Home / Berita / Opini / Ketika Alam Tak Bersahabat Lagi

Ketika Alam Tak Bersahabat Lagi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Foto: sosbud.kompasiana.com)
Ilustrasi (Foto: sosbud.kompasiana.com)

dakwatuna.comTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)

Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa telah menciptakan langit dan bumi beserta seluruh yang berada di dalamnya dalam keadaan yang sangat seimbang. Manusia sebagai makhluk yang diamanahkan menjadi khalifah di muka bumi ini harus menjaga dan melestraikan alam yang telah tertata dengan sangat indah oleh Sang Pencipta. Namun fakta telah mengungkap, manusia-manusia yang hidup di zaman postmodern saat ini justru lupa dan tak sedikit mengkhianati amanah yang telah diembankan kepadanya. Sehingga kondisi alam yang diciptakan untuk ‘bersahabat’ dengan manusia, kini mulai ‘gerah’ dan merespon perlakuan manusia kepadanya.

Jauh-jauh hari Sang Penguasa kehidupan ini telah mengingatkan ummat manusia dalam firman-Nya, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah sungguh dekat dengan orang-orang yang berbuat baik..” (Al-A’raf: 56). Namun peringatan tersebut rupanya tidak terlalu dihiraukan oleh kebanyakan manusia, sehingga saat ini di negeri tercinta ini, masyarakat Indonesia telah diperhadapkan pada beragam fenomena alam yang membawa kepedihan tak berujung.

Masih sangat segar di ingatan setiap orang, banjir bandang yang menyeret dan menenggelamkan ratusan rumah penduduk di Manado Sulawesi Utara yang menyebabkan sekitar 40 ribu jiwa harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal dan 19 orang meninggal dunia. Bencana serupa dan tanah longsor juga terjadi di Jombang  Jawa Timur yang menyebabkan 12 orang meninggal dunia. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kurang lebih 203 bencana terjadi di berbagai daerah di Indonesia selama Januari 2014 yang ‘memaksa’ sedikitnya 179 orang harus menemui ajalnya akibat bencana tersebut.

Begitu pula dengan bencana alam yang berdampak besar seperti banjir ‘tahunan’ di DKI Jakarta yang pada awal tahun ini tercatat sekitar 30.784 orang harus mengungsi di 140 titik pengungsian dan telah menelan sedikitnya tujuh korban jiwa. Bencana lain yang hingga detik ini belum berakhir adalah erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara, telah tercatat 16 orang meninggal dunia akibat semburan awan panas dan diperkirakan masih ada korban yang tertimbun abu vulkanik. Namun, belum lagi air mata kering menyaksikan penderitaan para pengungsi Sinabung, saat ini masyarakat di Kabupaten Kediri Jawa Timur harus siap menghadapi segala kemungkinan terburuk dari reaksi Gunung Kelud yang telah berstatus waspada.

Selain dari rentetan kenyataan pahit yang belum berakhir tersebut, masih banyak bencana alam yang menghiasi tanah Indonesia akhir-akhir ini. Mulai dari banjir yang hampir tiap hari menggenangi kota-kota besar di Indonesia, fenomena tanah terbelah di Jepara selebar 10 meter dengan kedalaman 8 meter, gempa dengan kekuatan 6,5 SR yang mengguncang Kebumen Jawa Tengah, tanah longsor yang terjadi di Kendal Jawa Tengah yang menyebabkan jalan alternatif Kendal-Temanggung tertutup oleh tanah, jalan penghubung antara Banjarnegara-Pekalongan yangambruk dan menyebabkan terganggunya perekonomian masyarakat, hingga kebakaran yang belakangan ini banyak terjadi diberbagai wilayah di Indonesia.

Melihat deretan peristiwa yang mengganggu kelangsungan hidup tersebut, manusia belum sepenuhnya sadar akan bencana alam tersebut sebelum akibat dari peristiwa itu benar-benar mengancam keselamatan diri dan keluarganya. Terlebih lagi manusia yang hidup di zaman ini pada umumnya berwatak individualistik, tidak peduli pada orang lain dan lingkungannya. Sehingga mereka pun dengan seenaknya memporak-porandakan kondisi alam yang telah tertata rapi, padahal jika di telusuri lebih jauh penyebab bencana alam yang terjadi disebabkan karena ketidakmampuan manusia ‘bersahabat’ dengan alam. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dalam Al-Quran: “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar.” (Asy-Syura: 30)

Malapetaka ini yang melanda beberapa wilayah di Indonesia terjadi karena rusaknya lingkungan dan hancurnya ekosistem alam akibat dijahili oleh tangan-tangan rakus manusia yang mengeksploitasi alam tanpa henti. Anehnya, umat manusia masih saja‘cuek’ dengan masalah lingkungan,padahal dampak dari eksploitasi itu terbukti sangat parah, bisa menghancurkan harta hingga milyaran rupiah, bahkan menelan banyak korban jiwa.

Akan tetapi pada umumnya masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mampu memetik hikmah di balik rentetan peristiwa tragis yang mewarnai negeri ini. Kerusakan lingkungan belum bisa berhenti total, eksplorasi dan eksploitasi alam tidak terukur dan makin merajalela. Akibatnya, ekosistem alam pun menjadi kacau dan tentu saja sangat mengkhawatirkan. Alam akan menjadi ancaman kehidupan yang serius dan sewaktu-waktuakan ‘mengamuk’ dan tidak bersahabat lagi dengan manusia.

Oleh karena itu, belajar dari peristiwa yang terjadi hari ini manusia perlu untuk kembali bersahabat denagn alam, melestarikan lingkungan hidup dan melakukan tindakan prventif kerusakan lingkungan dari tangan-tangan jahil melalui pemahaman lingkungan secara komprehensif dan integratif. Semoga bencana yang kita alami saat ini dapat memberi kesadaran kepada kita untuk berhenti merusak alam dan mengotorinya, agar Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa tidak menghukum kita lagi melaluihukum alam yang pasti terjadi kepada manusia baik yang membangkang maupun yang tidak membangkang.

Wallahu a’lam bisshawaab

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 6,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Achmad Firdaus
Pengurus International Student Society NUS Singapore.

Lihat Juga

Cover buku "Mengintip Alam Gaib".

Mengintip Alam Gaib; Rahasia Malaikat, Jin, dan Setan Menurut Alquran dan Sunnah