Home / Berita / Opini / Pseudosains, Ancaman Dunia Sains

Pseudosains, Ancaman Dunia Sains

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Jika Anda seorang yang hobi membeli buku, akan dengan mudahnya Anda menemukan buku-buku yang berisi ilmu-ilmu yang praktis, seperti membaca kepribadian dengan telapak tangan, mengenali kepribadian melalui tulisan tangan, membaca masa depan melalui kartu, dan sangat banyak ilmu-ilmu seperti itu. Selain buku, sangat mudahnya  menjumpai acara pelatihan, seminar dan workshop dengan embel-embel yang sangat menggiurkan, misalnya “hanya dengan  tiga hari, anak Anda menjadi jenius dan multi talenta” ataupun “mengungkap kepribadian hanya dengan lima menit melalui tulisan tangan”. Biasanya harga yang ditawarkan untuk sekali pelatihan sangatlah mahal, walaupun demikian banyak pula masyarakat yang tertarik untuk mempelajari, mendalami dan juga bahkan menjadi ahli yang  mendapat sertifikasi dan gelar dari lembaga bersangkutan.  Hanya dengan pelatihan beberapa hari dan bersedia membayar sekian ratus ribu, seseorang bisa mendapatkan title dari ilmu yang ia pelajari, dan bahkan bisa membuka praktek selayaknya ahli profesi yang telah diberi izin praktek.

Secara sederhana pseudosains atau ilmu semu dapat dipahami sebagai segala ilmu yang tidak memenuhi syarat sebagai ilmu, yakni objektif, memiliki metodologi tertentu, sistematis dan universal, sedangkan pseudosains  baru sebatas pengetahuan manusia saja. Lahirnya pseudosains  tidak terlepas dari keterbatasan manusia dalam memahami gejala-gejala pada sebuah kejadian atau peristiwa yang terjadi, sehingga saat itu manusia akan menyimpulkan hanya berdasarkan pengalaman panca indra yang bersifat subjektif, maka dari itu lahirlah pengetahuan-pengetahuan yang bertujuan sebagai solusi untuk memahami kejadian tersebut, pengetahuan semacam ini biasa disebut takhayul.

Fenomena-fenomena seperti di atas akan terlihat biasa-biasa saja, tetapi jika kita membuka mata dan melihatnya dari perspektif sains, maka pseudosains sangat mengancam berkembangnya ilmu pengetahuan di masyarakat.  Melalui pseudosains seseorang di ajak untuk menyelesaikan masalah secara praktis, subjektif, dan pragmatis. Misalnya dalam memahami kepribadian manusia, seseorang yang menggeluti pseudosains akan menyimpulkan secara praktis, misalnya melalui bentuk tubuh manusia, anatomi wajah atau bahkan melalui tulisan tangan. Misalnya saja tulisan tangan, mereka akan melihat berdasarkan bentuk tulisan, jika tulisan miring ke kiri akan ia nilai sebagai orang yang cenderung ke masa lalu, introvert, dan menarik diri, sedangkan yang miring ke kanan dinilai sebagai orang progresif, optimis, ekstrovert. Dengan metode pseudosains, memahami Kepribadian dan sifat manusia yang kompleks tak ubahnya seperti menyeduh mie instant, hanya 5 menit siap disantap. Padahal, jika seorang ilmuwan psikologi akan memahami berdasarkan alat tes yang mengacu pada norma-norma dan teruji berdasarkan riset dengan metodologi ilmu yang ketat. Walaupun ada alat tes grafis yang digunakan biasanya telah teruji validitasnya, dan itupun masih saja sering terjadi bias dalam interpretasinya. Bukan itu saja, pseudosains  juga menjadikan pikiran masyarakat ke arah skeptis pada ilmu pengetahuan, misalnya dalam penyembuhan tubuh, seseorang yang menggeluti pseudosains akan menggunakan cara yang sangat praktis, misalnya menggunakan kekuatan alam bawah sadar dan pikiran untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mungkin hal tersebut bermanfaat jika digunakan untuk penyakit yang ringan, tetapi yang mengerikan lagi adalah  ahli ilmu semu  akan meyakini bahwa alam pikiran manusia mampu menguasai alam semesta, bahkan dengan alam pikiran bisa mengendalikan hujan, awan dan materi  lainnya.  Akhirnya, akan muncul lah pemikiran yang skeptis terhadap ilmu pengetahuan, misalnya “apa gunanya mempelajari ilmu dokter, toh kenyataannya dengan ilmu ini segala penyakit dapat di obati”, atau “apa gunanya mempelajari meteorologi, toh dengan kekuatan pikiran saja sudah mampu mengendalikan materi-materi di angkasa”, dan kemudian ilmu pengetahuan ditentang habis-habisan karena dinilai lamban, tidak efektif dan dianggap kuno. Hal tersebut bukan sebatas kekhawatiran penulis, tetapi memang benar-benar telah terjadi.

Sebelum pseudosains hadir dan populer di Indonesia, di barat tempat berkembangnya pseudosains tersebut dahulunya juga sangat menyedot perhatian masyarakat, dan bahkan pemerintah mendukung untuk diterapkan salah satu pseudosains di bagian penyelidikan kriminalitas, tetapi setelah diketahui bahwa pseudosains  tersebut tidak valid hasilnya maka dihentikan pula proyek pengembangannya (silakan baca buku 50 mitos keliru psikologi, karangan Scott O, Dkk). Teramat disayangkan jika kejadian tersebut tidak diambil pelajarannya, malah seakan kita ingin tetap jatuh di lubang atau jurang yang sama, padahal sebelumnya kita telah mengetahui bahwa sebelumnya telah terjadi atau ada orang yang jatuh di lubang tersebut. Seorang yang menggandrungi pseudosains pasti akan membantah jika ilmu yang ia pelajari adalah ilmu yang cacat secara metodologi ilmiah. Ia akan tetap  bersikukuh bahwa ilmu tersebut terbukti secara ilmiah dan teruji validitasnya. Sangat disayangkan jika seorang sarjana atau ilmuwan juga turut menjadi pionir berkembangnya pseudosains tersebut. Hal ini menambah permasalahan mengenai pseudosains semakin rumit, masyarakat awam akan sulit membedakan mana yang benar-benar ilmu dan mana yang ilmu semu atau pseudosains, karena yang menjadi mentor atau tutornya bergelar sarjana atau bahkan doktor. Mempelajari pseudosains bukanlah hal yang terlarang, asalkan hanya diyakini sebagai media hiburan dan bukan untuk sungguhan, tetapi yang terjadi saat ini pseudosains seakan menjadi ilmu ilmiah dan diyakini kebenarannya.

Pemberian pemahaman masyarakat awam dalam memahami peristiwa atau kejadian kehidupan dengan kacamata sains dapat dilakukan melalui media massa, baik elektronik maupun cetak. Patut diapresiasikan pada stasiun televisi swasta  Trans7 yang melalui program “Tau Nggak Sih?” mencoba memaparkan dan memberi pemahaman dalam memahami sesuatu melalui perspektif sains, pada acara tersebut awalnya akan paparkan fenomena alam, peristiwa, atau permasalahan seputar kehidupan, kemudian di paparkan pula kajian secara ilmiah tentang hal tersebut, yaitu dengan cara meminta pendapat atau penjelasan melalui pakar, peneliti dan ilmuwan. Hal seperti ini sangat bermanfaat, dan mampu merubah mindset masyarakat awam yang sebelumnya mungkin sains selalu diidentikkan teoritis yang rumit belaka, tetapi sejatinya sains memiliki manfaat yang sangat jelas.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 6,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Niki WS
Alumni Psikologi UIN SUSKA RIAU. Mencintai dunia seni desain grafis, blogger, simbologi dan psikologi
  • Ardi Ansyah

    konkretnya apa saja contoh dari pseudosains..kurang to the point..

    • niki ws

      Artikelnya memang menjelaskan secara umum. contoh dari pseudosains, seperti graphology (ilmu tulisan tangan), physiognomy (membaca karakter berdasarkan wajah), Palmistry (ilmu membaca karakter dan masa depan berdasarkan gurat tangan), numerology (ilmu prediksi masa depan berdasarkan angka) dan masih banyak lagi, terima kasih atas masukkannya :)

  • Abu Ahmad

    Saya setuju sekali dengan kajian ini, sekarang ini sangat banyak yang menawarkan metode-metode simpel untuk menjadikan penelitian bertahun-tahun disulap menjadi hanya beberapa menit saja untuk mengetahui suatu masalah. Saya pernah ditawari metode untuk menentukan bakat anak hanya dengan melalui melihat garis tangan atau apa lah gitu. Padahal bakat anak tidak bisa hanya ditentukan oleh hal-hal “simpel” seperti itu, tapi harus diteliti oleh orang tua sesuai dengan perkembangan sang anak dan tentunya pengawasan terhadap lingkungan. dan itu butuh waktu bertahun-tahun, mungkin minimal 15 tahun, sampai sang anak mengerti betul apa yang menjadi bakat dan keingingannya. Bagaimana mungkin anak 5 tahun sudah harus diarahkan bakatnya melalui “perkira’an-perkira’an” yang belum tentu valid hingga dewasa, Padahal menurut saya, sesuai dengan pengalaman saya sendiri, bakat itu sangat berkesuaian dengan perkembangan jiwa anak dan pengaruh lingkungan-nya.

Lihat Juga

Sikap Dunia Internasional Terhadap Upaya Kudeta di Turki