Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Obat Anti Galau: ODOJ

Obat Anti Galau: ODOJ

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Irhamni Rofiun)
Ilustrasi. (Foto: Irhamni Rofiun)

dakwatuna.comSore di koridor sebuah rumah sakit.

Saya berjalan gontai menyeret langkah. Di sebelah kiri adalah bangsal infeksi, tempat anak-anak dengan penyakit-penyakit infeksi akut dirawat. Biasanya bangsal ini ramai dengan pasien demam berdarah, diare, demam tifoid dan infeksi lainnya. Entah kenapa sore itu, tidak banyak terdengar tangis dan rengekan khas anak-anak seperti biasanya. Namun, tak hendak saya masuk dan mencari tahu. Saya hanya segera ingin pulang dan menenangkan diri.

“Sabar ya, kawan. Semua ada hikmahnya, kok”.

“Jangan terlalu dipikirkan, jangan larut dengan masalah. Hari-hari ke depan masih panjang”.

“Lu pasti bisa. Lu kan orangnya tegar, bang. Meski nama lu bukan Tegar kayak penyanyi cilik itu”, dia nyengir. Saya manyun.

****

Terkadang kalau suntuk datang, saya sering memacu motor ke toko buku. Di toko buku itu, saya hanya berputar-putar dan membaca buku-buku yang telah dibuka sampulnya. Saya akan membunuh waktu dan kesuntukan dengan melahap buku buku sejarah, budaya dan jalan-jalan. Aneh, ya?

“Suntuk, kok malah ke toko buku. Aneh”, teman saya pernah protes suatu kali.

Namun untuk masalah yang saya hadapi sekarang, buku-buku itu tidak sanggup menghilangkan. Saya tidak hanya sekadar suntuk. Tapi saya sedang galau, sedang tertimpa musibah yang bertubi-tubi dan saya tidak tahu apakah saya bisa menghadapinya. Saya sudah coba mengadu kepada Dia di ujung setiap shalat wajib. Sampai saya menitikkan air mata. Meratapi kesalahan. Membuat pengakuan dosa dan meminta agar dikuatkan. Lebay? Biar saja dibilang lebay…

Namun saya masih juga belum merasa sembuh. Teman-teman sampai ibu-ibu pasien bilang kenapa muka saya dilipat begitu. Ada ruang di hati saya yang kosong. Hampa. Sampai datanglah ajakan dari teman di salah satu grup WhatsApp di handphone butut saya.

“Ikut ODOJ aja kawan. Pasti dahsyat”, dia menulis diakhiri dengan emoticon jempol dan orang sedang tersenyum.

Sebenarnya, saya sudah pernah mendengar tentang komunitas ini sebelumnya. Cuma saya hanya anggap angin lalu saja. Bagi saya itu sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan. Jangankan mengaji satu juz sehari, membaca satu halaman saja sudah keajaiban bagi saya sekarang. Saya pernah tilawah sehari se juz, tapi itu hanya di bulan puasa. Di luar itu, saya tidak pernah bisa. Namun saat tawaran itu datang, saya berfikir tidak ada salahnya mencoba. Mungkin saja ini cara Tuhan menyembuhkan hati dan pikiran saya yang tak lagi waras ini.

“Al Qur’an itu adalah obat, teman. Asy Syifa. Yakinlah, meski kau seorang pengobat. Tapi untuk urusan mu yang satu ini, Allah yang punya obatnya”, dia masih belum menyerah meyakinkan saya.

“Oke..I will try”, jawab saya sambil berdoa bahwa dia benar.

***

Sore di kafe Rumah Sakit.

Saya sedang menikmati santap siang yang terlambat hari itu. Menu ikan gulai di piring membuat saliva saya semakin hebat disekresikan dari kelenjernya dan asam lambung saya juga ikut-ikutan berteriak. Tiba-tiba galaxy ace saya berbunyi tanpa henti. Saya buka dan:

“Ahlan wa sahlan Akhi. Antum bergabung di grup ODOJ 136. Silakan perkenalkan diri”, setelah sebelumnya 29 nomor asing dari beragam operator terpampang ‘joined’ di grup baru itu: ODOJ 136. Seketika saya mengucap Alhamdulillah, akhirnya ‘lamaran’ saya diterima dan dengan semangat saya menuliskan biodata singkat. Akhirnya saya harus merelakan makan siang itu terbengkalai, saya harus meladeni setiap notifikasi yang masuk. Sapa. Salam. Kenalan. Kata-kata motivasi dan juga ketakutan apakah bisa menjalani ini memenuhi ‘conversation’ hari itu. Klop. Sampai Maghrib, sesi ramah tamah pun berakhir. Admin sudah memaparkan tata aturan ODOJ yang dari tadi kami tunggu.

“Member semua, kalian harus menuntaskan tilawah satu juz sehari. Kita mulai dari jam 8 malam sampai 8 malam esoknya. Hanya Anda dan Allah yang tahu. Saya yakin, Anda semua pasti bisa. Mengaji satu juz itu hanya butuh waktu 50 menit, sedangkan Allah memberi kita 24 jam sehari”

“Dulu di awal-awal saya ikut, saya juga takut apa bisa. Ternyata dengan bersama-sama dan saling menguatkan, saya bisa”, Sang admin terus berkoar memberi kami lecutan motivasi.

“Al-Quran, jangankan satu juz satu huruf aja kita baca maka nilainya sangat besar di sisi Allah. Lha ini, kita membaca satu juz sehari dan khatam dalam 1 bulan maka pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha kita semua. Allah akan menolong hamba yang menolong agama-Nya”

Malam itu saya mulai dengan bismillah. Saya berharap selain ini jadi ladang amal, grup ini benar-benar menjadi obat bagi saya ini. Hari pertama terasa agak berat bagi saya, sampai pagi saya baru baca empat lembar. Namun, yang mengejutkan beberapa teman sudah selesai tilawah alias khalas jam 10 malam hari pertama itu. Sebagian lain menyelesaikannya setelah shalat malam. Saya hanya terbengong-bengong saat itu. Menyaksikan laporan mereka: Juz sekian khalas. Juz ane done! Kok bisa ya mereka?

Saat saya membaca ayat-ayat suci dengan kuantitas tak biasa itu, saya merasakan sebuah ketenangan yang diliputi sebuah nuansa ukhuwah virtual yang luar biasa. Saya begitu menikmati apa yang saya baca, dan perlahan hati saya seperti ditata kembali. Ada kekuatan luar biasa yang sepertinya menggenggam hati saya, kemudian membelai dan menenangkannya. Allah menolong saya dengan Al-Quran, dan Al Quran itu datang dengan cara yang tak biasa. Allah mengumpulkan saya dengan orang-orang shalih dan sebagian mereka saya yakin adalah orang-orang yang sudah terbiasa kontak dengan Al Quran. Tidak seperti saya yang masih saja gagal menjadi orang shalih.

Hari terus berjalan. Kemesraan kami dan proses saya mencintai Al Quran semakin bertambah. Hati saya jauh semakin tenang. Kami merasa begitu dekat, padahal berjumpa satu sama lain saja tidak pernah. Dari Medan sampai Lombok berkumpul dalam satu ikatan. Ikatan yang disatukan oleh kecintaan pada Al Quran. Dari mahasiswa, pegawai swasta, manager, dan guru berkumpul di sini. Saling menguatkan saat ada yang belum selesai di saat injury time, berebut lelangan sampai akhirnya kami bisa khatam tiap hari. Saat ada yang sakit, mereka saling mendoakan. Saat ada yang mau ujian, kami juga mendoakan. Dan di saat ketahuan masih jomblo, odojers yang berstatus ayah sibuk menggoda. Jomblo selalu jadi topik hangat bagi mereka yang sudah beristri dan menjadi perih yang dibawa senyum oleh para jomblo. Topic itu benar-benar mengusik ‘kelelakian’ kami. Ehm…

Ente mau yang mana, ane punya stok banyak nih. Insya Allah, kualitas terjamin”

Udah akh, ingat umur. Sini ane carikan buat ente”

Ampun deh kalau sudah bicara isu sensitif ini. Untung saja jumlah kami berimbang, sehingga sasaran tembak selalu berpindah. Hehehe.

Dibalik semua itu, grup ini benar-benar menjadi berkah dan keajaiban buat saya. Siapa sangka hampir dua bulan saya bergabung di sini, saya bisa mengkhatamkan 1 juz sehari. Sesuatu yang tidak mungkin buat saya di waktu lalu. Siapa sangka saya bisa move on dari masalah yang saya hadapi, karena di salah satu ayat yang saya baca: “Allah tidak akan menguji kamu, kecuali kamu bisa menghadapinya”. Jika ada yang berbicara ini riya, itu terserah mereka. Itu adalah urusan hati, hanya kita dan Allah yang tahu. Buat saya, apa yang harus saya riya-kan? Wong saya saja tidak kenal mereka sebelumnya dan sampai sekarang pun kami belum pernah bertemu. Meski keinginan bertemu sudah membuncah di dada. Ceilee.

Saya hanya bisa mendoakan dan sering berujar, betapa besarnya pahala mereka yang menemukan dan memulai metode luar biasa ini. Sebuah media social yang selama ini sering digunakan untuk ber hahahihi, berubah menjadi sebuah komunitas kebajikan dan diliputi keindahan. Dari 30 orang yang begitu susah dikumpulkan, sampai saat ini sudah lebih 70 ribu orang sedunia bergabung bersama komunitas ini. Dari anak SD sampai kakek nenek. Dari tukang becak sampai direktur perusahaan. Hanya Allah yang berhak membalas segala amal dan pengorbanan mereka. Semoga ODOJ ini bisa menjadi obat bagi siapa saja dan berevolusi menjadi sebuah gelombang kebaikan demi Indonesia yang lebih baik.

“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar Rahman)

Salam hangat buat ODOJ 136 yang keren dan ODOJ 569 yang mantap…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pekerja kesehatan yang begitu mencintai dunia sastra, sejarah, budaya travelling, fotografi dan kuliner.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November

Organization