang bisa memprediksi apalagi memastikan, kapan perang Afghanistan berakhir. Ketidakpastian merupakan hal yang normal bagi dan di Afghanistan.

Di tengah ketidak pastian ini, 5 April 2014 akan digelar Pemilu untuk memilih Presiden yang baru. Karena Hamid Karzai yang sudah dua periode berturut menjadi Presiden, sesuai UU tidak bisa lagi dipilih. Di tengah ketidak pastian, di saat Afghanistan sedang menyeleksi siapa Presiden yang paling cocok, AS dan sekutu-sekutunya sedang bersiap-siap menarik pasukannya dari Afghanistan.

Penarikan lebih dari 15 ribu pasukan asing ini, dari segi kedaulatan sangat positif bagi Afghanistan. Tapi penarikan yang akan meninggalkan kekosongan itu, pasti juga punya risiko. Perang saudara yang terdiri dari banyak faksi, bakal bermunculan. Bangsa Afghanistan akan saling bunuh. Dunia, khususnya Barat yang sudah meninggalkan bumi Afghanistan, menciptakan ketidak pastian. Sama dengan meletakkan bom waktu dimana-mana.

Sehingga di waktu-waktu mendatang, Afghanistan masih akan menghadapi persoalan baru tetapi sejatinya merupakan peninggalan lama. Yaitu bagaimana mengakhiri sebuah peperangan, pekerjaan yang sangat melelahkan yang hasilnya tetap nihil.

Perang, seberapapun skalanya, merupakan sebuah tragedi. Mudah-mudahan tragedi Afghanistan, tidak merambah ke mana-mana, terutama ke Indonesia. Mudah-mudahan Pemilu 2014, yang akan memilih Presiden atau pemimpin baru, tidak menjadi ajang perpecahan. Juga tidak ada bom waktu dan tak ada agenda kekuatan asing yang berpura-pura mau membantu.

Bagaimanapun, Perang Afghanistan merupakan sebuah pembelajaran sangat berharga. (inilah/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 7,90 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Haruskah Indonesia Selalu Menerima Investasi Asing?