Home / Pemuda / Essay / Jalanku yang tak Sebaik Jalan Kalian

Jalanku yang tak Sebaik Jalan Kalian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pheezank.blogspot.com)
Ilustrasi. (pheezank.blogspot.com)

dakwatuna.comMengenal dakwah bagiku adalah sebuah anugerah, Betapa banyak manfaat yang didapat dan betapa luar biasa hikmah yang ada dibalik perjalanan dakwah ini.

Masa itu, Aku masih duduk di bangku SMA. Masa yang labil dan penuh godaan bagi ku. Lingkungan yang beragam adalah tantangan terberat. Masa SMA aku memang tidak begitu mempedulikan pergaulan tapi lebih focus kepada pelajaran, bagaimanapun papa dan mamak telah bersusah payah menyekolahkan ku maka tak pantas rasanya jika ku abaikan amanah itu. Ketika itu aku belum mengenal apa itu tarbiyah apa itu dakwah dan apa itu Rohis. Aku mengenalnya ketika kakak pertama ku yang berkuliah di IAIN SUMUT. Waktu pertama kali aku melihatnya pulang ke kampung dengan mengenakan jilbab besar sempat membuat ku heran. Tapi aku tak berniat untuk menanyakan perihal itu. Aku lebih suka membahas oleh oleh yang dibawanya, salah satunya adalah buku. Ya… kakak ku punya banyak buku katanya harganya murah murah di sana. Jelas murah buku buku itu dibelinya di “titi gantung” sekarang lebih dikenal dengan jalan Stasiun kereta api atau jalan Merdeka Walk. Di sana banyak terdapat buku-buku bekas dan harganya sudah pasti murah-murah.

“Kak bawa buku gak?”

“Bawa tuh di tas kakak”

Kali ini dia membawa beberapa majalah “Annida”. Awalnya aku tak mengerti perihal majalah itu. “Pasti membosankan “ pikirku.

Walau begitu, aku tetap membaca majalah itu, halaman demi halaman ku jajaki dan setiap segment nya ku baca hampir tak ada yang terlewatkan.

Begitu banyak istilah yang baru ku dengar.

“Mujahid, dakwah, tarbiyah, akhwat ikhwan dan banyak lagi istilah istilah yang tak ku mengerti”

Aku pun menanyakan kata- kata itu kepada kakak. Dan dengan sabar dia menjelaskan nya pada ku. Aku pun mulai tertarik dengan majalah itu. Dan aku pun akhirnya tertarik kepada istilah “ROHIS” yah… itulah kata kata yang mengantarkan ku kepada jalan dakwah ini. Profil Rohis sekolah salah satu segment yang ada di majalah itu. Ya…kalau tidak salah begitu. Atas ketertarikanku itu aku pun bertanya kepada kakak ku. Dan dia menjelaskan tentang apa itu Rohis. Terbesit di kepalaku untuk mendirikannya di sekolah ku.

Bagai gayung bersambut, saat itu aku naik ke kelas 3. Aku berkenalan dengan beberapa teman baru yang sebelumnya kami tidak sekelas. Ketika itu seorang guru baru berpenampilan berbeda, penampilannya persis seperti penampilan kakak ku, beliau menghampiri kami. Subhanallah, dia mengajak ku dan teman teman ku untuk mendirikan ROHIS. Alhamdulillah, keinginanku terwujud. Walau tak seperti yang ku bayangkan, Rohis berjalan apa adanya dan aku berfikir ini tidak seperti Rohis yang aku baca, bukan karena mentor atau sistem nya yang salah, tapi karena teman temanku yang tak seperti yang diceritakan kakak ku. Temanku masih mau merokok di luar jam sekolah, masih mau pacaran hufhhht, tapi anehnya mereka senang dengan agenda agenda Rohis yang dibuat oleh pementor kami. Walau demikian Rohis telah menjadi trend ketika itu. Event event perayaan hari besar Islam yang sebelumnya tidak pernah diadakan ketika itu menjadi ada di sekolah ku. Dan banyak lagi hikmah lain berkat adanya Rohis di sekolahku.

Tapi itu tak lama, begitu fenomenalnya istilah Rohis di masa itu, seketika lenyap semenjak kami lulus dari SMA itu. Pementor sekaligus guru kami yang mendirikan Rohis ketika masa kami pun merasa sudah tak sanggup lagi karena tak ada siswa yang mendukung kegiatan itu, aku dengar begitu. Dan benar saja beliau pun kemudian dipindah tugaskan ke daerah lain, maka jadilah sekolah ku tak lagi memiliki ROHIS.

Setelah lulus SMA aku pun diterima di perguruan tinggi Negeri di provinsi ini, ketika itu aku memilih jurusan yang lumayan rumit bagi ku “FISIKA”. Semester awal, aku tak memikirkan kegiatan kegiatan lain selain belajar, belajar dan belajar. Aku tak mau prestasi ku merosot. Alhamdulillah usaha yang ku lakukan sesuai dengan hasil yang ku dapat. Tahun ke dua aku di sana barulah aku mengiyakan ajakan kakak kakak senior ku di jurusan itu. Aku pun mulai aktif di UKMI (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam). Ketika itu aku ditempatkan di staff keputrian. Ketika itulah aku merasakan manisnya tarbiyah, indahnya dakwah dan begitu luar biasanya ukhuwah.

Tahun terakhir kuliah akupun mulai menemui kendala, antara Fokus menyelesaikan skripsi, kerja sebagai tentor (tentu aku tak mau menjadi mahasiswa yang lama tamat, aku tak mau mengecewakan mama dan papa yang bersusah payah mengirimkan biaya kuliah untukku) aku tak lagi aktif di kegiatan dakwah. Aku jarang muncul di masjid kampus, aku memilih shalat di mushalla jurusan dan sibuk menjumpai dosen pembimbing skripsi. Ternyata ALLAH berkehendak lain, di saat aku ingin mengejar target tamat 4 tahun. Di saat itulah aku di uji, aku pun jatuh sakit yang membuat ku harus beristirahat berbulan –bulan. Semua target ku pun musnah, aku tak lagi punya harapan untuk selesai dalam waktu yang cepat.

Berlama-lama dalam keadaan sakit, berlama lama jauh dari lingkungan tarbiyah, berlama-lama jauh dari ibadah sunnah yaumiyah karena tak ada yang mengingatkan. Membuat iman ku lemah dan mudah terperangkap jerat syaithon. Na’udzubillah.

Ketika itulah aku mulai kesal dengan teman –teman ngajiku,

“Ke mana mereka saat aku begini? “

“Tak tahukah mereka aku sakit?”

Sekali lagi mereka hanyalah manusia dan aku tak pantas berharap pada manusia, harusnya aku berkaca pada diri sendiri. Mungkin ini lah akibat aku menjauhkan diri dari dakwah demi cepat wisuda.

Ketika itu hari hariku terasa hampa dan aku pun terjatuh ke perangkap yang cukup jauh.

Tapi untungnya Allah segera mengingatkan ku dengan cara Nya. Walau cukup ekstrim tapi aku benar benar tertampar dan tersadar. Setelah sembuh dari sakit ku aku segera menyelesaikan kuliahku dan aku pun menjauh dari apapun itu karena merasa malu dan aku ingin segera berlari lalu menghilang dan kembali lagi dengan wajah yang baru. Itulah yang ada di benakku ketika itu.

Akhirnya 3 tahun yang lalu aku wisuda tepat waktu di usia yang sangat muda.

Aku memilih pulang kampung walau banyak tawaran kerja yang menghampiriku di Medan.

“Aku ingin menjauh dari kenangan buruk yang ada disini” pikirku.

Allah begitu sayang padaku,

Tak lama di kampung aku langsung ditawari mengajar di sebuah yayasan pendidikan yang di bawah asuhan kader dakwah. “Alhamdulillah” aku tak dijauhkan dari lingkungan dakwah.

Aku pun langsung diterima sebagai staff pengajar di situ. Ketika itu aku merasa terlahir kembali, aku pun memulai perjalanan ini dari awal lagi, memperbaiki diri yang kotor, menempel hati yang berlubang, dan banyak lagi. Demi menjadi pribadi yang shalihah. Itulah mengapa aku bertahan di sana, sebab aku merasa terjaga di lingkaran itu.

Perjalanan dakwahku yang seujung kuku, aku lakukan apa yang bisa ku lakukan, aku jalankan amanah sebaik yang ku bisa. Semata untuk menebus kesalahanku dan untuk kebaikan diriku dan karena lillahi ta’ala.

Allahu Akbar wa lillahilhamd.

Begitu luar biasanya Allah menjadikan skenario hidupku.

Aku tak bisa bayangkan andai aku bekerja ditempat lain dengan lingkungan yang tak seperti ini dan jauh dari lingkaran dakwah ini. Tapi Allah masih sayang padaku.

Aku ingat betul kata murabbi ku dulu, saat aku menangis dihadapannya karena merasa bersalah.

“Orang yang jatuh lalu mau bangkit dari jatuh nya dan berlari kembali mengejar ketertinggalannya itulah yang dikatakan orang hebat. Dan adik sudah melakukan langkah awal dari kehebatan itu dengan cara meninggalkan dan menyesalinya”

Bukan Karenna ingin dikatakan hebat tapi karena aku ingin menjadi lebih baik.

Sungguh dakwah ini begitu indah, ketika berjumpa dengan orang yang Qana’ah yang tak tinggi hati karena kedudukan dan tingkatan pemahamannya.

Dakwah begitu indah ketika orang yang berkain putih tak segan memeluk temannya yang berlumpur.

Dakwah begitu indah ketika berjumpa dengan saudara yang begitu sabar mencabut duri duri tajam di hati saudaranya tanpa saudaranya itu merasa tersakiti. Subhanallah.

Dakwah begitu indah ketika saudara yang satu menutup aib saudaranya yang lain, ia tak mengumbar tapi mendekati dan mentabayun dengan kelembutan hati bukan emosi diri.

Dan dakwah ini begitu indah ketika saudara yang satu bersusah susah mendukung saudara yang lain, tanpa meminta imbalan , itu dilakukan demi satu tujuan yakni terbentuknya masyarakat yang madani dalam ikatan iman Islam dan ihsan yang hakiki.

Selamat ku ucapkan kepada saudara-saudara ku yang terbangun di tengah malam mendoakan saudaranya yang lain, padahal ia bukan siapa-siapa dan ia tak mendapat apa apa walaupun secuil harta.

Semoga ALLAH meneguhkan hati kalian dan hati ku di jalan dakwah ini.

Sungguh kita di sini bukan karena ingin dipandang hebat tapi karena ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Dan semoga hakikat dakwah akan tetap murni di tangan para jiwa yang bermujahadah.

Seorang murabbi mengatakan kepada mutarabbinya,

“Orang- orang yang mengotori dakwah ini akan terseleksi dengan sendirinya. Bukan manusia yang menyeleksinya tapi Allah, maka bukan kita yang meninggalkan dakwah ini tapi dakwah ini lah yang akan meninggalkan kita, jika kita tidak benar benar dijalan ini.”

Aku berazzam, sampai ajal menjemput aku ingin tetap berada di jalan dakwah ini.

Allahu a’lam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi - Monas dan Masjid Istiqlal di kejauhan. (city_data.com)

Ijtihad Shalat Jumat di Monas

Organization