Home / Berita / Opini / Ironi Negeri Tembakau

Ironi Negeri Tembakau

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Susi Susanti)
Ilustrasi. (Foto: Susi Susanti)

dakwatuna.comRiset dilakukan dalam rangka kegiatan ujian akhir sekolah Pesantren Taruna Panatagama Yogyakarta, yang memilih lokasi penelitian di wilayah Temanggung khusus nya daerah Bansari kecamatan Bansari, kabupaten Temanggung. Penelitian dilakukan selama kurang lebih 14 hari atau sekitar 2 minggu, dari tanggal 9 januari 2014 hingga 20 januari 2014. Penelitian ini mengambil Tema “Tobacco Farmer Productifity Sustainability” (TRUST) yang di memiliki peserta sebanyak 100 santri kelas 7 – 10 putra dan putri, dan di dampingi 20 ustadz dan ustadzah.

Pada penelitian sosial ekonomi ini, bertujuan untuk memahami potensi pengembangan pertanian di Temanggung, menemukan masalah yang dihadapi petani serta merumuskan konsep solusi dan rencana aksi. Penelitian sosial ekonomi ini, dilakukan dengan metode wawancara dan terjun langsung ke ladang dan dari rumah- ke rumah, peserta di wajibkan mewawancarai responden dengan kelompok masing-masing, dengan panduan borang yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah. Pertanyaan yang di susun berbeda setiap level kelas, jika kelas 7 dan 8 hanya sebatas mengindera dan menemukan inti masalah ekonomi, sedangkan untuk kelas 9 dan 10 akan di arahkan hingga tahap solusi serta rencana aksi yang harus dilakukan.

Dengan metode pembelajaran terjun langsung ini diharapkan santri dapat memahami problematika hidup orang pegunungan serta mau berempati atau peduli dengan kondisi sesama saudara di manapun berada, saat kami di sana bertepatan dengan hari maulid Nabi Muhammad Saw, seluruh penjuru sindoro mengeluarkan suaranya dari corong-corong pengeras suara masjid atau mushalla, Berlomba-lomba dalam bershalawat kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk pengabdian dan tanda syukur yang amat sangat. Walau masih terlihat sebagai sebuah agenda ritual, Desa Bansari ini dari sisi keagamaan menganut paham lurus, selama tidak menganggu hidup mereka dan tidak susah, masih bisa di toleransi.

Temanggung merupakan daerah pertanian. Hampir 70 persen dari 722.087 penduduk adalah petani. Berdasarkan data BPS Kabupaten Temanggung, Sektor ini menyumbang sekitar 34 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dari komoditas yang pertanian yang ada, tembakau menjadi salah satu andalan daerah ini. Secara ekonomis, Masyarakat Temanggung sangat tergantung dengan produk tembakau. Setiap tahun daerah ini menghasilkan sekitar 8.400 ton tembakau dengan harga rata-rata Rp70 ribu/kg. Sektor komoditas tembakau di Temanggung dapat menampung sebesar 23.618 pekerja yang tertampung dalam 3.290 perusahaan dan home industry pengolah tembakau.

Komoditas tembakau merupakan andalan bagi petani di Temanggung. Selain meningkatkan pendapatan petani, Tembakau menjadi multiplier effect dalam perekonomian regional. Saat musim panen tembakau, Pasar sangat bergairah. Hampir semua pusat perdagangan ramai dikunjungi orang. Transaksi jual beli barang/komoditas lain meningkat tajam. Di Temanggung, Tembakau berpengaruh terhadap pertumbuhan jenis industri lainnya, termasuk jasa, Penyediaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja. Menurut Bupati Temanggung, tembakau memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi kesejahteraan masyarakat Temanggung sehingga pemerintahannya tidak akan bermaksud untuk mengurangi tanam tembakau.

Dalam situasi ekonomi yang berfluktuasi, Industri hasil tembakau mampu bertahan, bahkan mampu memberi sumbangan yang cukup dominan. Dalam pengembangannya, Aspek ekonomi masih menjadi pertimbangan utama, karena jenis industri ini mempunyai multi efek ekonomi yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, tidak heran jika perekonomian di Temanggung sangat bergantung pada tembakau.

Kecamatan Bansari wilayah temanggung, Selain menanam tembakau para petani menanam beberapa tanaman Holtikultural seperti tomat, Cabai, dan kubis. Untuk menyambung hidup begitu yang di tuturkan pak Marto salah satu warga desa Bansari yang sempat diwawancarai.

Tembakau setelah panen di jemur di terik matahari, kemudian yang sudah kering siap jual, Biasa nya langsung di serahkan oleh tengkulak langganan. Harga nya jangan di tanya, Karena senantiasa berubah setiap waktu. Ketidakpastian harga tembakau di pasar maupun di tengkulak menimbulkan keresahan lama yang sering di keluhkan para petani. Dengan harga rendah. Di Desa Bansari terjadi ketimpangan, Yang membuat petani hanya bersikap pasrah dengan omset yang selalu tak menentu.

Keahlian serta pendidikan yang hanya di dapatkan turun temurun tentang pengolahan tembakau membuat petani hanya berjalan ditempat. Modal seadanya, hasil pun seadanya, ya cukup lah untuk hidup. Begitu kira- kira komentar pak Darto salah satu petani di Desa Bansari. Kondisi ini membuat seolah konsep demokrasi di negara ini tidak korelasi dengan prinsip-prinsip demokrasi. Di mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kontras sekali dengan para petinggi negara yang seolah tak pernah cukup mengambil uang-uang haram yang dinikmati tanpa dosa.

Terletak di antara Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Merapi seolah ganas dan kejam nya kapitalisme tak mampu membendung oleh gagah nya gunung-gunung sekitar. Tetap saja petani merasa dirugikan dengan hasil panen yang tak menentu dan mudah dipermainkan oleh para penguasa uang. Ya semua atas nama uang. Dari beberapa hasil wawancara, Diperoleh petani bisa saja menjual tembakau hasil panen dengan harga 5 ribu rupiah per keranjang, itu kondisi yang sangat parah. Petani tidak mampu melawan kejam dan bengis nya para tengkulak itu.

Tidak ada nya paguyuban atau organisasi para petani yang menjadi wadah untuk aspirasi petani ini lah, Yang menjadi sebuah problem. Para petani cenderung egois dan mau makmur sendiri, Hal ini dibuktikan dengan lumpuhnya paguyuban para petani di desa Bansari. Organisasi yang berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi para petani, sebagai ajang petani tidak berfungsi bahkan tidak ada. Sikap pasrah dan terima begitu saja dengan kondisi dan keadaan juga membuat mereka seakan enggan untuk mau bergerak, Sedikit melawan para tirani. “Ah saya sudah tua”

“Dulu sempat jalan, Namun tidak ada penerus”.

Jika sudah seperti ini, apa yang bisa di lakukan para petani yang mayoritas tidak sekolah karena menganggap ilmu bertani adalah ilmu pengalaman bukan di gali dari lembaga pendidikan. Petani hanya cukup sukses dengan beberapa recehan, Cukup dengan hanya seperti itu tidak ada pengembangan dari sisi pertanian dan keilmuan.

Ini merupakan fakta suatu sistem kapitalis yang bercokol di suatu negeri tembakau, dengan menerapkan harga sebagai satu-satunya penentu distribusi kekayaan kepada anggota masyarakat. Mereka mengatakan harga adalah pengendali yang menjadikan manusia ketika mengumpulkan dan mengkonsumsi barang bergantung pada batas yang sesuai dengan harga barang mampu membelinya. Dengan demikian, naiknya harga barang pada beberapa barang yang menurunnya harga barang-barang yang lain, serta turun naiknya daya beli terhadap suatu barang, menjadikan harga itu sebagai penentu distribusi kekayaan konsumen. Dengan begitu, bagian setiap orang untuk mendapatkan kekayaan dalam setiap orang untuk mendapatkan kekayaan dalam suatu negara tidak diukur berdasarkan kebutuhan primernya. Tetapi sebanding dengan nilai jasa yang d investasikan dalam memproduksi barang dan jasa artinya diukur dengan harta atau uang, atau diukur dengan kerja ataupun pengelolaan sejumlah proyek.

Sistem kapitalis benar-benar telah memastikan bahwa tidak layak hidup kecuali orang-orang yang mampu berinvestasi dalam proses produksi barang dan jasa. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk itu, karena mungkin dia terlahir dalam keadaan lemah atau karena dia dihinggapi kelemahan. (Taqiyudin an nabhani. Sistem Ekonomi Islam)

Memang dari sisi ekonomi mereka tertindas tetapi pangan begitu melimpah, Kekenyangan dan kemakmuran ini yang seolah membuat masyarakat Desa Bansari enggan untuk terlalu berat memikirkan masalah korupsi di Jakarta yang berada nun jauh di sana serta betapa Hebohnya ibu negara mengupload foto di instagram. Ah nampaknya para petani disibukkan dengan harga tembakau turun naik.

Sebuah ironi, besarnya gunung Sindoro yang gagah mampu memakmurkan para petani sekitar, yang membuat masyarakat Desa Bansari berada di zona kemakmuran pangan, Daerah subur makmur harus pasrah dengan kekejaman para tirani. Ini baru di daerah Bansari yang notabene wilayah penghasilan utama tembakau. Belum di daerah lain di kota lain dengan masalah kapitalis yang menjerat mengerucut pada satu persoalan besar yaitu, Rakyat terjebak lingkaran setan.

Susah selalu… senang kapan-kapan.

Revolusi pangan!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara Yogyakarta.

Lihat Juga

Narasi Negeriku II