Home / Berita / Daerah / Bugar dan Trampil dengan Kungfu Muslim

Bugar dan Trampil dengan Kungfu Muslim

Logo Beladiri Thifan Pokhan - beladirithifan.blogspot.com
Logo Beladiri Thifan Pokhan – beladirithifan.blogspot.com

dakwatuna.com – Bogor. Tak hanya untuk menjaga kebugaran, latihan beladiri Kungfu Muslim atau Tifan Pokhan berguna sebagai keterampilan bela diri.

Koordinator Tifan Pokhan Tsufuk IPB, Abu Ubaidah, Kamis (6/2), menuturkan tifan pokhan merupakan gabungan berbagai bela diri di Cina Utara yang kemudian diramu dan disesuaikan dengan nilai Islam. Awalnya pun hanya untuk laki-laki.

Saat masuk ke Indonesia, thifan pokhan aliran tsufuk diadopsi Ustadz  Habib di Bandung. Ia juga mengajarkan bela diri ini kepada isterinya. Bagi Muslimah, bela diri menjadi bentuk antisipasi atas kejahatan yang tidak diketahui.

Bela diri yang sudah berlangsung di IPB sejak 1990an itu menggelar latihan tiga hari dalam sepekan, Senin malam, Rabu malam, dan Sabtu malam untuk laki-laki. Sementara untuk perempuan latihan digelar Sabtu sore.

Baik tempat, pelatih dan mekanisme latihan peserta laki-laki dan perempuan masing-masing tersendiri. Untuk kelompok laki-laki, latihan diawali pemanasan sendi, lari-lari kecil memutari masjid al-Hurriyyah, pengerasan fisik dengan diberi pukulan ringan, dan baru dilanjutkan latihan jurus.

Laiknya beladiri lainnya, thifan pokhan tsufuk juga memiliki tingkatan. Ada 36 jurus (tsenkai) yang harus ditamatkan sebelum lanjut ke bab 1 hingga 7. 36 tsenkai dibagi menjadi enam level. Setiap enam senkai selesai, peserta bisa naik level dan berganti sabuk.

Ujian sabuk dilakukan di Bandung sebagai pusat perguruan. Sementara bab, dipelajari setelah tamat tsenkai dan berguna untuk memperhalus gerakan. Pada level ini, hanya yang sudah bersabuk hitam yang menjadi peserta.

Peserta thifan pokhan tsufuk juga dibekali kemahiran bela diri menggunakan alat. Untuk laki-laki, mereka bisa belajar menggunakan pedang dan tongkat pada tsenkai 23. ”Jadi pada saat itu mereka belajar menggunakan alat dan jurus sekaligus,” kata Ubaidah.

Untuk peserta perempuan, pemanasan lebih ringan, tanpa pukulan ringan, latihan terpisah dengan tetap menggunakan pakaian yang menutup aurat. Bela diri thifan pokhan tsufuk juga disesuaikan dengan struktur badan dan fitrah perempuan agar nantinya tidak ada perempuan yang kelaki-lakian.

Kelompok bernama Putri Gading ini menggunakan kipas dan pisau untuk peserta di level lanjutan. Latihan dilakukan di tempat tertutup di area wudhu perempuan Masjid Al Hurriyah.

Sejauh ini, kata Ubaidah peserta laki-laki berjumlah 20 hingga 30 orang dan peserta perempuan sekitar 10 hingga 15 orang. ”Karena penyelenggaraannya di bawah koordinasi DKM Al Hurriyyah dan dilakukan di masjid, respon warga kampus positif, alhamdulillah,” ungkap dia.

Karena latihan malam, biasanya peserta sudah merasa capek. Sementara untuk perempuan, kadang mereka bentrok dengan kegiatan kampus sabtu sore. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Pauline Hanson dalam pidatonya yang bernada Islamofobia di Parlemen Australia, Rabu (14/9/2016). (abc.net.au)

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim