Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Gelar Mereka Tetap Ayah Ibu

Gelar Mereka Tetap Ayah Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comAllahu akbar! Maha Besar Allah dengan segala keajaiban penciptaan makhluk bergelar khalifah di muka bumi-Nya ini. Tentu dengan segala rintihan sakit dan mekarnya senyum semua kita lalui dengan izin-Nya.

Hampir kugenapkan 3 bulan berbenah di sini. Di tempat luar biasa yang hampir setiap hari mengajarkanku segala bentuk pengabdian seorang Ibu pada anaknya, ketundukan dan keikhlasan seorang istri pada lelaki yang menggelari diri sebagai penyambung pikulan amanah dari Ayahnya.

Iya benar. Tempat ini menyulap segala sisi kerasnya pendapatku terhadap sosok lelaki, melebur keyakinanku bahwa kaum adam ini kadang hanya mengerti perintah tanpa mendalami jalan naluri. Ah… bisa jadi ini perjalanan baru buatku dengan mengamati segala apa yang terjadi di sini, di samping ruang kerjaku yang hanya berbatas dinding dan pintu keluar masuk.

Bagaimana mungkin aku tak banyak menggenangi otak dengan kondisi luar biasa ini, kondisi yang sebelumnya jarang kutemui. Setiap hari aku menyaksikan para Ibu dengan perut besarnya menuju klinik bersalin itu dengan berbagai macam maksud dan tujuan kedatangan mereka: periksa janin, kontrol bulanan, USG, bahkan ada yang datang dengan lipatan kening yang susah dihitung karena menahan sakit keburu lahiran.

Wah… sebenar-benar pembelajaran berarti untukku yang di seperlima abad usiaku tidak pernah berpikir sejauh ini. Ya… baru akhir-akhir ini saja aku sadar bahwa hal ini milk wanita. Ya… kamu benar lagi… aku wanita, tepatnya wanita yang sudah bisa merasakan sakitnya apa yang pernah kulihat dari Ibu hebat tadi pagi itu.

Ini jam istirahat shalat Dzuhur dan makan siang. Mungkin pekan ini sudah ketiga kalinya aku mendengar rintihan halus dan tarik napas teratur dari ruang bersalin itu. Tepat di belakang ruangan tempat makan siangku kali ini, lagi-lagi aku keringat dingin, menarik nafas dan sesak sesaat. Ya Rabb… tiba-tiba aku merindukan sosok hebat itu, tiba-tiba aku ingin dia ada di sini menceritakan semua apa yang dialaminya ketika perjuangannya menghadirkan aku di dunia-Mu ini. Ya… Ibu.  Ibuku yang hampir tak pernah meninggalkan kesan buruk di otakku, meski kadang repetan lisannya membuatku tersungut dan menangis. Tapi dia tetap hebat. Tetap memiliki sesamudra perhatian tulus untuk darah dagingnya ini.

Saat ini juga aku akan menelponnya. Iya…  sekarang. Mungkin dia sudah selesai shalat.

“Assalamu’alaikum, Mak… sehat?”

“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah sehat, nak. Kakak sehat? Sudah makan siang, kak? Masih banyak kerjaan hari ini? Jangan lupa istirahat ya Inang,” itu suara wanita hebatku di seberang sambungan HP ini. Aku cuma bertanya satu pertanyaan untuknya, tapi dia balikkan begitu banyak kecemasan untukku. Ya Rabb, bagaimana mungkin aku tak semakin rindu padanya.

Terasa kelu, aku seperti sedang menyaksikan romansa mengharukan, yang membuat Ibuku heran dengan tingkahku yang tiba-tiba terbawa sedih. Sisi kecengenganku menjadi-jadi. Kututup pembicaraan anehku dengan Ibu dengan salam yang hampir terbata-bata.

Kuingat lagi, sewaktu SMP dulu, Ibuku pernah bercerita bahwa aku lahir selepas Ibu mandi sore dan ingin shalat Ashar. Waktu itu Ayahku belum pulang dari tempat kerjanya yang berjarak kurang lebih 20 km dari rumah nenekku. Ibuku dititip Ayah di sana karena sudah menjelang masa bersalin dan juga karena aku bakal anak pertama sekaligus cucu pertama buat kakek nenekku dari Ibu.

Kata Ibu, tidak cukup sulit melahirkanku. Hanya ada Ibuku dan opung (kakek nenekku) di sana serta tulangku (adk Ibuku) yang disuruh menjemput bidan desa ke RT sebelah. Aku lahir tidak dihadapan Ayahku, jadi aku diiqomahkan kakekku. Ayahku sampai ke rumah nenek  setelah hampir 3 jam usai kelahiranku. Kata Ibu, Ayahku mengiqomahkan aku kembali. Menurut Ayah agar suaranya kelak selalu jadi kedekatan antara dia dan aku sebagai putri kebanggaan tentunya dalam hal yang baik-baik.

Waktu itu Ibu minta maaf pada Ayah karena anak pertama mereka bukan bayi laki-laki seperti yang dikhayal-khayalkan Ayahku. “Esok, kalau anakku besar, aku ajak main bolalah, aku ajak mancing, kuajak ke Masjid, bla… bla…” itu yang sering diucapkan Ayah sewaktu aku masih dalam rahim suci Ibuku.

“Dedeknya cantik, Pa, bukan ganteng,” kira-kira begini kata pertama Ibuku setelah Ayahku mengiqomahkanku.

“Tidak apa-apa sayang, terimakasih. Kelak putriku ini akan sangat kuat dan sangat hebat melebihi impian-impian kita,” itu yang sampai sekarang sering kudengar dari Ayahku jika aku sudah mengadu kepadanya. Jika sifat manjaku kadang mendadak hadir.

Ah… hebat bukan gelar orang tua itu? Menurutku sangat heroik, sangat menyentuh. Bagaimana tidak, dengan segala keterbatasan dan kondisi materi mereka di zaman itu, tak menjadi alasan buat mereka mendidik generasi titipan Ilahi Rabbi. Sampai-sampai aku merasa jauh lebih bodoh dari Ayah dan Ibuku. Ah… semoga saja… semoga doa-doa mereka masih lama membersamaiku. Berkahi usia keduanya, ya Rahman. Hingga benar terwujud aku bisa membaktikan diri sepenuh hatiku untuk mereka, mengantar mereka menuju sejuta kebaikan yang mereka belum sampai.

Pernah juga beberapa waktu yang lalu aku bertanya iseng pada Ibuku, “Mak, waktu hamil kakak, Umak ngidam apa?”

“Tidak ngidam banyak dan aneh-aneh, kak. Apa yang ada Umak makan aja. Tapi, ada sih satu yang Mak ingat. Waktu itu sudah tengah malam, kak. Umak ingin makan nasi rames dari warung di pinggir pantai dekat pasar,” kata Ibuku.

Malam itu juga Ayahku pergi ke sana dengan motor butut warisan Uwakku. Dengan harapan nasi jualan Ibu warung pantai itu masih ada. Dan Alhamdulillah, Ayahku pulang membawa makanan idaman Ibuku yang waktu itu merupakan permintaan Ibuku yang sangat aneh bagi Ayahku.  Tapi diturutinya saja, sambil mengancam lembut Ibuku. “Sudah jemput sejauh-jauh itu, dihabiskan ya,” kata Ayahku sambil membukakan bungkusan daun pisang yang berisi nasi pesanan si Mak.

Setelah Ibuku menceritakan itu, aku tertawa dan memeluk tangan Ibuku. “Ah, romantis ya Papa dan Umak waktu itu,” ledekku pada Ibuku. Hanya senyum dan tangannya yang semakin lembut merapikan jilbab kucelku.

Itu Ibuku. Itu Ayahku. Sesanggup mereka selalu menitipkan semangat buatku, meski bukan dengan serba kecukupan materi tapi tak sekalipun mereka menelantarkan hak kami. Selalu mereka bilang ada meskipun adanya masih di langit. Pada adik-adikku, Ibu bilang, “Ada, nak.” Tapi aku tahu, adanya di langit dan sebentar lagi akan diturunkan Allah. Selalu bertopeng ketenangan, selalu menyembunyikan ketersiksaan. Selalu dan selalunya mereka yang hingga saat ini mengajarkanku banyak jalan keluar dari onggokan masalah duniawi ini.

Sejauh ini, aku masih bersama kesyukuran yang kujalin bersusah payah, meski selama hayatku tak semua senyum yang mereka sisipkan di hatiku. Pernah juga aku sedih. Tapi mereka tetap Ayah Ibu yang sangat hebat, sangat cerdas mengakal-akali ketakutanku. Dan nyatanya memang benar, kayuhan perahu keluarga kami masih satu komando, masih diqiyadahi oleh Ayah terhebatku.

Ibu, jazakillah sangat atas tumpangan rahim suci tanpa tarif itu. Sembilan bulan kurang beberapa hari gratis. Bagaimana mungkin bisa kubayar dan akupun tak tahu cara melunasinya, meskipun tak akan pernah terbersit di otakmu untuk mentarifnya, terimakasih Ibuku sayang. Kau wariskan kepadaku ilmu sabarmu, titipi aku doa penjagaan tanda setia milikmu, lengkapi kuatku ini dengan kekuatan yang kau miliki. Kelak aku juga akan berubah jadi wanita setia, jadi Ibu luar biasa sepertimu, jadi istri manut yang tak sekalipun membiarkan periuk nasimu kosong ketika Ayah tiba di pintu rumah. Ibu, Surga terlayak kupinta pada Allah, ajak juga aku kelak ke sana untuk memenuhi shaf-shaf rapi bidadari-bidadari shalihah pemilik ridha para suaminya. Aku janji aku tak akan keras kepala lagi dengan hal ini Ibu.

Ayah, segalanya dari Rabbmu telah kau kucurkan pada kami. Kau yang tak pernah sekalipun meragukan keputusanku, selalu jadi orang pertama mendukung segala ide-ide konyolku, karena menurutmu aku akan mampu dengan ketajaman masalah seperti apapun. Ah… aku tetap masih putri kecilmu dulu, Pa, yang selalu menunggu putaran jarum jam di depan pintu rumah kita, menunggumu pulang kerja membawakan kantongan plastik oleh-oleh untukku. Aku hanya punya sebait kata yang dari dulu kujadikan jimat kekuatan di perjalanan tunggang langgangku ini: Dunia ini keras, Inang. Maka keraskan prinsipmu, agar tak satu orangpun bisa menyakitimu. Dunia ini keras, Inang. Maka lembutkan hatimu seperti fitrahmu. Sekali lagi kau tetap satu-satunya penyair dan pemimpin kebanggaanku.

Aku, akan berusaha jadi amanah terindah buat kalian, dan kelak pemberi payung teduh di lapangan persaksian itu.

Segenap Hormatku, Putri kecilmu dulu.

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sarika Lubis
Baru saja mengakhiri status mahasiswa di Universitas Riau, dan pernah mengaktifkan diri di BEM FKIP UR. menyibukkan diri bersama urusan indah itu adalah nikmat tak terkira. Dan investasi indah juga buat orang-orang tersayang. siapa lagi... siapa lagi...siapa lagi?

Lihat Juga

Ilustrasi. (almkohtsar.com)

Surga untuk Ayah