Goodbye

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: photobucket.com)
Ilustrasi. (Foto: photobucket.com)

dakwatuna.comSatu persatu mereka berkata goodbye kepada kita. Ah satu persatu mereka sudah menjauh saja dari kita. Jalan ini memang sangat rumit, bermisteri dan butuh kesabaran. Namun jalan ini juga memberikan kebaikan dan kedudukan yang mulia di sisiNya.”

Mari kita flashback sebentar. Di masa pertama kita dikenalkan dengan jalan ini. Di tengah kegalauan hati, di tengah kekusutan jiwa. Jalan ini hadir kepada kita, membawa modal perintah-Nya. Satu persatu kita ditariknya masuk, ikut bergabung dan ‘terlanjur’ dalam kita mengikutinya. Kita yang dahulu sama-sama berharap agar ‘rumah’ kita bisa madani. Kita yang dahulu sama-sama berjuang, siang malam, letih dan lelah toh bersama dialami. Sekarang ketika kita telah hampir mendapatkan seperempat kemadaniannya. Satu persatu dari kita pergi menjauh. Entahlah mungkin pergi mencari ‘rumah’ baru. Mencari kehidupan lain yang lebih menyilaukan pandangan dan sudah tidak mau lagi bertanya tentang jalan kita ini.

Kita pasti sangat mengetahui. Ada di antara kita yang merasa sudah lelah, letih, capek dan lainnya namun demi jalan ini dia terus tampak tegar. Ada di antara kita yang sedari awal tidak cocok ditempatkan di suatu bagian, namun hanya karena dia berharap ridha-Nya, dia hanya tersenyum tipis, menyembunyikan tangis yang kapan saja bisa pecah. Ada di antara kita yang ingin sekali masuk ke suatu bagian, namun karena ingin mendukung yang lain, dia merelakan mimpi-mimpi indah yang pernah terajut. Ada di antara kita yang rela terkena fitnah, dihujat dan dicaci, kita pernah tahu itu?  Ada di antara kita yang ingin sekali mewujudkan keinginan hati kecilnya, lagi-lagi demi jalan ini, dia hanya bisa bersabar. Entahlah mungkin banyak di antara kita yang punya keluhan yang sama dan sama-sama pandai menyembunyikan wajah kesedihan berganti dengan wajah ceria yang dipaksakan.

Kita sama-sama paham. Kita berjuang dijalan ini dengan jumlah yang sangat sedikit dari ‘post-post’ lain. Kita yang sedikit dan harus mengurus semuanya. Diikutkan dalam semua bagian. Capek? Tentu. Bosan? Pasti. Jenuh? Apalagi.  Kita yang sama-sama mencoba memahami yang lain lain. Berharap agar sesama kita tidak ada yang saling terzhalimi. Walaupun entahlah, di belakang kita saling menangis.

Kemudian satu persatu ujian datang kepada kita. Entah itu ujian harta, tahta dan lawan jenis. Semuanya hadir dan sama-sama menguji kita. Satu persatu kita pergi karena ujian terlalu berat dan kabar baiknya banyak yang masih ingin bertahan walaupun mereka berkali-kali terkena cobaan.

Mungkin keinginan kita melepaskan diri dari ‘rumah ini’ bisa jadi karena kelalaian kita yang tidak lagi menjaga amalan yang dahulu selalu menjadi pagar utama kita. Sudah ‘murah’ saja terhadap sesuatu. Bahkan sesalnya lupa terhadap prinsip yang pernah sama-sama kita ketahui dan pahami. Di saat kita diuji, jarang sekali dari kita yang memilih mendiskusikannya dengan sesama kita. Mereka malah lebih nyaman mengumbarnya dengan orang lain. Padahal sesama kita sedang menunggu. Berita apa yang akan dibawa oleh saudara kita agar bisa dipecahkan bersama.

Ketika sesama kita dikenai isu buruk.  Kita yang lain menunggu bahwa berita buruk itu tidak benar, kita merasa mereka tidak akan mungkin begitu. Begitulah saling husnuzhannya kita.

Kadang kita juga lalai sekali, lalai terhadap keadaan. Terlena saja dengan kondisi ‘aman’ yang jalan ditempat. Sudah lupa dengan tujuan awal. Sudah lupa bahwa kita ‘di sini’ untuk apa. Sudah lupa bahwa ada orang yang selalu berkorban agar kita mendapat kenyamanan. Yang selalu terinjak dan terzhalimi. Kita lupa karena kita sudah asyik dengan dunia baru yang lebih menggiurkan pandangan, lebih menyenangkan hati. Atau mungkin saja amanah kita yang terlalu berat yang membuat kita lupa bahwa kita diamanahkan untuk apa. Sehingga kita senang mencari hal-hal pelampiasan kepenatan diamanah kita yang kadang-kala sangat jauh dari prinsip kita.

Mungkin bisa jadi juga keluarnya mereka dari gerbong ini karena tidak sukanya mereka dengan “sistem” ini. Sistem ini memang belum sempurna. Jauh sekali bahkan. Namun sebagai orang yang pernah paham alangkah bijaknya jika kita memperbaiki yang salah tanpa harus meninggalkan semuanya.

Mereka yang pergi dan entah kapan akan kembali. Ah.. Mereka ternyata sudah pergi saja, jauh meninggalkan kita. Meninggalkan kita dengan misterinya, meninggalkan kita dengan kondisinya yang ternyata ah sudahlah, mereka sudah  lupa dengan prinsipnya sendiri.

Bagi mereka yang telah pergi dan akan pergi. Semoga saja suatu hari nanti Allah berkesempatan, mengetuk lagi hati mereka, melunakkan hati kita yang sudah terlanjur keras karena dosa yang bertambah dan amal yang semakin sedikit saja. Karena percayalah, sekali kita keluar entah kapan lagi Allah akan bersedia memanggil kita sebagai jundi-Nya. Entah kapan! Dan tentu saja kita masih menunggu mereka kembali. Bersama lagi membangun peradaban yang diimpikan. Wallahu’alam bishawab, sedikit renungan untuk diri sendiri.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi semester 6 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas.