Home / Berita / Nasional / Melacak Berdirinya NKRI Melalui Buku “Laskar ulama, santri dan resolusi jihad”

Melacak Berdirinya NKRI Melalui Buku “Laskar ulama, santri dan resolusi jihad”

Cover Buku Laskar Resolus Jihad (Foto: kidsklik.com)
Cover Buku Laskar Resolus Jihad (Foto: kidsklik.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Peran perjuangan ulama dan santri dalam mengusir penjajah dari tanah air Indonesia dipandang telah tersisihkan, bahkan nyaris tidak tertulis dalam buku sejarah nasional.

“Kalau sejarah ini tidak ditulis, maka dipastikan generasi ke depan akan lupa sejarah, dan bahkan tidak mengerti pentingnya sejarah,” ujar Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), KH As’ad Said Ali saat peluncuran buku “Laskar ulama, santri dan resolusi jihad” di Gedung Joeang, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (3/1).

Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh NU, pejabat dan ratusan warga nahdliyin di antaranya Prof. Dr. Nasaruddin Umar (Wamen Kemenag), H As’ad Said Ali (Waketum PBNU), Ali Maskur Musa (Ketua ISNU), KH Syaifuddin Amsir, Munim DZ (Wasekjen PBNU), Wakil Menteri PDT, dan para tokoh lainnya.

Menurut As’ad Ali, buku laskar ulama santri ini sangat fenomenal dan harus dibaca oleh generasi saat ini karena menyebut data-data akurat para kiai, ulama dan santri yang terlibat dalam perjuangan melawan penjajah.

“Kesimpulannya, buku ini bisa melacak perjuangan berdirinya NKRI bahwa Indonesia bukan negara sekuler, tapi negara nasional relegius yang tidak dimiliki oleh negara lain,” terang As’ad.

Dalam perjuangannya, masih kata As’ad, perjuangan para ulama dan santri tidak pernah padam melawan kolonial sejak zaman perang Diponegoro. Kemudian para santri meneruskan perjuangan para ulama seperti Kiai Abdul Salam Jombang, Kiai Umar Semarang, Kiai Abdurrouf Magelang, Kiai Yusuf Purwokerto dan masih banyak santri lainnya.

“Jadi bagaimana perjuangan para santri dan ulama dalam mengusir penjajah,  kita bisa mengerti dan mengikuti nilai-nilai yang ditinggalkan para leluhur kita,” katanya.

Sementara itu, dalam testimoninya, anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Ali Masykur Musa mengapresiasi penulis buku yang menyajikan data dan karya penelitian secara apik.

“Buku ini penting sekali untuk anak-anak muda sekarang, karena sudah banyak yang melupakan sejarah,” tutur Masykur.

Ali menambahkan, buku seperti ini menjadi penting lantaran sekarang banyak orang yang mencari momen jihad dalam konteks Islam kekinian dan kenegaraan.

Selain di Jakarta, buku ini juga akan dibawa keliling dalam agenda Road to Pesantren dan Goes to Campus di 40 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. (rmol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Jusuf Irfan

    Semoga Allah SWT mudahkan untuk sampai di Maluku (Jazira Al Mulk)

  • limadaya

    Admin, Dimana bisa dapatkan buku (pesan) krn sy domisili di Babel.

  • iwan hernawan

    mudaah-mudahan tidak hanya kiayi jawa saja yang dikupas. dari Sunda, Aceh, Sulawesi, bali, senusantara ada kalau belum dilengkapi lagi. salam super buat penulis buku ini.

  • Wila Salam

    Ini membuktikan bahwa yg menggerakkan bangsa ini menjadi bangsa yg merdeka dirintis oleh para ulama dan santri, sebab hanya dalam islam lah ada kewajiban dalam melawan kedholiman (penjajah/kafir). Tapi bangsa ini kemudian mengalami kehancuran kemunduran moral, eknomi dan tatanan hidup sebab setelah negara ini tegak berdiri, mereka yg duduk di kursi kekuasaan memakai hukum kufur, hukum yg bukan berasal dari perintah Allah.
    “…Siapapun yang tidak memutuskan perkara menurut apa yg diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir…dholim…fasik” (Q.S. Al-Maidah 44, 45 dan 47)
    “…hendaklah memutuskan perkara menurut apa yg diturunkan Allah, barang siapa yg berpaling, maka Allah akan menimpakan musibah…” (Q.S. Al-Maidah 49)

Lihat Juga

Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc, saat menyampaikan kuliah perdana di STIBA Makassar, Senin (29/8/2016). (syahrul qur'ani)

Didin Hafidhuddin: Ulama adalah Problem Solver, Bukan Problem Maker