Home / Narasi Islam / Life Skill / Tujuh Cara Bersahabat dengan Al-Quran

Tujuh Cara Bersahabat dengan Al-Quran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: olx.com.my)
Ilustrasi. (Foto: olx.com.my)

dakwatuna.com “Bacalah Al-Quran karena dia akan datang memberi syafaat kepada para sahabatnya”. (HR Muslim)

Saat tak ada tempat bernaung dan pembela di hari yang maha sulit, ketakutan dan ketegangan melilit, azab neraka siap menggigit, Qur’an akan datang tanpa sulit dan rumit memberi syafaat di hari berbangkit kepada para sahabatnya pengikut Rasul pembawa risalah langit.

Inilah 7 cara yang harus kita gamit:

1. Imani

Yakin bahwa Qur’an adalah kitab yang turun dari Allah sebagai pedoman hidup. Tanda kita mengimani Qur’an di antaranya dibaca, dijadikan rujukan pertama dalam setiap masalah, jadikan sebagai hakim jika ada perselisihan.

Dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 121, Allah berfirman:

“Orang-orang yang telah kami beri kitab, mereka membacanya dengan sebenarnya, mereka itulah orang yang beriman kepadanya (Al-Quran) dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, mereka itulah orang yang merugi.” (Haqqo tuqootih= membaca dengan sebenarnya, memahami dan mengamalkannya)

2. Baca

Setiap hari jadikan membaca Qur’an sebagai kebiasaan yang turun temurun menjadi budaya yang mendarah daging. Serasa ada yang kurang jika belum baca Qur’an dalam sehari. Seperti kebiasaan makan dan minum. Sudah otomatis, ini adalah makanan ruhani.

3. Mempelajari tajwid

Untuk menghasilkan bacaan Qur’an yang baik, sebagai bentuk memuliakan kitab Suci, maka wajib membaca nya dengan tajwid yang benar, makhraj dan hukum-hukumnya agar kita membacanya sesuai dengan haknya, karena Qur’an  diturunkan dengan bahasa Arab, maka kita wajib membacanya seperti lidah orang Arab. (Yusuf: 2)

4. Mentadabburi

Berusaha memahami kandungannya, menikmati iramanya, untaian kata yang indah hikmah dan rahasia dari setiap huruf, pilihan kata dan ayatnya.

5. Menghafalnya dan muraja’ah

Supaya tertancap di dada, menjadi cahaya menerangi hati, inner beauty kecantikan dari dalam. Jadi teman kala sendiri, dalam perjalanan, dalam tahajjud, supaya hafalan senantiasa terjaga tidak gampang lupa.

6. Mengamalkannya

Ibnu Abbas didoakan Rasulullah supaya jadi ahli tafsir, memahami Al Qur’an, menyingkap rahasianya. Jadi orang yang paling paham Qur’an setelah Nabi.  Suatu hari datang tiga orang tamu dari tiga kota yang berbeda. Mereka mengadukan berbagai masalah kepada Ibnu Abbas.

Orang pertama mengadukan kampungnya yang kekeringan hingga banyak tanaman dan binatang yang mati dan penduduk yang terancam kelaparan. Lalu Ibnu Abbas menjawab: Istighfarlah!

Orang kedua datang dari dusun yang jauh minta dikaruniai keturunan. Jawab Ibnu Abbas: Istighfarlah!

Orang ketiga datang dengan masalah kekurangan harta alias kemiskinan. Jawab Ibnu Abbas: Istighfarlah!

Ketiga orang tersebut merasa dipermainkan oleh Ibnu Abbas. “Bagaimana mungkin tiga permasalahan yang berbeda kau beri solusi hanya dengan satu kata: “istighfarlah”

Ibnu Abbas menjawab: “silakan buka surat Nuh ayat 10-12.”:

“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Rabbmu sesungguhnya Dia maha pengampun. Niscaya pasti Dia turunkan hujan yang lebat kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”

Begitulah janji Allah istighfar akan menjawab tiga masalah berbeda. Jika kita mengimani ayat ini, dan mengamalkannya, niscaya hidup kita akan menjadi mudah dan lapang.

7. Mengajarkannya dan mendakwahkannya

“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang mempelajari Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi. Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

Salah satu sarana menjaga hafalan Qur’an adalah mengajarkan nya kepada orang lain. Secara tidak langsung kita akan mengulang-ulang bacaan kita ketika mengajarkannya. Otomatis ini merekam kembali dan membuat memori semakin terjaga baik dari kemungkinan lupa.

Mengajarkan Qur’an seperti menanam pohon kebaikan yang akarnya menancap kuat dan batangnya menjulang ke langit, daunnya lebat dan buahnya manis bermanfaat sehingga menyenangkan dan bermanfaat bagi orang banyak.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (Pohon itu) menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25)

Di Pakistan yang termasuk negara berkembang seperti di Indonesia, rakyatnya hidup dekat dengan Qur’an, harga daging dan susu terjangkau oleh daya beli masyarakat miskin, setiap tiga rumah ada satu penghuni yang hafal Qur’an. Negeri itu penuh berkah dari Qur’an yang dipegang teguh oleh penduduknya.

Bandingkan dengan Indonesia yang kaya raya bagai zamrud di khatulistiwa. Allah anugerahkan lautan yang luas, dengan ribuan pulau yang subur. Kata Koes plus ”Bukan lautan hanya kolam susu… tongkat dan kayu jadi tanaman…”

Namun bencana datang silih berganti, gempa, banjir, tsunami….oooohhh.

Penduduknya jauh dari Qur’an, banyak melakukan maksiat, hingga kemiskinan menyebabkan para wanita jadi TKW. Para suami jadi TKI mereka mengadu nasib tanpa perlindungan dan kepastian. Akibatnya anak- anak mereka tak terurus dan terdidik dengan baik.

Semoga tulisan ini memberi semangat kepada kita agar kembali bergaul dan bersahabat dengan Qur’an.

Nah inilah tujuh cara kita bersahabat dengan Qur’an supaya kita menjadi bagian dari para sahabat Qur’an yang akan mendapat syafaat di hari yang anak dan harta tidak  bermanfaat, kecuali amal shalih yang melekat dalam hidup yang singkat, di dunia yang menipu dan memikat, para hamba yang terjerat, hingga menyesal di akhirat, azab Allah melaknat, bagi orang yang maksiat.

Disarikan dari ceramah Ramadhan DR. Khairan M Arief MED di masjid Miftahul Jannah Jati Bening Dua tahun 1433 H.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 9,09 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu dengan 4 putra putri, 3 di antaranya sedang memasuki usia remaja. Mahasiswa STIU (Sekolah Tinggi Ulmu Usuluddin) jurusan tafsir hadits semester 3. Aktif mengajar majlis taklim, punya usaha rias muslim. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tarbawi di rubrik kiat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (twitter)

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?