Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Subuh yang Menghangatkan

Subuh yang Menghangatkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Republika Online)
Ilustrasi (Republika Online)

dakwatuna.com Dulu waktu saya belum mengenal tarbiyah atau bergelut dalam harakah dakwah, shalat wajib sering saya tunaikan di rumah, sendiri dan terkadang berjamaah bersama keluarga. Ini karena kurangnya ilmu yang saya dapatkan selama pendidikan formal di bangku sekolah. Justru pendidikan Islam banyak saya dapatkan melalui pendidikan non-formal yaitu salah satunya ikut pengajian di kampus. Tahukah Anda keutamaan shalat berjamaah di Masjid?

Dari Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya, `Apakah kamu dengar adzan shalat?`. `Ya`, jawabnya. `Datangilah`, kata Rasulullah SAW. (Shahih Muslim 1/452).

Dari Hadits di atas menjelaskan kepada kita betapa pentingnya menunaikan shalat berjamaah di Masjid.

Ini kisah ketika saya menemani adik saya ke Jakarta untuk mengikuti tes masuk sebuah PTN. Kami sampai di Jakarta hari senin sekitar pukul 21.00, yang di mana pesawat yang kami tumpangi ini sempat di delay selama 60 menit (korupsi waktu, huft…). Kami di jemput oleh Mamang (Paman) kami yang tinggal di sana, singkat cerita kami menumpang nginap di rumah mertua mamang kami.

Ketika waktu menjelang subuh, saya terbangun… karena suara yang berasal dari menara masjid. Di mana suara yang saya dengar adalah ajakan untuk mengajak shalat subuh berjamaah. Ini adalah hal yang lazim terjadi di daerah asal saya, Palembang. Sebelum Muadzin mengumandangkan adzan, ia terlebih dahulu menyeru orang-orang, khususnya laki-laki untuk segera bangun dan menuju ke masjid, karena sebentar lagi akan masuk waktu subuh dan ini dilakukan berulang-ulang sambil diselingi shalawat atas nabi. Saya langsung teringat dengan salah satu Hadits yang berbunyi:

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (Muttafaq’alaih, Shahih Bukhari 1/234 dan Shahih Muslim 1/451)

Setelah gosok gigi dan wudhu, saya bergegas menuju ke masjid yang baru kali pertama saya kunjungi (nama masjidnya saya lupa). Masjid yang megah dengan bangunan yang kokoh, itulah hal yang terlintas di pikiran saya ketika hendak melangkahkan kaki masuk ke masjid.

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah, saya memperhatikan jumlah jamaah yang ikut shalat berjamaah, ternyata lebih banyak dari jumlah jamaah yang ada di masjid dekat rumah saya dan juga tidak hanya laki-laki dewasa saja, banyak anak-anak juga. Subhanallah. Saat hendak pulang ke rumah, saya di tegur oleh seorang bapak yang menanyakan identitas saya dengan logat betawinya, mungkin karena baru pertama kali lihat saya… jadinya penasaran. Ternyata bapak itu menyambut saya dengan hangat sehingga saya merasa bukanlah orang asing di daerah ini. Dalam perjalanan pulang, saya merasakan indahnya ukhuwah islamiyah. Seruan dakwah di waktu fajar untuk mengingatkan saudaranya agar tidak menjadi orang munafik dan merindukan suasana kebersamaan dalam menghadap sang Khaliq. Sederhana tapi penuh cinta, cinta sesama saudara, cinta sesama muslim. Di lorong yang sepi dan gelap sambil ku telusuri dengan memori indah di waktu subuh yang menyegarkan.

Ya Allah… satukanlah kami dalam satu barisan, untuk memperjuangkan kejayaan Islam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abu Hasan
Ayah dari Sholahuddin Hasan, bekerja sebagai tenaga kependidikan di salah satu PTN. Juga terdaftar sebagai Mahasiswa jurusan Sistem Komputer yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Motto hidup, Apapun yang terjadi padaku adalah yang terbaik dari Allah bagiku.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Bagaimana Cara Menggerakkan Jari yang Benar Saat Tasyahud?