Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Guru Model dan Berkarakter, Why Not?

Guru Model dan Berkarakter, Why Not?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Foto (Sahrul)
Foto (Sahrul)

dakwatuna.comGuru yang ditugaskan dengan penuh dedikasi tinggi untuk mengemban misi mencerdaskan generasi masa depan bangsa. Namun, tidak sedikit pula guru yang hanya menjadikan guru sebagai mata pencarian atau malah menjadi “hamba” sertifikasi. Secara tidak sadar, itu sama saja mencoreng corp pendidik. Seperti kata Gordie Howe, “Berhentilah menjadi guru, jika tidak mencintai tugas mulia itu! Berikan kesempatan kepada orang lain yang lebih mencintainya.”

Pemerintah sekarang ini telah menciptakan administrasi mengajar atau RPP yang berkarakter, jadi guru tidak pernah dididik untuk meningkatkan dan mempelajari karakternya. Ada yang namanya RPP berkarakter, silabus berkarakter, model pembelajaran yang berkarakter, dan lain-lain. Padahal yang menjadi ujung tombak yang akan membawa, mengasah anak-anak didik yang sukses bukanlah administrasi mengajar, tetapi ruh guru yang berkarakter harus ditingkatkan Seperti kata Ahmad Fu’adi, Metode pendidikan boleh canggih, pelajaran boleh hebat, tapi di atas segalanya itu, ruh guru yang bersih dan berdedikasilah yang paling menentukan dalam menyamai generasi terbaik.”

Guru model adalah guru yang akan menjadi teladan, baik sesama guru, orangtua para murid, dan masyarakat, dan lebih penting lagi adalah teladan bagi sesama profesi. Hal yang sangat disayangkan adalah banyaknya guru-guru yang mengabaikan hal demikian, padahal menjadi guru model itu adalah salah satu yang paling penting dalam menyamai generasi sebelumnya. Inilah yang dinamakan sebagai guru model. Guru yang dijadikan cermin oleh sesama profesinya. Sedangkan guru berkarakter adalah guru yang mentransfer nilai-nilai karakter positif atau yang baik terhadap murid/peserta didiknya. Dengan begitu para siswa itu sendiri akan meniru bahkan mengikuti jejak-jejak guru itu sendiri. Marilah kita tanam pada diri mereka sebuah ilmu yang baik yang bisa mereka torehkan kepada generasi selanjutnya, sebagaimana terdapat dalam sebuah ungkapan, “Guru pandai berdiri, murid pandai berlari.Jadi, itulah yang harus kita tanam dalam diri mereka bukan malah sebaliknya, yang pernah terjadi dalam sebuah ungkapan,Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”  

Banyak orang menganggap bahwa guru model, guru berkarakter, guru profesional adalah guru yang disertifikasi. Padahal, kalau kita melihat aktifitas mereka dalam mengajar itu kurang dan sangat minim sekali kompetensi mereka dalam mengajar. Mereka hadir ke sekolah untuk melengkapi kesempurnaan absen. Ini sangat banyak terjadi, baik guru yang telah mengabdikan di kota maupun di pelosok desa, hadir tidak hadirnya mereka di sekolah, absen tidak pernah kosong apalagi kalau seorang guru yang disertifikasi ataupun PNS, semakin diangkat jabatan mereka, semakin acuh tak acuh dalam mengabaikan kewajiban mereka, seperti dalam sebuah ungkapan. “Semakin tinggi sebuah pohon maka akan semakin kencang angin menerpanya.” Jadi, semakin tinggi jabatan kita diangkat maka akan semakin berat tanggung jawab kita. Semakin banyak kompetensi yang didapatkan akan tetapi yang terjadi pada guru-guru saat ini adalah sebaliknya, yakni semakin dititipkan kepada mereka sebuah tanggung jawab maka akan semakin kuat mereka dalam mengabaikan kewajibanya.

Jadi, guru yang disertifikasi ataupun PNS bukanlah jaminan menjadi guru professional, karena belum tentu professional dalam hal mengajar, mendidik, dan memimpin, dan belum tentu mampu memahami karakter siswa, dan bahkan saya pastikan belum tentu bisa menjadi model buat guru-guru yang lain ataupun siswa yang menjadi objek utama dalam dunia pendidikan. Karena guru professional adalah guru yang mencakup dua hal utama yaitu guru model dan berkarakter.

Banyak orang mengatakan, guru professional adalah guru yang di sertifikasi atau PNS, padahal tidak demikian, karena guru professional adalah guru yang mampu mengasah, menggali, kemampuan dan memotivasi siswa-siswinya, menghargai hasil karyanya, dan imajinasinya. Selain itu juga guru profesional mampu memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya, bukan mengubur kemampuan siswa. Sebagaimana ungkapan Direktur Sekolah Guru Indonesia (SGI), “Guru yang hebat adalah guru yang mampu mencetak dan mendidik siswa yang lebih hebat dan unggul dari dirinya.”  Tapi yang terjadi di zaman pendidikan sekarang ini ialah sebaliknya, guru yang mengasah kemampuannya sendiri, menganggap dirinya lebih pintar dari pada muridnya, menganggap telah profesional dalam mendidik.

Jadi, pertanyaan saya adalah, untuk apa menjadi guru? Saya yakin bapak-bapak, ibu-ibu yang telah mengabadikan profesinya sebagai guru mampu merealisasikan, memahami tujuannya sebagai guru. Saya pribadi mengajak para guru diseluruh Indonesia untuk mengabadikan profesi kita sebagai guru yang mampu memberikan yang terbaik untuk generasi muda Indonesia, dan menjadi guru sebagai investasi untuk Indonesia. Siapa mereka yang paham arti ‘Investasi untuk Indonesia’? Semoga saya, Anda, dan orang-orang yang telah mengabadikan dirinya sebagai guru di seantero penjuru Nusantara.

Ikhtiar Mengarakterkan Anak Bangsa dengan Membangun Bangsa Lewat Pendidikan

Siapa masih ingat bunyi alinea 4 Pembukaan UUD 1945?

“… Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, …”

Jadi, kenapa tidak kita menjadi guru model dan berkarakter? Hal yang sulit ditafsirkan apabila guru-guru tidak mau menjadi guru model dan berkarakter, menjadi tanda tanya yang sangat besar buat para guru-guru Indonesia. Kenapa sulit untuk menjadi guru model dan berkarakter? Padahal ini adalah salah satu model yang kita harus terapkan pada guru-guru Indonesia.

Ada beberapa hal yang saya ingin katakan untuk guru-guru Indonesia, “Takdir bukanlah pilihan, tapi menjalani takdir itulah pilihan.” Jadi, apa salahnya kalau kita menerapkan sebuah jiwa dalam diri kita yaitu jiwa sebagai guru pengajar, pendidik, dan berkarakter pemimpin. Apabila seorang guru menerapkan yang telah disebutkan di atas maka di situ juga telah guru telah menciptakan guru model dan berkarakter.

Dr. Marvin Berkowitz dalam salah satu artikelnya Understanding Effective Caracter Education, menyatakan bahwa ada banyak manfaat jika sekolah menerapkan pendidikan karakter, apalagi guru sebagai pengasah ujung tombak generasi yang cerdas, di antaranya dapat meningkatkan motivasi dan berprestasi belajar siswa, kecerdasan emosi siswa, serta memperbaiki keterampilan siswa dalam memecahkan masalah hidup mereka.

Lebih jauh lagi, kita bisa mengatakan, karakter tak cukup diajarkan sebatas pengetahuan. Di sekolah kita sudah ada pelajaran PPKN, mengapa tawuran pelajar masih marak dijalanan? Pelajaran agama sudah dikosumsi sejak di bangku SD, mengapa narkoba dan seks bebas jadi pilihan sabagian pelajar kita? Akhirnya, karakter hanyalah isap jempol saja jika pendidikan bangsa ini dibangun atas dasar prinsip Tut Wuri Nggerogoti (di belakang menggerogoti), Ing Madya Ngangkut Banda (di tengah mengangkut harta), Ing Ngarsa Terus Ngapusi (di depan selalu menipu). Apalagi jika prinsip ini fasih dipraktikan para pemimpin kita, akan jadi apa bangsa kita ini?

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 4,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guru SGI.
  • Dimas Agung Saputra

    semangat para guru

Lihat Juga

Guru SMP (tribunnews.com)

Menjadi Guru yang Dirindukan