Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yang Kaku Diterkam Petaka

Yang Kaku Diterkam Petaka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comBelum berhenti musibah dan bencana yang menimpa. Belum surut luh yang menggenangi. Belum muncul rasa aman di segenap jiwa penduduk negeri kita saat ini. Masih terus menerus pikiran terkuras untuk memikirkan keselamatan diri dan keluarga. Masih terus menerus air mata membanjiri wajah, meratap di atas kehilangan dan rasa perih.

Ayuhai….., apakah lisan kita telah kelu untuk bertanya, “Wahai Allah.., Tuhanku, mengapa semua musibah dan ujian ini seolah tak hentinya menghampiri kami?”

Ah…, mungkin bukan sebab tanya itu yang belum terjawab. Hanya kita yang kerap terlupa dan tidak banyak belajar dalam kitab-Nya. Yang di dalamnya Allah sudah menerangkan segalanya. Di dalamnya dijabar segala sumber masalah, petaka, dan bencana, namun kita tak mau mempelajarinya.

Seharusnya kita mulai meragui keadaan kita. Segala kenikmatan, keselamatan, dan ketenangan bersumber dari rahmat Allah. Maka, seharusnya kita mulai ragu, apakah saat ini rahmat Allah sudah tak lagi menghampiri kita. Rasulullah pernah mengatakan, “Tidak seorang pun dari hamba Allah yang akan masuk ke dalam surga (tempat segala kenikmatan) sebab amalnya.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau ya Rasulullah?”, jawab Nabi Saw. “Ya, kecuali Allah mengucurkan rahmat-Nya padaku.”

Nah…, sahabatku, saudaraku…, di mana hati kita kini? Bukankah seharusnya ia mulai meragui keadaannya dan berusaha menemukan cara terbaik untuk berubah?

Biarlah hati kita tersentak sekali lagi oleh Firman Allah dalam ayat ini…

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka. Agar mereka kembali kepada jalan yang benar.” (Ar Rum [30]: 41)

Siapa kita ini? Kita tak sesempurna Rasulullah dalam berakhlak. Kita tak sepatuh beliau dalam beribadah. Kita tak sekokoh beliau ketika diterpa oleh godaan untuk melanggar larangan Allah. Bukankah seharusnya kita tak henti-hentinya bertanya, “Bila Rasulullah saja—yang nyata sempurna ibadah dan akhlaknya—tidak memastikan ia masuk surga sebab amal-amalnya, bagaimana lagi dengan kita?”

Ya.., kita paham, amal yang sungguh-sungguh, ibadah yang tak henti-henti, dan ketaatan yang tak putus-putus, adalah sebab Allah mengucurkan rahmat-Nya, sehingga sebab rahmat itu kita kelak beroleh surga. Namun, apakah kita pantas?

Bila tidak, semestinya firman Allah pada ayat di atas wajib kita renungkan sekarang juga. Siapa yang bisa menutup kemungkinan, bahwa saat ini Allah sedang memperlihatkan kepada kita akibat dari segala keburukan dan dosa yang kita perbuat? Sebabnya, langkah terbaik untuk kita derapkan adalah langkah yang menuntun untuk kembali pada Allah. Tidak ada cara lain…

Kenanglah Ali bin Abi Thalib.., lisannya pernah menyuarakan, “Maka tidaklah seorang hamba berharap, kecuali pada Rabbnya. Dan, tidaklah seorang hamba merasa takut, kecuali terhadap dosa-dosanya.”

Ayuhai…, apakah lagi yang tersisa di dalam diri kita? Belumkah ia kembali bening sebagaimana ia di harikan dahulu?

Kembalilah kita pada Allah. Berusaha sekeras-kerasnya, kemudian menjaga diri agar tak tersebut dalam ayat ini…

“Maka apabila manusia ditimpa suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali pada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Allah.” (Ar Rum [30]: 33)

Wahai saudaraku, wahai sahabatku…, tanyalah pada hatimu… adakah engkau temui ketenangan di dalamnya, adakah engkau temui ketenteraman di dalam jiwamu. Bila ya, itulah kebenaran. Namun, bila ternyata hatimu tak tenang, jiwamu pun tak tenteram, itu pertanda bahwa keburukan telah menjadi temanmu bersahabat.

“Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba yang bertobat dengan sebaik-baik taubat kepada-Mu. Jangan Engkau jadikan kami hamba yang tertipu oleh apa yang tak nampak di hadapannya, tak terjangkau dalam ruang dengar telinganya, dan yang tak terasa oleh akalnya.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,13 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

(Foto) Gambar-Gambar TKP Musibah Mina Diambil dari Udara