Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibnu Mubarak; Ulama yang Hartawan

Ibnu Mubarak; Ulama yang Hartawan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sejarah manusia selalu diisi oleh orang-orang besar yang jumlah mereka sangat sedikit. Karena itulah jumlah orang-orang besar atau pahlawan yang pernah ada di muka bumi ini terhitung, sementara jumlah manusia biasa tidak terhitung. Tetapi sejarah pula mencatat, mereka yang mewarnai kehidupan manusia ini adalah orang-orang besar yang sedikit jumlahnya. Baik itu sebagai ilmuwan, ekonom atau pemimpin. Salah satu orang besar itu bernama Abdullah bin Mubarak.

Abdullah bin Mubarak bin Wadhih al Handzaly at Tamimy atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Mubarak dilahirkan pada tahun 118 Hijriyah, di sebuah kota wilayah Khurasan bernama Maru. Pada masa khalifah Umayyah, Hisyam bin Abdul Malik. Dan wafat pada tahun 181 Hijriyah (797 Masehi), di masa khalifah Abbasiyyah, Harun ar Rasyid. Ibnu Mubarak merupakan salah seorang dari pengikut tabiin.

Ibnu Mubarak tumbuh dan berkembang di kota kelahirannya. Saat itu kota Maru merupakan pusatnya ilmu dan ulama. Ia tumbuh dari keluarga Muslim yang taat kepada ajaran Islam. Ayahnya bekerja sebagai penjaga kebun, yang kemudian beralih profesi sebagai pedagang. Masa kecil Ibnu Mubarak ia habiskan dengan mempelajari berbagai ilmu dengan berguru kepada para ulama. Sehingga dasar-dasar ilmu keislaman tertanam kuat dalam dirinya.

Masa muda adalah masa tersulit dalam persimpangan hidup manusia, karena begitu banyak godaan yang hadir di waktu-waktu ini. Ahli jiwa menyebutnya dengan istilah “masa transisi” atau “masa pencarian jati diri”. Begitu juga yang di alami Ibnu Mubarak, suatu waktu ia pernah terjebak dalam kondisi yang tidak menentu. Ia Berhenti dari mencari ilmu, lalu larut dalam kesia-siaan. Ia habiskan waktunya untuk bersenda gurau dan bermain musik bersama teman-temannya. Allah yang Maha Penyayang memberikan hidayah kepadanya, ia pun terjaga dari kelalaiannya dan segera bertaubat. Dari sinilah ia mulai zuhud kepada dunia, lalu kembali menyibukkan dirinya untuk mencari ilmu.

Dinasti Umayyah sebagai zaman dimulainya gerakan menterjemah, banyak buku dari Yunani, India dan Persia diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan buku-buku itu selesai diterjemahkan seluruhnya pada masa Dinasti Abbasiyyah, dari hal itu kemudian Islam pun bangkit mencapai zaman keemasannya. Ibnu Mubarak adalah orang yang beruntung bisa merasakan masa-masa kejayaan itu. Di zaman itu berkembang pesat berbagai disiplin ilmu, mulai dari Fiqih, Hadits dan Sastra. Tercacat beberapa ulama besar yang hidup saat itu seperti Imam Al Auza’i, Sufyan at Tsauri, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, serta beberapa ulama besar lainnya.

Saat itu suasana belajar bukan dalam universitas atau di kelas-kelas seperti sekarang, tetapi dengan menemui para ulama tersebut dan belajar langsung kepada mereka atau biasa dikenal dengan talaqqi. Maka dari itu Ibnu Mubarak dikenal sebagai ulama yang banyak melakukan perjalanan mencari ilmu. “Orang yang tidak melakukan perjalanan, ilmunya kurang terpercaya.” Katanya memberi alasan.

Ibnu Mubarak melakukan perjalanan mencari ilmu ke seluruh penjuru jazirah Arab. Yaman, Syam, Hijaz, Bashrah, Kuffah dan Mesir adalah negeri-negeri yang pernah didatanginya. Abu Usamah dalam Tazkiratu-l Huffadz mengatakan, “aku tidak melihat seseorang yang paling giat mencari ilmu ke seluruh penjuru negeri selain Ibnu Mubarak.” Dalam riwayat lain disebutkan Ibnu Mubarak mengunjungi kurang-lebih seperempat dunia untuk mencari hadits-hadits.

Disebabkan kesungguhannya mencari ilmu dan banyaknya bertemu dengan para ulama, menjadikan Ibnu Mubarak sebagai orang yang berwawasan luas. Ia dikenal sebagai ahli Hadits yang tsiqah, ahli Fiqih dan juga seorang sastrawan. Dari semua disiplin ilmu yang ia kuasai, ilmu hadits-lah yang paling menonjol darinya. Karena pengetahuannya tentang hadits yang mendalam, orang-orang menjulukinya dengan sebutan “dokter”. Kata-katanya yang termasyhur di kalangan ulama hadits yaitu, “sanad bagian dari agama. Kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang akan berbicara semaunya.” Satu waktu ia juga mengatakan, “seorang yang menuntut ilmu tanpa sanad bagaikan naik atap tanpa memakai tangga.” Guru-gurunya dalam bidang hadits tidak terhitung, sebuah riwayat menyebutkan Ibnu Mubarak berguru kepada 800 orang ulama. Sementara itu dalam bidang fiqih ia berguru kepada Sufyan At Tsauri, Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Karya Ibnu Mubarak yang sangat populer adalah kitab Az Zuhd.

Ibnu Mubarak semasa hidupnya berkali-kali terlibat dalam peperangan. Ia yang sering mengajarkan pasukan Islam tentang keberanian dan teknik berperang. Ibnu Mubarak memiliki keyakinan manisnya iman hanya bisa didapat dengan berjihad di jalannya. Maka ketika ia melihat Fudhail bin ‘Ayyad hanya larut dalam beribadah di masjid Nabawi, ia mengirim bait-bait puisi yang salah satu baitnya berbunyi:

Wahai Abid Haramain jika engkau melihat kami

niscaya engkau akan tahu, sesungguhnya ibadahmu hanya main-main.

Sang Zahid yang Hartawan

Banyak ulama menyebut Ibnu Mubarak sebagai imamnya ahli zuhud. Gelar itu memang sangat layak, ia bukan saja mengetahui hakikat zuhud, akan tetapi menerapkannya dalam segenap jiwa dan raganya. Terkadang orang salah memahami makna zuhud, bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia, hidup dalam kemiskinan, mengasingkan diri dari kehidupan sosial, lalu menggantungkan hidupnya pada belas-kasih para dermawan. Inilah zuhud yang salah.

Ibnu Mubarak adalah seorang zahid yang hartawan. Kecerdasannya dalam berbisnis berasal dari ayahnya dan gurunya Imam Abu Hanifah, yang juga seorang pebisnis sukses. Ibnu Mubarak memiliki harta yang banyak dan bisnis yang beragam. Ibnu Katsir dalam al Bidayah wa an Nihayah, menyebutkan bahwa Ibnu Mubarak memiliki modal sekitar 400 ribu Dinar. Jumlah yang sangat banyak pada waktu itu. Modal itu ia kembangkan untuk berbisnis di beberapa negeri yang ia kunjungi. Dari keuntungan bisnisnya yang berkisar sekitar 100 ribu Dinar itu ia infaq-kan semuanya di jalan Allah. Ketika ditanya mengapa ia masih berbisnis, bukankah ia mengajarkan orang untuk senantiasa zuhud pada dunia? Simaklah jawaban Ibnu Mubarak berikut ini, “aku berbisnis untuk menjaga kehormatanku—dari para penguasa dan meminta-minta. Dengan harta, membantuku semakin taat kepada Allah. Tidak satu pun hak Allah yang aku ketahui, kecuali segera aku melaksanakannya.” Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

"Kang Yasin" hanya nama panggilan dari Yayan Suryana. Lahir 20 November di Loji Karawang. Setelah menyelesaikan pendidikan di Ponpes Ar-Risalah, Slahung, Ponorogo. Kemudian melanjutkan pendidikan di Fak. Ushuluddin, jurusan Dakwah dan Kebudayaan Islam, Universitas Al-Azhar Kairo. Aktivitas sehari-hari mengajar dibeberapa sekolah swasta di kota kelahirannya & membuka bimbingan belajar Andalusia.

Lihat Juga

Syaikh 'Aid Al-Qarni dan bukunya yang monumental, La Tahzan (youtube.com)

Syaikh ‘Aid Al-Qarni Ungkap Detik-detik Upaya Pembunuhan Dirinya di Filipina