Masa Lalu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Waktu yang kita miliki terbagi menjadi tiga yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu adalah waktu yang telah kita lewati, yang tidak akan kembali lagi. Masa sekarang adalah waktu yang sedang kita miliki dan kita lewati. Dan masa depan adalah waktu-waktu yang akan kita lewati yang belum tahu bagaimana dan seperti apa kita akan menjalaninya.

Masa lalu yang sudah kita lewati sesungguhnya tidak pernah akan kembali lagi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu adalah kenangan. Kenangan yang dimiliki setiap orang pasti berbeda. Ada kenangan manis dan ada kenangan pahit. Ada kenangan indah dan ada kenangan buruk. Untuk kenangan yang indah, banyak orang yang menginginkan untuk merasakannya kembali. Tapi hampir setiap orang, tidak menginginkan kenangan pahit terulang kembali. Cukup sekali, begitu kata sebuah lagu.

Ada yang bisa melepaskan diri dari bayangan masa lalu dan ada yang tidak. Langkah kehidupannya saat ini dan yang akan datang masih dibayangi masa lalunya. Bolehkah kita mengingat-ingat masa lalu? Dengan menimbang efek yang bisa ditimbulkan, maka mengingat masa lalu, bisa dibolehkan dan bisa tidak dibolehkan.

Sebab masa lalu seseorang ada yang baik dan ada yang buruk. Jika dengan mengingat masa lalu bisa membuat seseorang menjadi lebih bersemangat, terlecut tekadnya, dan memberi pelajaran yang baik, maka mengingat masa lalu dibolehkan bahkan penting. Misalnya perjuangan seseorang di masa lalu yang bisa sukses dan bangkit dari keterpurukan. Contohnya kisah hidup almarhum ustadz Jefri Al Buchori yang dulunya punya masa lalu kelam, tapi bisa berubah menjadi seorang ustadz. Atau seperti menteri BUMN Dahlan Iskan yang dulunya adalah berasal dari keluarga miskin, sekarang menjadi tokoh yang berpengaruh di Indonesia. Perjuangan-perjuangan mereka di masa lalu, itu patut ditiru.

Akan tetapi, jika dengan mengingat-ingat masa lalu tidak membawa kebaikan dan hanya melenakan dengan kejayaan di masa lalu, tentu sebaiknya tidak dilakukan. Misalnya kebanggaan terhadap kekayaan yang dimiliki di masa lalu, prestasi yang diraih di masa lalu, tapi tidak membuatnya mengambil hikmah dari masa lalu, tentu ini tidak perlu.

Seorang bijak mengatakan, seorang pemuda yang hebat adalah yang mengatakan inilah aku dan bukan inilah bapakku. Ini adalah ungkapan bahwa seseorang tidak boleh membanggakan selain dirinya. Keluarga dan masa lalu bukanlah diri kita. Kita harus bangga pada diri sendiri dan bukan karena orang lain atau masa lalu kita.

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Sang Guru Masa Depan