Home / Berita / Nasional / KH Hasyim Muzadi: Ulama Kerap Dimanfaatkan Politisi untuk Kepentingan Sesaat

KH Hasyim Muzadi: Ulama Kerap Dimanfaatkan Politisi untuk Kepentingan Sesaat

Hasyim Muzadi. (inet)
Hasyim Muzadi. (inet)

dakwatuna.com – Depok.  Selama ini para kiai dan ulama tidak mendapat informasi yang cukup tentang kondisi Indonesia yang sebenarnya. Kendati demikian, mereka merasakan kegelisahan rakyat yang sebagian besar adalah umat Islam. Umat yang miskin tidak tahu, apakah mengapa mereka miskin karena takdir atau memang dimiskinkan.

Demikian disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam KH Hasyim Muzadi dalam Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan tentang Keagamaan, Keumatan, dan Kebangsaan, di Pesantren Al Hikam, Depok, Sabtu, (8/2).

Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan berlangsung pada 7-9 Februari 2014. Acara ini diikuti 300-an kiai dan ulama dari berpengaruh seluruh Indonesia.

Karena itu, melalui Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan ini diharapkan, para kyai dan ulama menjadi lebih paham kondisi yang sebenarnya. Dengan well informed, kiai dan ulama memiliki kekuatan dahsyat untuk melakukan perubahan.

“Selama ini kiai dan ulama diam karena tidak tahu. Ini tidak boleh terjadi, karena mereka bisa tergerus karena kebutuhan. Kalau sudah begitu, mereka memang masih ‘macan’. Tapi ‘macan sirkus’ yang sama sekali tidak menakutkan yang bahkan cuma dimanfaatkan para politisi untuk kepentingan sesaat mereka belaka,” ungkap Kiai Hasyim.

Mantan Ketua Umum PBNU ini mengaku para undangan adalah kiai dan ulama yang telah dipilih belum ‘masuk angin’ oleh kepentingan politik pragmatis.

Hadirin yang sebagian mengenakan sarung dan baju koko itu tampak serius menyimak paparan para pembicara.

Tampaknya harapan kyai Hasjim menjadi kenyataan. Seorang ulama dari Sidoarjo, Jawa Timur, mengaku mendapat banyak masukan berharga tentang kondisi riil Indonesia terkini. Kesibukannya sehari-hari dalam mengasuh pondok pesantren di daerah, tidak memungkinkan dia menerima info sebenarnya.

“Saya sangat bersyukur diundang di sarasehan ini. Saya baru tahu, ternyata ekonomi kita selama ini salah urus. Padahal, dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, rakyat Indonesia, khususnya umat Islam bisa hidup dengan sejahtera. Ke depan kita membutuhkan pemimpin yang benar-benar paham persoalan dan tahu bagaimana memecahkannya dengan tepat dan cepat,” timpal kiai lain yang berasal dari Kalimantan Barat. (rmol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Syaikh ‘Aid Al-Qarni Ungkap Detik-detik Upaya Pembunuhan Dirinya di Filipina