Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Catatan Penting dalam Menceritakan Kisah Nabi dan Rasul pada Anak

Catatan Penting dalam Menceritakan Kisah Nabi dan Rasul pada Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Nabi Ismail anaknya siapa?
Sepulang sekolah kakak bercerita:
“Mi tadi bu guru cerita nabi-nabi”
“Nabi siapa kak?”
“Nabi Ismail Mi ”
“Kakak tanya-tanya sama bu guru gak tentang nabi Ismail?”
“Nggak …”
“Ya sudah Umi yang tanya, Nabi Ismail itu anaknya siapa Kak?”
“Bu Husen” jawab kakak enteng.
(pemilik warung kelontong dekat rumah yang anaknya bernama Ridwan, Yusuf dan Ismail)

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Penting untuk menceritakan kisah para Nabi dan Rasul pada Anak-anak. Banyak pondasi penting tentang aqidah, Ibadah, akhlaq, dakwah dalam kisah tersebut yang bisa memberi kekuatan pada jiwa anak. Kisah Nabi dan Rasul menjadi penting dan istimewa untuk diajarkan pada anak-anak kita, karena ada aspek keimanan di dalamnya. Sebagai umat Islam kita tidak hanya dituntut untuk mengetahuinya, namun meyakini, mengambil pelajaran/ibrah dan meneladaninya. Namun ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan dalam menceritakan kisah tersebut pada anak-anak kita:

1. Tentang tahap perkembangan kognitif Operasional kongkret (Piaget)

Anak-anak memiliki pemahaman yang terbatas terhadap realitas dan konsep. Pada tahap ini anak lebih mudah memahami konsep yang abstrak dengan cara-cara yang lebih nyata, bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dilakukan. Namun pada tahap ini anak-anak sekaligus memiliki Imajinasi yang tinggi.

Kisah nabi dan Rasul adalah kisah tentang orang-orang yang telah wafat, yang tidak hidup pada zaman sekarang, melibatkan banyak mukjizat yang kadang sulit dipahami bahkan oleh orang dewasa. Karena itu menceritakan kisah nabi dan Rasul sebenarnya adalah tantangan tersendiri bagi guru dan orang tua. Bagaimana memilih kata-kata yang lebih bisa dipahami, ekspresi yang berkesan dan membuat kisah tersebut ‘masuk akal’ dalam logika anak-anak.

Tantangan lainnya adalah bagaimana menjadikan kisah Nabi dan Rasul menjadi menarik dan memotivasi anak-anak untuk meneladaninya. Di sisi lain, anak-anak yang kadang terlanjur akrab dengan berbagai tontonan animasi dan superhero yang merupakan rekayasa kreatif manusia.

2. Berikan Jawaban Yang benar dan Tepat

anak-anak sering menyela dan mengajukan pertanyaan yang membantu mereka lebih memahami cerita tersebut, tapi seringkali membuat bingung guru dan orangtua untuk memberikan jawaban yang tepat, misalnya:

“Nabi itu berarti bapak-bapak?” (berikan jawaban iya).

“Seperti abiku?” (jangan berikan jawaban iya- karena anak bisa mengasosiasikan semua sifat dan karakter dengan abinya, yang bukan nabi).

Jawaban: “nabi bukan anak-anak, bukan ibu-ibu” (barangkali lebih tepat, karena mungkin anak hanya ingin mengkonfirmasi sosok nabi ke dalam figur yang lebih dipahaminya. orang tua perlu berhati-hati agar bisa memberi jawaban yang benar dan tepat. karena itu orang tua dan guru juga harus rajin belajar lagi

3. Tunjukkan Dalam Kehidupan Nyata

Kata-kata dakwah, bersabar, mengesakan Allah, tidak menyekutukan Allah banyak diulang dalam kisah nabi dan Rasul. Agar anak-anak lebih memahami kata-kata abstrak ini, maka penting bagi orang tua untuk ‘menunjukkan contoh kongkret’ dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika setelah kita menegur teman anak yang makan sambil berlari dan pakai tangan kiri agar duduk dan pakai tangan kanan; kita bisa mengatakan: ‘mengingatkan teman seperti itu tadi juga namanya dakwah” (bisa dieksplorasi lagi dengan contoh lainnya).

Intinya, anak-anak akan lebih mudah memahami makna sabarnya Nabi dan Rasul dalam mengingatkan umatnya, jika umi abinya juga sabar dalam mendidik anak-anak, tidak cepat marah dan menghukum jika anak-anak salah dalam belajar. Jadi, pada akhirnya bukan hanya kita yang ‘mengajari’ anak-anak. Tapi sesungguhnya kita pun harus jadi contoh pertama dan utama yang bisa mengambil hikmah dan menerapkan intisari kisah itu sebagai ‘pembelajaran nyata’ bagi anak.

4. Berikan “Penekanan” yang tepat

Hampir semua kisah Nabi dan Rasul pada akhirnya terdapat kisah maksiat, azab, murka Allah pada umat yang durhaka. Jangan sampai kita terlalu ‘melebih-lebihkan’ penekanan pada hal ini maka dalam pengertian anak akan muncul anggapan yang salah, misalnya” kok Allah suka marah dan menghukum terus?”. Padahal hukuman dan azab itu turun setelah dakwah pada waktu yang lama; Selama ratusan atau puluhan tahun. Padahal di sisi lain anak belum punya pemahaman yang cukup tentang konsep angka. “Ratusan tahun itu seperti apa?”. Jadi jangan sampai kita justru melupakan penekanan yang penting pada: kesabaran Para Nabi dan Rasul, bagusnya akhlak mereka pada manusia, sifat-sifat utama seperti kejujuran, kerja keras, kasih sayang yang besar, ketaatan, keberanian.

5. Variasikan Metode

Kakak menggeser sofa dan meja sedemikian rupa dan mengajak mas azzam sambil berteriak-berteriak: “ayo naik, sebentar lagi banjir”. Ini pura-puranya kapal nabi Nuh, sambil mengangkut naik mainan binatang dan boneka ke atas sofa. Metode bercerita tidak melulu dengan kata-kata, menggunakan simulasi, permainan, boneka tangan, air, pergi ke tempat yang pembuatan patung (thematic outing) juga bisa jadi metode yang baik dan asyik agar anak lebih memahami cerita nabi dan Rasul tersebut. Tentu saja metode yang bervariasi ini akan lebih berkesan, diingat dan menyenangkan bagi mereka. Be creative!

6. Bertahap dan Lakukan Pengulangan

Memahami 25 kisah nabi secara sekaligus tentu bukan hal yang mudah bagi anak-anak. Orang tua dan guru perlu mengatakan bahwa “cerita ini belum lengkap semua, masih ada kelanjutannya”. Penyampaian (episode) kisah perlu menyesuaikan dengan usia dan pemahaman anak, misalnya, saat menceritakan kisah Nabi Musa AS yang melakukan kesalahan dengan membunuh seorang lelaki, kisah homoseksual kaum sodom, kisah wanita-wanita yang sampai terluka jarinya karena ketampanan nabi Yusuf AS, relatif lebih tepat disampaikan saat usia anak menjelang baligh/SD bukan TK. Karena kisah ini memerlukan pemahaman yang lebih tinggi tentang konsep-konsep hubungan antar manusia, emosi, ketertarikan secara seksual dan sebagainya. Namun hal ini bukan berarti tidak menyampaikannya sama sekali, karena pada saat yang lebih tepat anak perlu diajarkan bahwa tabiat manusia memang bermacam-macam, bahwa manusia; bahkan nabi sekalipun pernah berbuat salah—terutama jika mereka mengikuti hawa nafsunya. Namun yang terpenting anak mengetahui bahwa mencegah diri dari kesalahan dan bertaubat adalah lebih utama. Selain itu anak harus memiliki kesadaran bahwa manusia dengan berbagai watak, tabiat dan perilaku buruk itu adalah realitas kehidupan, dan justru mereka perlu mendapatkan dakwah agar kembali ke jalan kebenaran.

7. Lakukan konfirmasi untuk mengecek pemahaman

Untuk mengecek pemahaman anak, kita bisa mengkonfirmasi dengan kuis, pertanyaan, perbandingan, asosiasi/kemiripan dan cara lainnya. Ini penting dilakukan agar anak memiliki pemahaman yang benar dan memastikan mereka mendapat ‘ibrahnya’.

8. Rangsang Rasa Ingin Tahu dan Keinginan Belajar yang lebih tinggi

Penting merangsang minat anak untuk tidak hanya menjadi pendengar, tapi pembelajar.

“Kakak pengen bisa membaca sendiri buku tentang Nabi yang umi pegang ini?”

“Iya aku pengen bisa baca huruf -hurufnya, nanti aku yang ceritakan sama azzam deh”. Nah kita bisa dapat momentum bahwa bisa membaca itu asyik, memberikan ‘kesadaran aksara’ sehingga suatu saat mereka akan minta: “mi, aku mau belajar baca”. Ingat bahwa menumbuhkan minat membaca harus lebih dulu ditumbuhkan sebelum mengajarkan keterampilan membaca. Anak yang bisa membaca dini belum tentu senang membaca. Menceritakan kisah- kisah dengan cara yang menarik, membiasakan anak membuka dan bertanya tentang buku-buku bergambar adalah cara-cara yang baik untuk merangsang minat baca anak.

9. Ajak mereka mencintai Al-Quran sebagai referensi utama

Orang tua dan guru punya tanggungjawab untuk menceritakan kisah Nabi dan Rasul dengan benar/shahih. Salah satu cara efektif untuk mengajarkan kisah nabi dan Rasul dengan Benar adalah dengan merujuk langsung pada Al Qur’an. Mengajak anak menghafal Qur’an, akrab dengan Quran sejak dini banyak sekali manfaatnya.

Kita bisa mengatakan ” cerita Nabi Musa AS ada di surat Al-Baqarah, artinya sapi betina”.

“Oya? di Al-Quran ada surat yang cerita Sapi mi?”, tanya kakak.

“Ada, ada yang cerita tentang sapi, gajah, semut, Unta…banyak”.

“Aku mau hafalan surat sapi, apa itu … Al-Baqarah, coba tunjukkan mi, yang mana … aku mau baca”.

Dengan demikian, kalaupun sempat ‘terjadi kesalahan bercerita’ pada waktu mereka anak-anak, kelak ketika mereka bisa membaca dan mencintai Qur’an mereka akan mendapatkan pemahaman yang shahih karena mengeceknya langsung pada sumber rujukan utama. Wallahu allam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 8,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu Rumah tangga, Ketua Komite PG/TK Alam Ar-Ridho Semarang, Penulis, Trainer dan Owner Lembaga Pelatihan dan Psikologi Terapan OASE INDONESIA.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November