Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Imam Hasan Al-Banna, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani

Imam Hasan Al-Banna, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Petani. (inet)
Ilustrasi – Petani. (inet)

dakwatuna.comTelah sering dikatakan bahwa Rasulullah adalah seorang penggembala yang baik, pedagang yang baik, kepala keluarga yang baik, panglima perang yang baik dan pemimpin negara yang baik. Namun satu hal yang mengganjal bagi para petani ketika disebutkan bahwa Rasulullah bukanlah petani yang baik.

Pandangan demikian bisa jadi berangkat dari sebuah kisah tentang Rasulullah dan penyerbukan kurma. Tetapi dari kejadian tersebut terpetik sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kemaslahatan umat manusia. Dari ungkapan “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu,” terlahir kaidah yang menempatkan dengan proporsional kerasulan Beliau Shalallahu alaihi wassalam dengan tugas kekhalifahan yang diemban umat manusia dalam upayanya memakmurkan bumi.

Dalam taujihnya beberapa tahun silam, Ustadz Anis Matta memaparkan bahwa cita jamaah ini tentang ustadzul alam, cita untuk menjadi guru bagi dunia, bermula dari Imam Hasan Al-Banna dan sekelompok petani.

Petani? Semuliakah itu? Bukankah penyebaran agama Islam ini sejak generasi awal hingga lebih banyak merupakan jasa para pedagang yang mengembara menjelajahi berbagai negeri? Termasuk juru dakwah yang membawa Islam ke Nusantara ini adalah para pedagang, pengembara-pengembara tangguh, bukan petani yang berdiam di ladang-ladang mereka.

Dilihat dari beberapa sisi memang seolah-olah Islam lebih mengutamakan perdagangan, termasuk memberi nilai lebih pada aspek kejujuran para pedagang. Profesi yang memungkinkan lebih banyak menjalin interaksi dan mendapatkan relasi dengan banyak orang. Meski secara keseluruhan Islam menghargai semua pekerjaan yang bermanfaat, baik berupa pemecah batu, mencari kayu bakar, menggembalakan ternak, bercocok tanam maupun berdagang. Islam menghargai semua upaya untuk mencari penghidupan dengan jerih payah yang diupayakan tangannya sendiri, serta mencela kemalasan dan mental bergantung pada orang lain atau menjadi peminta-minta.

Dari sisi kewajiban zakat bagi petani yang seolah lebih berat, sepertinya di balik itu memang Islam sengaja mengkondisikan umatnya untuk tidak terlalu berkutat pada pertanian. Selain aspek pertanian lebih banyak memanfaatkan nikmat Allah di alam, sebuah hikmah yang tersembunyi di balik keadilan suatu syariat kemudian terkuak. Pasca Rasulullah hasilnya segera terlihat, umat Islam menguasai perdagangan dunia, ke negeri India, Cina dan terutama lalu lintas perdagangan di Laut Tengah, sekaligus mengurung bangsa Eropa pada suatu fase kemunduran peradaban, terkurung di ladang-ladang mereka sebagai petani.

Dengan mendorong umatnya menjadi pedagang, Islam mendapatkan posisi yang lebih kuat secara politik maupun ekonomi. Penguasaan sektor perdagangan pada masa tersebut lebih strategis dibandingkan dengan terpaku pada pertanian.

Era industrialisasi tiba, situasi dunia banyak berubah, pertanian tergilas dan terpinggirkan. Menjadi petani kebanyakan adalah keterpaksaan atau pilihan terakhir ketika tidak mampu mendapatkan profesi lain yang lebih baik. Kondisi alam yang makin tidak ramah dan industrialisasi menjadi pukulan berat bagi petani pada era ini. Petani menempati posisi sebagai profesi dhuafa, bahkan bisa dikatakan sulit untuk eksis tanpa dukungan subsidi dan berbagai kebijakan protektif dari negara.

Sekian lama dikesampingkan, kenyataan lain dihadapi, ketahanan pangan suatu negara adalah variabel penting bagi kedaulatan negara tersebut. Ternyata kemajuan industri tidak membuat pertanian bisa serta merta dikesampingkan.

Perdagangan, Pertanian dan Karakteristik Zaman

Mengutamakan perdagangan adalah sebuah pilihan tepat, dalam perspektif karakteristik zaman pada masa salaful umah tersebut. Ketika Islam berada pada fase perkembangan, Islam membutuhkan karakter pedagang-pedagang tangguh, yang memiliki kemampuan logistik tak terbatas untuk mengembara ke berbagai negeri menyebarluaskan dakwah, bukan para petani yang mobilitasnya terbatas di kampung halamannya.

Dunia memasuki era digital dan teknologi informasi. Interaksi sosial tidak lagi mengenal jarak. Dakwah kemudian tidak terbatas pada pengembaraan fisik.

Karakteristik akhir zaman kelak ketika Islam telah menyebar dengan sempurna akan berbeda. Ketika Islam berada pada fase pemeliharaan, Islam lebih membutuhkan karakter pemelihara. Dan karakter tersebut ada pada petani.

Kebahagiaan Akhir Zaman adalah Kabar Gembira bagi Petani

Dari beberapa atsar tentang kebahagiaan akhir zaman, digambarkan tentang kesuburan seluruh penjuru muka bumi, keberkahan tanaman dan hasil ternaknya. Setelah sebelumnya kekayaan yang keluar dari perut bumi tidak mampu memberi kedamaian, kemegahan dunia tak memberi kebahagiaan penduduknya. Kemudian akan terjadi saat yang diimpikan.

“Langit akan setia menurunkan hujan dan bumi subur dengan tanaman yang menghasilkan dan bermanfaat, meskipun kamu menaburkan benih di atas sebuah batu yang licin. Manusia dengan singa hidup berdampingan tanpa saling membunuh, menginjak ular berbisa sekalipun tidak berbahaya. Tidak akan ada kebencian atau permusuhan.”

“Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan keluarkanlah semua barakahmu, sehingga orang-orang cukup makan satu buah delima dan dapat benaung dengan kulitnya, susu juga diberi berkah, sehingga satu unta cukup untuk beberapa kelompok bangsa dan satu lembu cukup untuk beberapa kelompok orang.”

Cita tentang ustadzul alam, menjadi guru bagi dunia, adalah cita yang memiliki makna paling dalam, lebih tinggi dari keinginan menjadi penakluk atau penguasa dunia semata. Sehingga sudah semestinya cita yang berharga ini diikutu kesungguhan untuk menjaga dan mewujudkannya.

Wallahua’lambishawwab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Syaikh Sudais, imam Masjidil Haram. (islammemo.cc)

Masa Jabatan Syaikh Sudais Sebagai Menteri Diperpanjang 4 Tahun