Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Amanah Datang Meminangmu

Ketika Amanah Datang Meminangmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab 72)

Dari nash-nash Al-Qur’an dan sunnah di atas nyatalah bahwa amanah tidak hanya terkait dengan harta, kedudukan, dan kekuasaan belaka. Amanah merupakan urusan besar yang seluruh semesta menolaknya dan hanya manusialah yang diberikan kesiapan untuk menerima dan memikulnya. Jika demikian, pastilah amanah adalah urusan yang terkait dengan jiwa dan akal. Amanah besar yang dapat kita rasakan dari ayat di atas adalah melaksanakan berbagai kewajiban dan menunaikannya sebagaimana mestinya.

Sangat miris memang, sekarang ini banyak di antara ikhwah yang selalu menolak bila diberikan amanah. Ada banyak alasan tentunya, belum siaplah, masih memperbaiki diri, ada hal lain yang harus dipikirkan, gak sangguplah, sudah banyak amanahlah, takut keteteranlah, dan sebagainya. Tetapi sejatinya, ruhul istijabah (bersiap sedia & bersegera) itu harus kita latih mulai dari sekarang. Sehingga ketika amanah itu datang, tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya (selama amanah tersebut sesuai dengan syariat Islam).

Pada zaman dahulu, ada seorang murid yang datang pada seorang Ustadz. Beliau berkata, “Ya Ustadz, kenapa orang yang kau beri amanah hanya si Fulan B saja? Antum tidak adil pada Ana.

Dengan serta merta, ulama itu menjawab, “Tolong kau pindahkan meja yang besar itu sekarang”

Kemudian muridnya itupun menjawab, “Mana mungkin aku bisa, meja itu terlalu besar dan butuh lebih dari 10 orang untuk mengangkatnya”

Tak beberapa kemudian, lewat salah seorang murid yang mengantarkan buku untuk Ustadz tersebut. Ustadz pun langsung menyuruh si Fulan B untuk mengangkat meja tersebut. Tanpa banyak bicara, Fulan B pun langsung menyanggupi perintah dari ulama tersebut. Setelah beberapa jam, Fulan B pun kembali dan mengabarkan bahwa meja itu besar dan berat sekali. Ia hanya mampu memindahkannya 1 hasta saja. Butuh beberapa orang untuk bisa memindahkannya.

Ustadz tadi pun tersenyum dan mempersilakan Fulan B untuk pergi. Ustadz pun memberikan penjelasan kepada Fulan A. “Antum tahu apa bedanya Antum dengan Fulan B? Bedanya adalah ruhul istijabah (bersiap sedia). Dan ruhul istijabah itu lahir dari keimanan yang mendalam. Ketika ada masalah dengan amanah itu maka komunikasikanlah, kerahkan kemampuan terbesarmu dan juga orang-orangmu untuk membantumu”.

Mungkin cerita tadi bisa memberikan sedikit pemahaman pada kita bahwa kader dakwah saat ini seringkali menolak amanah tanpa mencobanya terlebih dahulu. Padahal amanah itu sejatinya datang dari Allah.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya… ” (An- Nisa’ [4]: 58)

Amanah yang ada pada kita sekarang bukan karena rekomendasi murabbi, usulan teman, ajakan senior, dan sebagainya. Tapi Allah telah memilih kita untuk memegangnya melalui perantaraan orang-orang tersebut. Dan Allah hanya memilih orang-orang khusus untuk mengembannya. Allah lah yang tahu kapasitas dan kemampuan diri kita bahkan lebih dari kita sendiri. Allah tidak akan mencoba hamba-Nya lebih dari kemampuannya. Salah satu cara Allah menjaga dan mencintai hamba-Nya adalah dengan menyibukkannya untuk melakukan hal-ha yang baik sehingga waktunya habis untuk berjuang di jalan Allah.

Untuk itulah saudaraku, bersiap sedialah… Perbesarlah pemikiran dan cita-cita sehingga pemikiran kita tak hanya meliputi hal dari ujung rambut sampai ujung kaki yang sifatnya hanya untuk kebutuhan pribadi saja. Tetapi berpikir dan bercita-citalah yang besar untuk kejayaan umat ini.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (At Taubah: 111)

Maka dari itulah, ketika amanah datang meminangmu, maka terimalah selama amanah itu sesuai dengan syariat). Lakukanlah dengan totalitas karena sejatinya amanah ini akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Juli Trisna Aisyah S
Mahasiswi Institut Teknologi Telkom, Bandung. Berada di lingkungan pendidikan yang cukup kondusif dan penuh seni. Seseorang yang sedang aktif di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan sedang berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta menebarkan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.

Lihat Juga

Ilustrasi (donna.fanpage.it)

Sebuah Nama