Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kotak Suara dan Pemilu

Kotak Suara dan Pemilu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi Kotak Suara (Sumber: lipsus.kompas.com)
Ilustrasi Kotak Suara (Sumber: lipsus.kompas.com)

dakwatuna.comTangan-tangan kotor, walaupun aku hanya sebuah benda tabung bersegi, bisa dilipat, dan sering dianggap tak berarti. Namun engkau harusnya mengerti karena engkau hidup, sedangkan kami tak bisa bersaksi. Jangankan untuk bersuara, untuk bergerakpun kami hanya bisa mati. Bentuk yang seperti ini, membuat kami selalu tahu diri. Menuju daerah yang tak mengerti, tentang esensi pemilu di negeri ini.

Tangan-tangan kotor, jiwa kami adalah jiwa mati. Karena kami adalah benda mati. Sedangkan engkau selalu berarti apabila bertindak dengan hati. Semua menuduh kami tak mengerti, menjadikan pajangan dalam satu hari. Kala semua rakyat ingin mengerti, namun mata engkau bermain manipulasi. Raga tubuhmu, selalu menjadi bumbu dalam takutmu. Mungkin kami tak bisa mengerti, daya melambung selalu menjadi kekuatanmu. Walaupun ada niat terselubung.

Tangan-tangan kotor, ritme awal yang santai. Bukan menjadi tanda baik, laksana dengan tangan yang tak mengerti konstitusi. Semua bisa terjadi, di negeri yang penuh semburan api. Kala peringatan menghampiri, korupsi pun menjadi-jadi. Dan yang akan terjadi di pemilu nanti, kami pun harus berdiam diri lagi. Karena kami adalah benda mati. Tak lebih berharga, dari kertas bertanda di dalamnya nanti.

Tangan-tangan kotor, engkau bilang ini demokrasi. Seharusnya ini menyentuh hati bukan sebaliknya malah menyakiti hati. Seharusnya bukan nasi yang mereka cari, namun pemimpin sejati yang mengerti. Apabila strategi kalah dalam pemilu nanti, bukan distorsi yang akan terjadi di pemilu ini. Harapan menjadi jalan satunya, ketika semua usaha sudah tak berarti.

Tangan tangan kotor,engkau bilang takut kepada Tuhan. Seharusnya kitab-Nya bukan engkau gadaikan. Ambisimu yang selangit, bukan berarti semakin membuat rakyat menjerit. Selanjutnya api kekuasaan dan engkau menyebar untuk mengakar dan sekali lagi lidahmu bersilat. Semua ini adalah sistem, namun ternyata tak lebih dari ekosistem. Di mana yang kuat yang menang, walau hanya berbeda editor. Sekali lagi kami ini adalah benda mati, yang tak mempunyai hati. Dan kami hanya bisa berbisik. Semoga hari esok tak terjadi, walaupun hanya sebatas mimpi. Dari kami benda mati untuk orang yang punya hati.

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agung Pratama
Mahasiswa aktif di Fakultas Hukum Unsri, aktif di KAMMI al-aqsho Unsri di department Kebijakan Publik. Menjadi manusia pembelajar dalam mengarungi dunia kampus, untuk menuai hasil besar.

Lihat Juga

Hasil Resmi Pemilu Turki Ditetapkan, AKP Terdepan dengan Raihan 317 Kursi