Home / Narasi Islam / Sosial / Syifaaul Quluub Bi Liqooil Mahbuub

Syifaaul Quluub Bi Liqooil Mahbuub

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)

dakwatuna.comKemajuan teknologi menyuguhkan kepada kita berbagai media komunikasi. Tidak semua orang memilih semuanya untuk digunakan sebagai sarana menyiasati jarak agar silaturahim tetap lancer. Begitu juga dengan saya.

Saya masih begitu menyukai jejaring sosial ini bernama Facebook justru karena kurang update nya sesuatu yang muncul di berandaku. Karena dengannya saya bisa menemukan memori-memori lama yang tetiba saja muncul. Ada tentang sesuatu yang terjadi satu jam yang lalu, dua jam yang lalu, tujuh belas jam yang lalu, atau bahkan sebulan yang lalu. Dan kadang saya masih bisa menemukan sesuatu hal yang saya justru sudah melupakan hal tersebut.

Saya masih menikmati media komunikasi via sms (short message service) dikarenakan dengannya saya bisa berkomunikasi dengan siapa saja yang ada di kontak HP saya, mulai dari kelas menengah ke bawah, menengah ke atas, anak kecil, orang tua, saudara, dan lain sebagainya. Karena kebanyakan mereka belum mengaktifkan media yang lain. Dan saya selalu berusaha merespon semua pesan yang masuk, meski kadang hanya sekadar mengucapkan terima kasih, iya, atau bilang oh.

Saya masih menikmati sarana komunikasi via telepon, karena dengannya saya bisa menghubungi seseorang yang sangat sibuk dengan urusan hariannya, sibuk dengan gadget nya, dan sibuk dengan aktivitas lainnya. Karena kita semua sepertinya sudah memahami bahwa dering tanda panggilan masuk itu sesuatu hal penting dan mendesak yang perlu untuk dikomunikasikan. Dan dengannya pula saya bisa berkomunikasi dengan lebih detail dan bisa menghindari multi tafsir dari maksud yang hendak saya sampaikan.

Sejauh ini pun, saya masih menikmati layanan berkirim soft file melalui email, yang dengannya saya juga bisa membagi dan menerima sesuatu, dan bisa tersimpan dalam jumlah yang besar yang suatu ketika sangat memungkinkan sekali untuk saya acak-acak lagi berkasnya.

Ya cukup ini dulu saja media komunikasi yang saya butuhkan sejauh ini. Mohon maaf, bagi yang ingin menghubungi saya di media lain, saya belum bisa melayani, sok penting, hehe. HP saya selalu aktif setidaknya 15 jam dalam sehari untuk merespon dan menjalin silaturahim di antara kita. Sampai detik ini, Saya pun masih memaksimalkan satu nomor yang saldo pulsanya selalu cukup untuk berkomunikasi.

Menirukan kalimatnya Pak Cahyadi Takaryawan:

“Teknologi tidak akan pernah menggantikan dan mengobati rasa rindu”

Yak, memang benar demikian. Dengan Facebook, Twiter, WhatsApp, Line, dll, Anda bisa saja berkomunikasi dengan siapapun di berbagai belahan dunia manapun, sangat cepat, hemat, praktis!

Tapi tetap saja: “Syifaaul quluub bi liqooil mahbuub”, Obatnya hati adalah bertemu dengan yang dicintai… Dan hari ini, sekarang ini… orang yang paling berhak mendapatkan sapaan dan senyuman hangat dari Anda, adalah mereka yang sedang ada di depan, samping, dan belakang Anda, Bukan mereka yang kau bilang teman dekat jauh di mata itu…

Mari jadi manusia yang tidak gagap teknologi. Ambil porsi yang sesuai dengan kebutuhan.

Bagaimana denganmu? Media komunikasi apa saja yang sudah kalian gunakan?

Saya pribadi, keempat media komunikasi yang saya sukai tersebut, saya masih lebih suka bertemu langsung untuk mengobati hati, menyemai rindu, berbagi kisah dan canda, atau sekadar sarapan bareng sebelum semua aktivitas seharian ini memisahkan kita dalam kebekuan yang tak berujung.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan