Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Road to White Generation

Road to White Generation

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Jika kamu dilawan dengan kata, balas lah dengan kata.
Jika kamu dilawan dengan tulisan, balas lah dengan tulisan.
Jika kamu dilawan dengan pemikiran, lawan lah dengan pemikiran.
Jika kamu dilawan dengan mafia hukum, lawan lah dengan ‘white generation’

Ilustrasi. (Foto: monohalizarmin.blogspot.com / Editiing: dakwatuna.com / hdn)
Ilustrasi. (Foto: monohalizarmin.blogspot.com / Editiing: dakwatuna.com / hdn)

dakwatuna.com – Sudah bukan masanya lagi kita sekadar menjadi pengamat apalagi pengkritik. Ini adalah masa di mana kemauan untuk berbenah dalam dunia hukum bertemu dengan momentumnya. Hari-hari ke depan kepercayaan masyarakat semakin teramputasi sebab kebobrokan para penegak hukum. Puncaknya bisa jadi saat mantan “Penjaga Konstitusi” Hakim Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan kita tidak tahu berapa banyak lagi para penegak hukum yang justru menjadi perusak hukum di negara -yang katanya negara hukum ini.

Apa itu white generation? White generation bukan sebuah phrase rasis yang menyudutkan segolongan ras tertentu. Tapi ia adalah sebuah proyek peradaban dengan visi kelangitan. Bila sering kita keluhkan kenapa para penegak hukum tidak ada yang benar, terlalu banyak kepentingan, haus akan kekuasaan, uang dan jabatan. Maka white generation adalah solusinya. Ia adalah telaga jernih bagi masyarakat yang sudah haus akan keadilan

Ia adalah sekumpulan orang-orang bergelar sarjana hukum yang berada di posisi-posisi strategis penegakan hukum dari ujung Pulau Sabang hingga Merauke. Ia bukan sembarang sarjana hukum melainkan sarjana yang mengemban nilai-nilai rabbani. . Ia adalah sekumpulan para penegak hukum yang diciptakan untuk -seperti surat An-Nisa ayat 135, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu…”

Bagaimana cara menciptakan generasi baru ini?

Bersabar adalah kuncinya. Sebab ia bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu-dua tahun. Ia adalah sebuah proyek beberapa generasi. Seiring dengan proyek pemberantasan korupsi, proyek penciptakan generasi baru ini juga panjang dan bertahap. Dimulai dari penjagaan moral mahasiswa-mahasiswa fakultas hukum di kampus-kampus pelosok tanah air ini. Tidak perlu diragukan kemampuan analisis undang-undang dan kefasihan berbicara. Itu adalah skill yang dipelajari di bangku-bangku kuliah.

Penjagaan moral biasanya diformulasikan dalam bentuk kelompok-kelompok mentoring keagamaan di fakultas/universitas. Namun sayang, dari beberapa survey yang penulis amati dan tanyakan di beberapa kampus besar di Indonesia, kebanyakan mahasiswa fakultas hukum tidak tertarik dengan metode dan konten dari mentoring itu sendiri. Maka rekonstruksi kurikulum mentoring adalah pekerjaan rumah bersama.

Kita harus membuat sebuah kurikulum mentoring yang tidak hanya berisi penguatan aqidah, akhlak dan tsaqafah Islam saja, tapi juga pembekalan dan penunjang kompetensi inti dari para mahasiswa itu sendiri, yaitu tentang dunia hukum. Selanjutnya adalah keteladanan dari berbagai pihak. Tanpa keteladanan, muatan apapun yang masuk ke otak manusia tidak akan sampai ke hati-hati mereka untuk kemudian bisa bergerak ke arah yang lebih baik. Lihat saja generasi terdahulu. Keteladanan Rasulullah lah yang membuat para sahabat begitu teguh dan istiqamah memperjuangkan kemuliaan agama ini.

Indonesia Optimis, seperti kata Anis Baswedan. Mari tumbuhkan semangat dan optimisme untuk memperbaiki moral dan integritas para calon penegak hukum negeri ini. Oleh karena itu kita harus memperbanyak jumlah muslim bergelar SH -sarjana hukum yang berkomitmen untuk menegakkan hukum. Agar tidak ada lagi fiksi yang terjadi di lapangan di mana banyak penegasian terhadap hukum-hukum Allah swt. Agar tidak ada umat Islam yang menyangsikan tegaknya hukum Allah swt melainkan ia percaya bahwa itu adalah sumber segala maslahat yang ada di bumi.

Ada satu ucapan dari seorang saudara se-iman saya di belahan bumi nun jauh di atas peta dunia. Seorang presiden mahasiswa pertama asal Indonesia di kampusnya, Kelowna, Canada, “This faith is practicefull and powerfull”

Yang terakhir adalah percaya bahwa pertolongan Allah akan turun kepada orang-orang yang berikhtiar hingga akhir. Sambil terus mendekatkan diri pada Allah untuk memancing datangnya pertolongan untuk mewujudkan Indonesia Madani.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Putri Sukma Mandiri.
Mahasiswi S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 2011. Peserta Beasiswa PPSDMS Nurul Fikri.
Organization