Home / Narasi Islam / Sosial / Berterima Kasihlah

Berterima Kasihlah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: cahayaislam.net)
Ilustrasi. (Foto: cahayaislam.net)

dakwatuna.comBerterima kasihlah untuk kebaikan yang kita dapatkan. Sekecil apa pun itu di mata kita. Karena, hakikatnya ia adalah kemurahan dan kasih sayang Allah yang diberikan-Nya kepada kita melalui orang lain.

Berterima kasihlah atas kepedulian orang lain yang kita terima. Itu merupakan bentuk perhatian Allah atas persoalan yang kita hadapi melalui orang lain. Kala kita menemui masalah berat, lalu ada orang-orang di sekitar kita yang mau sedikit memberikan bantuan, atau ikut meringankan beban kita, atau ikut memikirkan jalan keluar bagi kita. Semuanya adalah bentuk kasih sayang dan kecintaan Allah kepada kita.

Berterima kasihlah atas kebaikan orang lain yang mau berbagi dengan kita. Berbagi sedikit rizki. Mungkin ”hanya” berupa sebutir permen di saat rehat kantor. Mungkin ”hanya” berupa sepotong kue yang dibawa teman sebagai oleh-oleh sehabis pulang kampung. Mungkin ia ”hanya” berupa sejumput nasi bungkus yang dimakan ramai-ramai saat acara santai bersama. Mungkin ia ”hanya” berupa segelas air putih yang diambilkan teman saat kita makan siang bersama. Mungkin ia ”hanya” berupa sandal jepit yang dipinjamkan rekan kita saat mau berwudhu. Itu semua adalah mozaik kebaikan Allah yang tersusun demikian rapi dan indah dalam hidup kita. Kita mendapatinya dalam bentuk serpihan-serpihan kecil kebaikan-kebaikan orang lain di sekitar kita. Apakah kita menganggapnya hal sepele belaka, yang terlalu besar untuk diperhatikan secara serius bahkan diterimakasihi sedemikian rupa?

Tidak, saudaraku. Mungkin kita menganggap sepele. Tetapi Allah tidak pernah menganggap sepele setiap kasih sayang yang Dia berikan kepada segenap makhluk-Nya. Dia Mahabesar, tidak mungkin melakukan hal-hal yang sepele atau sia-sia. Dia lakukan semua itu sebagai bukti kebesaran dan keagungan-Nya. Justru penyikapan secara sepele kita menunjukkan kekerdilan jiwa dan kepicikan mental kita. Hanya orang yang berjiwa dan bermental besarlah yang bisa menganggap besar kebaikan-kebaikan orang lain yang diterimanya. Meskipun dalam ukuran orang lain, sesuatu yang kecil.

Jika kita berjiwa besar, maka kita akan selalu menyikapi setiap kebaikan sebagai sesuatu yang besar yang pantas diterimakasihi. Dan itu adalah salah satu wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT. Karena hakikatnya kebaikan-kebaikan itu milik Allah saja dan dari-Nya semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah.” (QS. An-Nisa: 79).

Mental kerdil tidak pernah bisa melihat nikmat yang besar. Apa pun yang diterima dan didapatkan, selalu kecil dalam pandangannya.  Baginya, tak ada alasan untuk bersyukur. Selalu merasa kurang. Kurang besar. Kurang banyak. Kurang puas. Lalu, manakah yang akan membuatnya merasa puas? Jika pun ia diberi harta satu lembah emas, demikian yang digambarkan Rasulullah SAW, niscaya ia akan meminta lembah yang kedua. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiyallahu ’anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Seandainya seseorang mempunyai satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan dua lembah, dan tidak akan merasa puas kecuali tanah sudah memenuhi mulutnya.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya, ”Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? Yaitu api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (QS. Al-Humazah: 1-9).

Ucapan terima kasih bukan semata-mata terbatas pada dua kata yang pendek itu saja. Ia memiliki makna yang dalam, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kebaikan orang lain kepada kita. Bahwa Allah sudah menggerakkan hati orang-orang itu untuk berbuat baik kepada kita. Bahwa Allah sudah melimpahkan kebaikan-kebaikan itu kepada kita melalui orang-orang di sekitar kita. Maka, kesalehan kita salah satunya diukur dari sejauh mana kita mampu menunjukkan rasa terima kasih kepada orang lain. Tidak sebatas kata-kata di mulut. Juga bukan sebatas tulisan yang tertera pada ”ucapan terima kasih” atau piagam penghargaan. Tetapi ungkapan penghargaan yang datang dari nurani kita, dari perasaan terdalam kita atas kebaikan orang lain kepada kita.

Marilah kita belajar dari orang-orang pilihan Allah tentang bagaimana berterima kasih. Seperti yang diabadikan Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam Al-Quran, tentang bagaimana Nabi Syu’aib Alaihis salam berterima kasih kepada pemuda Musa yang telah membantu kedua putrinya mengambilkan air di sebuah sumur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu. Ia berkata, ’Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami’.” (QS. Al-Qashash: 25).

Nabi Syu’aib, seorang dengan predikat Nabi, tidak cukup berterima kasih dengan titip ucapan melalui putrinya saja. Ia bahkan mengundang Musa agar bisa secara langsung mengucapkan kata-kata terima kasih itu kepadanya. Bahkan undangan itu pun ia lakukan karena ia tidak bisa datang sendiri menemui sang pemuda karena kondisinya yang sudah renta dan uzur. ”Bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya,” demikian putri Nabi Syu’aib melukiskan kondisi ayahnya (QS. Al-Qashash: 23).

Kita lihat pula bagaimana keteladanan Nabi Sulaiman Alaihis salam tentang rasa syukurnya yang mendalam atas segala kelebihan dan nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya, ”Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ’Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh’.” (QS. An-Naml: 19).

Nabi Sulaiman bahkan menjadikan kemampuan bersyukur sebagai harapannya yang senantiasa dimohonkan kepada Allah, agar itu menjadi bagian dari kepribadiannya. Ternyata bahwa sikap-pandai-bersyukur adalah salah satu nikmat yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya, setelah nikmat pertama yang kita syukuri itu. Jika bukan, bagaimana mungkin Nabi Sulaiman meminta itu secara khusus kepada Allah.

Begitu pula betapa besar rasa syukur junjungan kita, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam, yang diungkapkan dengan banyaknya qiyamu lail yang beliau lakukan setiap malam. Ketika istri beliau, A’isyah radhiallahu ’anha menegur beliau karena sepanjang malam shalat hingga bengkak kedua kaki beliau, padahal telah sampai janji Allah yang akan mengampuni kesalahan beliau baik yang terdahulu maupun yang akan datang, maka Rasulullah pun menjawab, ”Tidak selayaknyakah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menjadikan kesyukuran itu mewujud dalam bentuk ibadah kepada Allah dengan shalat tahajjud setiap malam. Ini mengajarkan kita bahwa ibadah bukan semata penunaian kewajiban, tapi juga merupakan ungkapan rasa cinta, rindu, dan syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah berbagai ungkapan terima kasih dan rasa syukur dari manusia-manusia pilihan Allah yang diajarkan kepada kita. Inilah ungkapan perasaan yang diliputi keimanan, bahwa ungkapan terima kasih itu bukan sebatas dua kata yang meluncur dari mulut kita yang boleh didengar boleh tidak, atau hanya sebatas pemanis bibir agar tidak dibilang sombong. Tapi ia adalah bahasa hati, yang dengannya kita menghayati makna kesyukuran itu kepada Allah Yang Maha Pemberi.

Maka marilah kita belajar dari para pendahulu kita tentang makna syukur dan terima kasih itu. Kepada siapa saja yang telah menjadi perantara sampainya kebaikan Allah kepada kita. Maka, ungkapkanlah terima kasih yang tulus kepada keluarga kita. Kepada istri kita yang dengan sepenuh perhatiannya telah menemani dan mendampingi kita dalam suka dan duka. Telah mau berbagi dalam sedih dan gembira kita. Telah mau bersama-sama memikul beban hidup kita, dalam mengurus rumah tangga, dalam membesarkan dan merawat anak-anak kita, dalam menyelesaikan berbagai urusan kita. Tanpa istri kita, mustahil kita seberhasil sekarang. Di balik kesuksesan seorang suami, di lapangan kehidupan apa pun, selalu ada peran besar yang menjadi penyangga dan penopangnya. Dialah sang istri.

Coba kita bayangkan. Seorang ustadz yang ceramah-ceramahnya begitu memukau jamaah, sempatkah ia menyiapkan materi ceramahnya jika selalu disibukkan dengan urusan menyiapkan sarapan, mencuci, menjaga anak-anak agar tidak ribut, dan seterusnya, segala urusan rumah? Bayangkan pula, bisakah seorang politisi menyusun berbagai konsep, menyiapkan rancangan peraturan atau undang-undang, merumuskan berbagai keputusan penting untuk kehidupan rakyat banyak, bila tidak ada istri yang membuatnya bisa berkonsentrasi menyiapkan itu semua? Bayangkan pula, bisakah seorang direktur perusahaan menyusun strategi perusahaannya dalam meraih profit jika saja setiap malam ia harus mengurusi ompol balitanya, menyiapkan menu makan malamnya, atau mengurusi keperluan sekolah anak-anaknya?

Itulah istri. Orang terdekat yang begitu banyak kebaikannya kepada kita, namun kehadirannya lebih sering dianggap biasa saja hingga kita jarang secara sengaja memberikan penghargaan kepadanya, bahkan sekadar ucapan terima kasih padanya.

Maka, ucapkanlah terima kasih yang tulus kepada istri kita. Ungkapkan rasa terima kasih kita kepadanya dengan sepenuh hati dan penghargaan. Kehadirannya adalah karunia Allah kepada kita.

Bersambung

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ayah dari tiga orang puteri (Asma, Waffa, dan Aisyah). Lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kini tinggal di Bogor.

Lihat Juga

Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3). (Foto: viva..co.id)

Terima Kasih, PKS