Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berterima Kasihlah (Bagian Ke-2)

Berterima Kasihlah (Bagian Ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.comBerterima kasihlah kepada anak-anak kita. Atas ketaatan mereka pada nasihat kita. Atas kepatuhan mereka terhadap batas-batas dan aturan. Atas kesantunan mereka dalam sikap dan perilaku.

Berterima kasihlah kepada anak-anak kita atas bantuan kecil yang mereka berikan pada sebagian pekerjaan kita. Meski mungkin dalam pandangan kita bantuan itu lebih sebagai ‘merecoki’. Tapi, itu adalah bentuk perhatian mereka pada kesibukan kita. Dan keterlibatan mereka dalam kesulitan kita. Soal kualitas, biarlah sementara masih tersimpan dalam kamus kita. Biarlah mereka belajar sendiri bersama lintasan waktu yang akan mereka jalani. Pada akhirnya mereka pun akan menemukan sendiri arti kualitas kerja.

Berterima kasihlah atas kebaikan-kebaikan mereka. Atas inisiatif mereka untuk berbuat baik. Merapikan tempat tidur mereka. Menyapu kamar mereka. Menjemur handuk mereka. Menyiapkan peralatan sekolah mereka. Merawat buku-buku bacaan mereka.

Berterima kasihlah atas kebaikan dan bakti mereka kepada kita yang sudah mulai tumbuh. Mengambilkan kita minum. Membantu menyiapkan makan. Membantu memotong sayur. Membantu merapikan rumah. Membantu menata prabotan.

Berterima kasihlah saat mereka sudah bisa menunjukkan sikap baiknya kepada orang lain. Kepada teman-teman mereka. Kepada tetangga. Kepada kenalan dan teman sejawat yang datang berkunjung ke tempat kita.

Berterima kasihlah saat mereka sudah bisa memperlakukan dengan baik hewan piaraan mereka. Memperlakukan dengan baik tanaman-tanaman penghias rumah kita. Memperlakukan  dengan baik setiap makhluk Allah yang ditemuinya di mana pun, hingga binatang-binatang kecil yang sesekali mereka jumpai. Pujilah saat mereka sudah bisa menunjukkan sikap baik terhadap laron, semut, siput, belalang, kaki seribu, atau binatang kecil lainnya yang mereka semua adalah makhluk Allah yang tidak berhak mendapat perlakuan kasar dan jahat dari kita.

Berterima kasihlah ketika mereka sudah memiliki sikap yang benar terhadap lingkungan. Tidak merusak tanaman. Tidak mengotori tembok. Tidak membuang sampah sembarangan.  Berterima kasihlah. Dan bersyukurlah atas semua perilaku baik anak-anak kita.

Berterima kasihlah kepada pembantu dan sopir kita. Jika kebetulan di rumah kita ada pembantu, sopir, babbysitter, tuang kebun, atau penjaga keamanan. Apa pun tugas spesifik mereka, mereka semua adalah orang-orang yang telah berjasa kepada kita. Dengan kehadiran mereka, sebagian pekerjaan rumah tangga kita bisa diselesaikan dengan baik. Itu semua berkat kehadiran mereka, orang-orang yang mungkin masih kita pandang sebagai kelompok penyandang status sosial rendah. Tapi, serendah itukah nilai mereka, dengan pekerjaan dan profesi mereka yang begitu besar artinya bagi keberlangsungan hidup kita meraih kelayakan?

Tidak serendah dan sehina itu peran hidup mereka. Maka, berterima kasihlah kepada mereka. Untuk kerja-kerja berat mereka. Untuk kepatuhan dan loyalitas mereka. Untuk sikap mereka menghargai kita. Maka bersyukurlah kepada Allah atas semua itu. Jika saja Allah menciptakan kehidupan ini seragam hingga tak ada yang mau jadi pembantu, tak ada yang mau jadi pengasuh balita, tak ada yang mau jadi tukang kebun, tak ada yang mau jadi petugas penjaga keamanan, tak ada yang mau jadi sopir…, dapatkah kita bayangkan kahidupan ini akan berjalan normal dan harmonis seperti ini?

Berterima kasihlah kepada kedua orang tua kita. Ini yang paling utama dan harus kita istimewakan. Ini adalah kewajiban di atas kewajiban antarmanusia lainnya. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Begitu besar kasih sayang mereka kepada kita. Begitu besar pengorbanan yang telah mereka berikan untuk kita. Untuk kebahagiaan kita. Untuk keselamatan kita. Untuk kesehatan kita. Untuk kesembuhan kita. Untuk pendidikan kita. Untuk semua hal yang kita sendiri tidak tahu dan tak pernah menyadarinya. Tapi justru merekalah yang ternyata lebih memahami hal-hal itu. Karena sayangnya mereka kepada kita. Karena cintanya mereka kepada kita, anak-anaknya. Maka, tak adakah rasa terima kasih dan syukur kita terhadap keduanya? Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Lalu, mengapa di antara kita bahkan ada yang bisa-bisanya membenci ayahnya sendiri, atau ibu kandungnya sendiri? Begitu fatalkah kesalahan mereka hingga ia merasa layak dan berhak membencinya? Dan merasa punya pembenaran atas sikapnya? Hanya karena orang tuanya tak restu dengan calon pasangan hidupnya. Hanya karena mereka tidak sepaham soal jalur pendidikan yang ingin dipilihnya. Atau soal keinginannya yang berlebihan hingga tidak bisa mereka penuhi. Atau hanya soal perbedaan dalam kegemaran dan kebiasaan. Dan begitu banyak hal-hal sepele yang menjadi sebab menjauhnya sebagian di antara kita dengan orang tuanya. Karena menuruti hawa nafsu, keinginan yang tanpa kendali, mengikuti ego dan kesombongan. Padahal, jikapun ada kekeliruan mereka, kita tetap wajib menghormatinya. Kita tetap wajib menjaga perasaan mereka. Tetap menjaga hubungan baik dengan mereka. Bahkan, ketika mereka melakukan kesalahan yang paling fatal sekalipun, menyuruh kita menyekutukan Allah, kita tetap diperintahkan Allah untuk berlaku baik kepada mereka. Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik….” (Luqman: 15).

Sungguh, betapa besar kewajiban kita kepada kedua orang tua untuk berbuat baik kepada mereka. Lalu berterima kasih atas kebaikan-kebaikan mereka. Dengan pengorbanannya, kita bisa seberhasil ini. Dalam pendidikan kita. Dalam bisnis dan karir kita. Dalam segala prestasi dan capaian hidup kita. Bukankah dalam keberhasilan-keberhasilan itu, sesungguhnya ada andil besar dari mereka? Saat kita diwisuda S1, S2, atau S3, di samping keberhasilan kita, sesungguhnya itu adalah keberhasilan Ayah-Ibu kita. Tetapi, apakah mereka mengharap toga dan pakaian kebesaran itu dikenakan pada mereka? Tidak. Mereka tidak mengharap itu. Karena mereka tulus dalam memberi dan mendidik kita.

Saat kita berhasil meraih capaian tinggi dalam kepangkatan dengan disematkannya bintang emas di pundak kita; bintang satu, dua, tiga, atau empat, maka sesungguhnya yang juga pantas menerima itu adalah ayah dan ibu kita. Tapi, apakah mereka berharap bahwa bintang itu disematkan ke pundak mereka? Tidak. Kita tahu mereka tak pernah memimpikan itu. Karena mereka tulus memberi kita. Mereka tulus mendidik kita. Tanpa syarat. Tanpa berharap imbalan apa pun.

Jika saat ini kita merasa berhasil, maka sesungguhnya orang tua kita sudah jauh lebih berhasil ketimbang kita. Mereka telah berhasil melahirkan orang-orang yang berhasil. Jika kita merasa sukses dengan bisnis dan karir kita, maka orang tua kitalah yang lebih sukses karena mereka telah mencetak orang-orang sukses. Jika kita merasa hebat dengan capaian apa pun dalam segala macam jalur hidup kita, maka ibu bapak kitalah yang sesungguhnya paling berhasil dan paling hebat karena mereka telah mampu menghasilkan orang-orang hebat itu.

Maka, ungkapkanlah terima kasih dan kesyukuran atas kemuliaan jasa-jasa mereka dengan cara yang bisa kita lakukan. Dengan berendah diri di hadapan mereka. Dengan menjaga perasaan mereka. Dengan memahami cara pandang mereka. Dengan tetap menempatkan diri sebagai anak-anak di hadapan mereka. Dengan tidak menonjolkan kehebatan dan kelebihan kita di depan mereka. Biarlah status panglima tetap ada di dunia militer kita, tetapi di depan mereka kita adalah anak-anak mereka yang selalu siap melaksanakan perintah. Biarlah kedirekturan kita berlaku di lingkungan perusahaan kita. Adapun di depan mereka, kita tidak lain kecuali anak yang siap untuk diatur dan patuh. Biarlah ketokohan kita disanjung orang, di lapangan hidup apa pun, tetapi di depan mereka kita tetaplah anak-anak mereka, yang selalu siap mendengarkan nasehat dan saran mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra: 24).

Seorang laki-laki dari Yaman tawaf di Ka’bah sambil menggendong ibunya. Ia mengatakan, “Sesungguhnya aku di hadapannya ibarat unta yang hina.” Kemudian ia bertanya kepada Ibnu Umar yang sedang thawaf di sampingnya, “Wahai Ibnu Umar, apakah engkau melihat bahwa saya telah membalas kebaikan ibu saya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, bahkan hanya untuk satu tarikan nafasnya saat ia melahirkanmu.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Bersyukurlah. Bersyukurlah kepada Allah serta kepada ibu dan ayah kita. Dengan kemusliman kita sekarang, itu adalah jasa dan jejak kebaikan mereka berdua. Bersyukurlah bahwa orang tua kita telah menuntun kita sejak masa awal kehidupan kita untuk mulai menapaki hidayah. Mereka telah mengenalkan kita kepada Islam. Mereka telah membiasakan kita pada bermacam bentuk ketaatan. Belajar rukuk-sujud. Belajar bismillah-alhamdulillah. Belajar alif-ba-ta. Belajar mengenal masjid…, dan segala macam atmosfer keimanan, telah mereka kenalkan dan ajarkan kepada kita. Kita tidak bisa membayangkan seandainya kita dilahirkan di tengah-tengah orang tua yang tidak mengenal itu semua. Subhanallah, betapa bersarnya karunia Allah yang telah memberi kita orang tua yang baik yang menuntun kita kepada jalan kebaikan.

Maka, dengan semakin bertambahnya usia kita, mudah-mudahan semakin menambah matang diri kita, menambah bijak sikap kita. Menambah pemahaman kita akan besarnya keutamaan ibu dan ayah kita. Lalu sampai pada kesadaran tentang hakikat rasa syukur dan terima kasih kita kepada kedua orang tua. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai…’.” (Al-Ahqaf: 15).

Maka, berterima kasihlah kepada ibu-bapak kita. Dan teruslah ingatkan diri kita akan kewajiban besar ini. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14).

— Bersambung

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3). (Foto: viva..co.id)

Terima Kasih, PKS