Home / Berita / Internasional / Afrika / Pemuka Katolik Kutuk Pembantaian Muslim Afrika Tengah

Pemuka Katolik Kutuk Pembantaian Muslim Afrika Tengah

Uskup Agung Bangui, Dieudonne Nzapalainga - Foto: nuke.cmcapp.org
Uskup Agung Bangui, Dieudonne Nzapalainga – Foto: nuke.cmcapp.org

dakwatuna.com – Bangui.  Uskup Agung Republik Afrika Tengah, Kamis mengutuk pembantaian terhadap warga sipil Muslim yang dilakukan oleh kelompok-kelompok milisi Kristen di negaranya. Dia  mengatakan bahwa kekerasan itu tidak koheren dengan iman mereka.

“Anda tidak bisa mengatakan Anda adalah orang Kristen dan membunuh, membakar, dan menghancurkan saudara-saudaramu,” kata Uskup Agung Bangui, Dieudonne Nzapalainga, kepada Radio Vatikan dikutip dari Ahram Online.

Dia mengatakan para anggota milisi anti-Balaka “tidak boleh meyakini bahwa mereka sedang koheren dengan iman mereka ” dan mendefinisikan serangan mereka sebagai “perebutan kekuasaan”.

“Para imam, pastor dan saya sendiri, kami berbicara dengan bahasa yang sama.. Kami meminta mereka yang menggunakan, yang memanipulasi orang-orang muda, bertanggung jawab pada tingkat nasional dan tingkat internasional,” kata pemuka Katolik itu.

Amnesty International pada Rabu mengecam ‘pembersihan etnis’ di negeri ini. Lembaga ini  mengatakan telah mendokumentasikan sedikitnya 200 pembunuhan warga sipil Muslim oleh kelompok-kelompok milisi Kristen yang berdiri pasca kudeta Maret 2013 yang dimotori oleh kelompok masyarakat Seleka, yang kebanyakan beragama Islam.  (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Erlan Salam

    Heheheeee, mungkin warga muslim setempat telah habis dibantai sehingga muncul upaya cuci tangan dgn dibalut pernyataan mengutuk aksi pembantaian tsb….?

  • m.mustafid

    Kekerasan, pembantaian sangat bertentangan dengan nilai2 yg dianut oleh agama apapun. Sangat disayangkan milisi kristen melakukannya kepada warga muslim. Semoga segera berlalu penderitaan warga muslim di afrika tengah.

  • BUDIASIH

    KLO MEMANG PEMIMPIN KATOLIK PRIHATIN,ADAKAN TINDAKAN NYATA UNTUK MENGHENTIKAN SEBELUM MASALAHNYA MELUAS

  • captainc

    ini semua karena Seleka gerombolan pemberontak muslim duluan menyerang orang kristen disana, sama seperti kasus sampit dayak vs. madura.

    • Bocah Ganteng

      Sotoy … seleka itu gabungan muslim dan kristen, yg mmberontak mlawan negara, tetapi kristen berkhianat, mereka membunuhi setiap muslim baik yg seleka atau bukan

      • captainc

        beritamu darimana? kalau cuma dari dakwatuna, gak usah dipertunjukanlah kebodohanmu.

        • Singa Siak Bahulun

          jangan samakan dengan kejadian sampit. Dayak VS Madura. Sangat beda sekali itu penyebabnya. Baca sejarah lagi mas biar ga tersesat. Kejadian pembantaian suku madura di sampit itu bukan tentang agama, melainkan karena kearoganan suku madura yang menginjak-injak suku pribumi dayak di tanah mereka (dayak). Jadi jangan samakan dengan kejadian sampit.

          Rentetan perselisihan antara Dayak VS Madura sudah dimulai sejak lama, ini saya rangkumkan. Supaya dipahami…

          Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa. Terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat (Entah benar entah tidak pelakunya orang Madura)

          Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan atau penyelesaian secara hukum tidak ada.

          Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh. Perkelahian antara satu orang Dayak yang dikeroyok oleh tigapuluh orang madura. Terhadap pembunuhan warga Kasongan bernama Pulai yang beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan perdamaian. Dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya antara lain menyatakan apabila orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalteng.

          Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam dan sadis oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.

          Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri, dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya. Dan tindakan hukum terhadap orang
          Dayak adalah dihukum berat.

          Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura tukang jualan sate. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, tubuhnya terdapat lebih dari 30 tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur. Si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian saja.

          Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura hingga meninggal, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri, kasus inipun tidak ada penyelesaian secara hukum.

          Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya, namun besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntut agar temannya tersebut dibebaskan tanpa tuntutan. Ternyata pihak Polresta Palangka Raya membebaskannya tanpa tuntutan hukum.

          Tahun 1999, di Palangka Raya, kembali terjadi seorang Dayak dikeroyok oleh beberapa orang suku Madura karena masalah sengketa tanah. Dua orang Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua. Sedangkan pembunuh lolos, malahan orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhan yang melarikan diri itu.

          Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura. Gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada kedua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.

          Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama Iba oleh tiga orang Madura. Pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya. Biaya operasi dan perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Namun para pembacok tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura memasuki rumah keluarga Iba dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu Iba menuangkan air di gelas, mereka
          membacoknya, saat istri Iba mau membela, juga di tikam. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi salah alamat.

          Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum.

          Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 satu orang suku Dayak di bunuh oleh pengeroyok suku Madura di depan gedung Gereja Imanuel, Jalan Bangka. Para pelaku lari, tanpa proses hukum.

          Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur, tidak tertangkap, karena lagi-lagi katanya sudah lari ke Pulau Madura. Proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampaknya belum mampu menyelesaikannya (tidak tuntas).

          Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh karena dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.

          Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh diserang oleh suku Madura. Belum terhitung kasus warga Madura di bagian Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai dengan Suku Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan Suku Madura. Kelanjutan peristiwa kerusuhan tersebut (25 Februari 2001) adalah terjadinya peristiwa Sampit yang mencekam.

          • captainc

            kalau dilihat dari sejarah kejadian diatas suku madura ini memang biangnya setan di kalimantan, jadi wajarlah kalau dibunuh oleh dayak yang terjajah oleh mereka.

            orang perang antar suku itu selalu mengutamakan perbedaannya, kalau kebetulan dengan lawan, agamanya beda,maka agama itu yang dipake, sama seperti ambon. tapi kejadian sebetulnya ini seleka yang bertindak semena2 duluan, lalu konflik perang suku ini menjadi perang agama karena itulah yang paling membedakan mereka, dulu saja di rwanda ada hutu vs. tutsi. afrika memang rentan pembantaian etnis besar2an, tapi ini sudah berlagsung ribuan tahun, inilah realitas kehidupan manusia.

  • MUHAMAD AS ROHAN

    kemana nih FPI

  • garukkepala

    koq komennya pada rame sih, ini ajaran kasih

Lihat Juga

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim