Home / Pemuda / Essay / Memimpin Itu…

Memimpin Itu…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

“Datang rapat kan?”

“Maaf gak bisa datang.”

“Kenapa gak bisa.”

“Ada acara.”

“Acara apa?

“Mau tau aja sih…”, dalam hati.

“Asasi”, jawabku.

“Oiya, lain kali gak bisa datang rapat secepatnya kasih tau ya… Biar bisa laporan ke atas.”

Pengalaman dulu ketika menjadi staf di sebuah kelembagaan pembinaan. Duh, mau tau aja urusanku. Tidak perlukah hanya menjawab “ada acara”. Apalagi dia cowok. Kalau aku punya acara yang privasi banget gimana coba. Maklum sedikit pengalaman membuatku kaku dalam bersikap.

Kini, amanah itu berubah. Beban yang tak disangka akhirnya “menimpa” ku. Pengalaman pertama jadi koordinator media sebuah proyek. Mengkoordinasi ternyata bukanlah perkara mudah. Banyak yang mengatakan itu juga bukan perkara yang susah. Hanya butuh wibawa yang bisa menggerakkan rekan-rekan se-amanah.

Hufth… Sudah di-sms berya kali-kali tidak direspon sama sekali. Butuh jawab jelas dan segera. Jawaban cukup “ya” atau “tidak” saja, disingkat sesingkat-singkatnya juga tidak apa “y” atau “tdk”. Ah, rasakan juga sekarang. Dulu terkadang tidak membalas sms dari mas’ul/ketua/koordinator. Mungkin perasaan mereka seperti ini. Kecewa. Maka berlatih untuk sabar.

Sekarang aku paham. Kenapa dulu mas’ul sering menanyakan itu. Bukan maksud hati untuk mengganggu atau ikut campur urusan orang lain. Kami hanya ingin tahu keadaan teman-teman kami. Ingin tahu kondisi mereka. Apakah baik-baik saja. Terkadang muncul rasa khawatir. Kenapa ya mereka tidak membalas sms? Marah atau saya ada salah. Sehatkah. Atau sedang ada masalah. Khuznuzhan kami, mungkin sedang sibuk sehingga tidak sempat membalas sms. Semoga baik-baik saja.

Menjadi koordinator, ketua, mas’ul atau apapun itu… Hakikatnya menjadi pemimpin. Pemimpin itu… Belajar. Banyak belajar segala hal. Belajar menjaga perasaan diri, perasaan orang lain, jangan membuat cemburu Allah. Menjaga hati ini untuk tetap tenang walau badai menghadang. Menjaga hati orang lain agar mereka tak terganggu dengan kita, agar mereka tak terkotori dengan prasangka karena kita, agar mereka tak sakit hatinya karena perbuatan kita. Jangan sampai karena sibuk mengurusi amanah lembaga ini, membuat Allah cemburu. Membuat Allah diduakan. Tak lagi sempat mengadu kepada-Nya di sepertiga malam.

Berbahagialah bagi yang mendapat amanah belajar memimpin…  Optimalkan kesempatan itu…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rahma Darma Anggraini
Tahun ini beramanah sebagai Kadep Medinfo BEM FT UNY. Sempat juga bergabung dengan Keluarga Muslim al-Musthofa (KMM) di BSO Musthofa Coorporation. Pernah aktif di LPMT Fenomena sebagalayouter, dan di Tutorial PAI FT sebagai staf KPT. Kuliah di Pendidikan Teknik Busana UNY. Tertarik dengan dunia multimedia, bisnis, busana, dan pendidikan.

Lihat Juga

Kepemimpinan Karismatik